Wednesday, 10 July 2013

ILMU NUZULUL QUR’AN


PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Sebelum diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, Al-Qur’an itu telah tetulis pada “Al-Lauhul Mahfudh”, kemudian Allah menurunkannya kepada Muhammad SAW yang berlangsung selama 22 tahun 2 bulan 22 hari yang terbagi pada 2 periode yaitu Makkah dan Madinah.
Sekali turun terkadang Rasulullah menerima 1 surat yang pendek dan terkadang hanya 1 atau beberapa ayat saja. Bahkan pernah hanya beberapa kata saja yang menjadi bagian dari satu ayat. Pada bab nuzulul qur’an ini akan dibahas pengertian nuzulul qur’an, tahap-tahap, waktu dan periodesasi turunnya dan pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Nabi dan para sahabat hingga sampai kepada seluruh umat muslim.

B.       Rumusan Masalah
1.        Apa pengertian Nuzulul Qur’an ?
2.        Bagaimana tahapan-tahapan turunnya Al-Qur’an ?
3.        Apa hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur ?
4.        Bagaimana waktu dan periodesasi turunnya Al-Qur’an ?
5.        Bagaimana pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Nabi dan para sahabat?


BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Nuzulul Qur’an
Dalam Ensiklopedi Islam[1] disebutkan bahwa ada 2 makna nuzulul Qur’an. Pertama, bahwa kata Nuzul berasal dari kata “ nazzala-yunazzilu” dengan makna konotatif yaitu turun secara berangsur-angsur. Kedua, kata nuzul berasal dari kata ”anzala-yunzillu” dengan makna konotasi menurunkan. Dua makna diatas sebagaimana yang diungkapkan Al-Qur’an relevan dengan turunnya Al-Qur’an.
Para ulama berbeda pendapat ketika memakai kata nuzul,inzal dan tanzil yang terdapat pada beberapa ayat diatas. Ada yang memakainya sebagai “idhar Al-Qur’an” yang berarti menampakkan atau melahirkan Al-Qur’an. Ada juga yang memaknainya bahwa Allah mengajarkannya kepada malaikat Jibril,baik mengenai bacaannya maupun pemahamannya, lalu Jibril menyampaikannya kepada Nabi Muhammad SAW yang berada di bumi.[2]
Ulama lain menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kata diatas adalah” al-I’lamu bihi” yaitu memberitahukannya. Penggunaaan istilah inzal,tanzil dan nuzul mengisyaratkan akan kebesaran dan ketinggian zat pemilik kalam yaitu Allah.[3]

B.       Tahap-Tahap turunnya Al-Qur’an
Secara kronologis,cara Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad dapat dijelaskan sebagai berikut:
a)        Tahapan pertama ( At-Tanazzulul Awwalu )
Tahapan pertama, Al-Qur’an diturunkan/ditempatkan ke Lauh Mahfudh. Yakni suatu tempat dimana manusia tidak bisa mengetahuinya secara definitif/pasti. Sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya: “Bahkan (yang didustakan mereka) itu ialah Al-Qur’an yang mulia yang tersimpan di Lauh Mahfudh”( Q.S. Al-Buruj:21-22)
Adapun hikmah dari tahapan pertama ini adalah seperti hikmah dari eksistensi Lauh Mahfudh itu sendiri dan fungsinya sebagai tempat catatan umum(arsip) dari segala hal yang ditentukan dan diputuskan Allah SWT dari segala makhluk,alam dan semua kejadian.
b)        Tahapan Kedua (At-Tanazzulu Ats-Tsani)
Tahapan kedua, Al-Qur’an turun dari Lauh Mahfudh ke Baitul Izzah di langit dunia (sama’ ad-dunya) yang terdekat dengan bumi. Adapun dalil tentang penurunan Al-Qur’an pada tahapan ini adalah :

Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[4] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.”( Q.S. Ad-dukhaan:3)
 Ibnul Qoyyim menyebutkan beberapa tingkatan metode turunnya wahyu Al Qur’an kepada kekasih-Nya itu.
1. Melalui mimpi yang hakiki (terbayang dengan jelas). Ini dicontohkan pada beberapa permulaan wahyu yang turun kepada Nabi Shallallaahu ‘Alayhi Wasallam. Perantaraan mimpi ini juga dialami oleh Nabi Ibrahim ‘Alayhis Sallam agar menyembelih anaknya. Peristiwa ini diabadikan Allah swt: "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". [QS.Ash Shaffat/37:102].
2. Apa yang disusupkan ke dalam jiwa dan hati beliau, tanpa terlihat. Seperti disampaikan Nabi saw. dalam hadits berikut, “Sesungguhnya Ruhul Qudus menghembuskan ke dalam diriku bahwa suatu jiwa tidak mungkin mati sampai disempurnakan rizkinya. Maka bertaqwalah kepada Allah, baguskanlah dalam meminta, dan janganlah kalian menganggap lamban datangnya rizki, sehingga kalian mencarinya dengan cara mendurhakai Allah, karena apa yang ada di sisi Allah tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan mentaati-Nya.” (HR.Bukhari)
3. Malaikat muncul di hadapan Nabi saw. dalam rupa seorang laki-laki, berbicara langsung hingga Nabi bisa memahami maksud pembicaraan tersebut. Dalam tingkatan ini terkadang para sahabat juga bisa melihat penampakan tersebut. Seperti dikenal dalam kisah “hadits Jibril” tentang makna Iman, Islam, dan Ihsan, di mana lelaki yang datang itu bisa disaksikan, padahal ternyata ia adalah malaikat Jibril (HR.Muslim).

4. Wahyu datang menyerupai bunyi gemerincing lonceng. Ini merupakan cara penyampaian wahyu yang paling berat dan malaikat tidak terlihat oleh pandangan Nabi saw. hingga dahi beliau berkerut mengeluarkan keringat walaupun saat itu cuaca sangat dingin, bahkan hewan tunggangan yang beliau naiki tak kuasa berderum ke tanah. Dalam Shahih Bukhari disebutkan wahyu seperti ini juga pernah datang saat Nabi saw. sedang meletakkan kakinya ditopang badan Zaid bin Tsabit ra. sehingga Zaid merasa keberatan dan hampir saja dia tidak kuat menyangganya.
5. Nabi saw. bisa melihat malaikat dalam wujud aslinya, lalu menyampaikan wahyu seperti yang dikehendaki Allah kepadanya. Wahyu seperti ini pernah datang dua kali, sebagaimana yang disebutkan Allah dalam surat An Najm ketika peristiwa Mi’raj. "Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha, Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia Telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar" (QS.An-Najm:13-18). Malaikat Jibril juga pernah mendatangi Nabi saw. dalam rupa yang sesungguhnya pada masa fatrah (periode kevakuman wahyu) setelah turunnya QS.Al ‘Alaq.
6. Wahyu yang disampaikan Allah kepada Rosulullah di atas lapisan-lapisan langit pada malam Isra’ Mi’raj, berisi kewajiban sholat. "Sesungguhnya Aku Ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang haqq) selain aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku" (QS. Thaha:14)
7. Allah berfirman secara langsung dengan Nabi saw. tanpa menggunakan perantara, sebagaimana keadaan ini juga pernah dialami Nabi Musa as. dalam perjalanannya mencari Tuhan. " …Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung." [QS.An Nisaa`/4 : 164].

Adapun hikmah diturunkannya Al-Qur’an pada tahap ini adalah sebagai berikut :[5]
1)      Sebagaimana pemberitahuan Allah kepada penghuni langit dunia tentang telah turunnya kitab Allah yang akan disampaikan kepada Rasul-Nya yang terakhir. Hal ini berbeda dengan kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada Rasul-Rasul sebelumnya,yaitu secara langsung diturunkan sekaligus,melainkan secara bertahap.
2)      Untuk lebih memperkuat keyakinan serta menghilangkan keraguan terhadap Al-Qur’an,karena kalam yang dicatat dan berada dalam berbagai tempat catatan lebih meyakinkan keberadaannya daripada yang hanya terdapat dalam satu tempat catatan saja.
c)        Tahapan Ketiga ( At-Tanazzulu Ats-tsaalistu )
Tahapan ketiga, Al-Qur’an turun dari baitul izzah di langit dunia langsung kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril. Dalam tahap inilah ajaran serta petunjuk Allah sampai kepada umat manusia . adapun dalil mengenai hal ini yaitu firman Allah:

Artinya : Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas.” (Q.S.Asy-Syu’araa’:193-195)


C.Hikmah Turunnya Al-qur’an secara berangsur-angsur
Hikmah Al-quran Diturunkan berangsur-angsur:
1.      Untuk memantapkan ayat-ayat itu dalam hati Rasulullah SAW
2.      Untuk mengokohkan hati Rasulullah dan memperkuat tekad dan semangat juangnya dalam melaksanakn tugas beliau sebagai Rasul
3.      Untuk menyesuaikan kepentingan Rasulullah dan kaum muslimin
4.      Supaya timbul rasa kerinduan dalam hati Nabi untuk kembalinya wahyu kepada beliau
5.      Supaya lenyap sama sekali rasa takut yang dialami Nabi ketika turunya wahyu pertama kali diGua Hira

D.Waktu Turunnya Al-qur’an dan Periodesasinya
a)        Waktu Turunnya Al-Qur’an
Permulaan turunnya Al-Qur’an adalah pada malam Qadar, tanggal 17 Ramadhan tahun ke empat puluh dari kelahiran Nabi Muhammad SAW,bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 M,sewaktu beliau sedang berkhilwat(meditasi) di dalam Goa Hira di atas jabal nur,sebelah utara Kota Mekkah. Ayat yang pertama kali turun adalah ayat 1-5 Surat Al-Alaq:

Artinya :”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
            Al-Qur’an selesai diturunkan menjelang kewafatan Nabi Muhammad SAW pada tanggal 9 dzulhijjah tahun 63 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau tahun 10 H yang bertepatan dengan tanggal 27 Oktober 632 M,dengan turunnya surat yang terakhir yaitu surat Al-Maidah ayat 3.Menurut Imam As-Suyuthi yang mengikuti pendapat Abdullah Ibnu Abbas,bahwa ayat yang terakhir turun adalah surat Al-baqarah ayat 281.Karena itu jumhur ulama,masa turunnya Al-Qur’an dari permulaan hingga akhir adalah selama 22tahun 2bulan 22hari.

b)       Periodesasi turunnya Al-Qur’an
Masa turunnya Al-Qur’an selama 22 tahun lebih itu terbagi dalam 2 periode sebagai berikut:
a)        Periode Pertama adalah periode Mekkah yaitu periode dimana Nabi Muhammad SAW masih tinggal di Mekkah,yang menurut para ulama ahli penelitian selama 12 tahun 5 bulan lebih 13 hari,terhitung mulai turun pertama tanggal 17 Ramadhan tahun 41 kelahiran Nabi Muhammad SAW sampai dengan Rabiul awal tahun 54 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada periode ini turun kurang lebih 19/30 dari jumlah seluruh isi Al-Qur’an,yang terdiri dari 90 surat yang mencakup 4.773 ayat.(menurut dasar mushhaf Utsman sekarang).
b)        Periode kedua adalah periode Madinah yaitu periode dimana Nabi Muhammad SAW sudah hijrah ke madinah dan diam disana yang telah disepakati para ulama selama 9 tahun 9 bulan lebih 9 hari, terhitung sejak awal Rabiul Awal tahun 54 kelahiran Nabi Muhammad SAW sampai dengan tanggal 9 Dzulhijjah tahun 63 kelahiran Nabi Muhammad SAW atau tahun 10 H, yang bertepatan dengan tanggal 27 Oktober 632 M. selama periode kedua ini turunlah lebih kurang 11/30 dari semua isi Al-Qur’an yang terdiri dari 24 surat yang meliputi 1463 ayat(menurut mushhaf Utsman sekarang.
E.Ilmu-ilmu yang terkait dengan Nuzulul Al-qur’an
1.  Ilmu Mawathin Nuzul, yaitu ilmu yang membahas tentang tempat-tempat turunnya ayat Qur'an.
2.  Ilmu Asbabun Nuzul, yaitu ilmu yang membahas sebab-sebab turunnya ayat Al-qur'an.
3. Ilmu Nasikh Mansukh,yaitu ilmu yang membahas ayat yang terhapus dan digantikan dengan ayat yang baru.
4. Ilmu Munasabah,yaitu ilmu yang menerangkan kolerasi atau hubungan antara suatu ayat dengan ayat yang lain,baik yang ada dibelakangnya atau ayat yang ada didepannya.




F.Pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad SAW
Semasa Nabi Muhammad SAW masih hidup, beliau telah memiliki beberapa pencatat wahyu, diantaranya Khulafa’ Ar-Rasyidin, Muawiyah, Zaid ibn Tsabit, Khalid bin Walid, Ubai bin Ka’ab dan Tsabit bin qies[6].
Pola pengumpulan Al-Qur’an pada masa itu masih sangat sederhana. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Mustadraknya dengan Isnad yang memenuhi persyaratan Bukhari Muslim dari Zaid bin Tsabit,ia berkata: “ Di kediaman Rasulullah kami menyusun ayat ayat Al-Qur’an yang tercatat pada riqa’ ”[7]
Adapun alat tulis yang digunakan para sahabat pada waktu itu sangat beraneka ragam, antara lain: al-riqa’(jamak dari ruq’ah yang berarti lembaran-lembaran kulit,lembaran daun atau lembaran kain), al-karanif(kumpulan pelepah kurma yang lebar), al-aktab(kayu yang diletakkan di punggung unta sebagai alas untuk ditunggangi), al-aktaf(tulang kambing atau unta yang lebar) dan lain sebagainya.
Ada beberapa sebab mengapa pada masa Nabi SAW Al-Qur’an belum ditulis dan dibukukan menjadi satu mushaf karena para penghafal di kalangan sahabat masih banyak jumlahnya,Nabi masih selalu menunggu akan turunnya wahyu dari waktu ke waktu,kemungkinan adanya ayat Al-Qur’an yang menasakh beberapa ketentuan hukum yang turun sebelumnya.[8]

G.Pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar As-Shiddiq
a.    Adanya beberapa peperangan yang menyebabkan banyaknya penghafal Al-Qur’an yang gugur
b.    Timbulnya kekhawatiran akan hilangnya Al-Qur’an
c.    Dikumpulkan dan ditulis ulang secara berurutan atas kesepakatan(ijma’) para sahabat
d.   Munculnya ilmu jam’il Qur’an

H.Pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Utsman bin Affan
a.    Adanya akulturasi budaya (antara budaya islam dan budaya lokal)
b.    Adanya kesulitan dalam pengucapan beberapa huruf arab seperti jim,fa’ dsb.
c.    Upaya penyatuan bacaan seperti yanga ada pada suku quraysh
d.   Ditulis ulang dan dibukukan secara sistematis ( 6 eksemplar dengan 1 di madinah dan 5 di mekkah)
e.    Munculnya ilmu rosmul Qur’an

I.Pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Ali bin Abi Thalib dan setelahnya
a.    Kekuasaan khilafah islamiyah semakin luas
b.    Adanya kesalahan dalam pembacaan Al-qur’an yang dapat merubah makna
c.    Pemberian tanda pembeda antara huruf oleh Abu Al-Aswad Al-Du’ali
d.   Dilanjutkan dengan pemberian tanda pembeda antar ucapan oleh Al-Kisa’i(ahli nahwu)

DAFTAR PUSTAKA

A L A Byadl Ibrahim, Sejarah Al-Qur’an, terj.Halimuddin. Jakarta : Rineka Cipta.1996

Djalal H.A, Prof. Dr. H. Abdul. Ulumul Qur’an. Surabaya : Dunia Ilmu. 2000

Nur Ichwan, Muhammad. Studi ilmu-ilmu al-Quran.Semarang: Rasail Media Group.2008


Syadili,Ahmad, Ahmad Rofi’I, Ulumul Qur’an,tt               





[1]       Departemen agama RI, ensiklopedi islam jilid II (Jakarta:1993).859
[2]       Muhammad Badruddin al Zarkasyi, Al-Burhan fi’ulum al-qur’an (Mesir:MA al-babi al-habibi,t.th cet ke 2,jilid I,229
[3]       Ahmad Abdul kamal, ulum al-qur’an(t.tp. t.pn. t.th),11
[4]        Malam yang diberkahi ialah malam Al Quran pertama kali diturunkan. di Indonesia umumnya   dianggap jatuh pada tanggal 17 Ramadhan.
[5]        Sya’ban Muhammad Ismail, Bandingkan dengan Muhammad Salim Mahisin,op.cit,59
[6]       Dr. Subhi Al-Saleh,Studi ilmu-ilmu al-qur’an(semarang:rasail Media Group,2008),34
[7]       Ibid,69
[8][8]       Muhammad Nur Ichwan, studi ilmu-ilmu al-Quran (semarang:rasail Media Group,2008),44-45

PROSES PERENCANAAN PENGEMBANGAN KURIKULUM


LATAR BELAKANG

Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, di dalamnya mencakup perencanaan, penerapan, dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri.
Pada prinsipnya pengembangan kurikulum berkisar pada pengembangan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi yang perlu diimbangi perkembangan pendidikan. Manusia, disisi lain sering kali memiliki keterbatasan kemampuan untuk menerima, menyampaikan dan mengolah informasi, karenanya diperlukan proses pengembangan kurikulum yang akurat dan terseleksi dan memiliki tingkat relevansi yang kuat. Dalam hal ini merealisasikannya maka diperlukan suatu model pengembangan kurikulum dengan pendekatan yang sesuai
Kurikulum adalah semua pengalaman yang telah direncanakan untuk mempersiapkan peserta didik mencapai tujuan pendidikan baik yang diperoleh dari dalam maupun luar lembaga yang telah direncanakan secara sistematis dan terpadu. Manajemen dalam perencanaan kurikulum dapat diartikan sebagai keahlian atau kemampuan merencanakan dan mengorganisasi kurikulum. Pokok kegiatan utama studi manajemen kurikulum meliputi bidang perencanaan dan pengembangan kurikulum, pelaksanaan dan perbaikan kurikulum. Manajemen perencanaan dan pengembangan kurikulum berdasarakn asumsi bahwa telah tersedia informasi dan data tentang masalah-masalah dan kebutuhan yang mendasari disusunnya perencanaa secara tepat.
Untuk mengembangkan suatu rencana seseorang harus mengacu kemasa depan. Perencanaan ini memberikan pengaruh dalam menentukan pengeluaran biaya atau keuntungan, menetapkan perangkat tujuan atau hasil akhir, mengembangkan strategi untuk mencapai tujuan akhir, menyusun atau menetapkan prioritas dan urutan strategi, menetapkan prosedur kerja dengan metode yang baru, serta mengembangkan kebijakan-kebijakan.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian peranan dan pengembangan kurikulum
     Perencanaan kurikulum (curriculum improvement, curriculum building) adalah kegiatan yang mengacu pada usaha untuk melaksanakan dan menyempurnakan kurikulum yang telah ada, guna memperolehhasil yang lebih maksimal.
       Pengembangan kurikulum (curriculum development, curriculum planning atau curriculum design) sebagai tahap lanjutan dari pembinaan, yakni kegiatan yang mengacu untuk menghasilkan suatu kurikulum baru. Dalam kegiatan tersebut meliputi penyusunan-penyusunan, pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan. Melalui tahap-tahap tersebut akan dihasilkan kurikulum dan dengan terbentuknya kurikulum baru itu, maka tugas pengembangan telah selesai, kemudian tugas berikutnya beralih pada kegiatan pembinaan kurikulum.
     Pengembangan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa kearah perubahan-perubahan yang di inginkan dan menilai hingga mana perubahan-perubahan itu telah terjadi pada diri siswa.[1]
B. Asas-asas perencanaan kurikulum
       Perencanaan kurikulum disusun berdasrkan asas-asas sebagai berikut:
a.       Objektivitas
Perencanaan kurikulum memiliki tujuan yang jelas dan sepesifik berdasrkan tujuan pendidikan nasional, data input yang nyata sesuai dengan kebutuhan.
b.      Keterpaduan
Perencanaan kurikulum memadukan jenis dan sumber dari semua disipiln ilmu, keterpaduan sekolah dan masyarakat, keterpaduan internal, serta keterpaduan dalam proses penyampaian .
c.       Manfaat
Perencanaan kurikulum menyediakan dan menyajikan pengetahuan dan ketrampilan sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan dan tindakan, serta bermanfaat sebagai acuan strategis dalam penyelenggaraan pendidikan.
d.      Efisiensi dan efektivitas
Perencanaan kurikulum disusun berdasarkan prinsip efisiensi dana, tenaga, waktu, dan efektif dalam mencapai tujuan dan hasil pendidikan.
e.       Kesesuaian
Perencanaan kurikulum disesusaikan dengan sasaran peserta didik, kemampuan tenaga kependidikan, kemajuan iptek, dan perubahan atau perkembangan masyarakat
f.       Keseimbangan
Perencanaan kurikulum memperhatikan keseimbangan antara bidang study, sumber yang tersedia, serta antara kemampuan dan program yang akan dilaksanakan.
g.      Kemudahan
Pwerencanaan kurikulum memberikan kemudahan bagi para pemakainya yang membutuhkan pedoman berupa bahan kajian dan metode untuk melaksanakan proses pembelajaran.
h.      Berkesinambungan
Perencanaan kurikulum ditata secara berkesinambungan sejalan dengan tahap-tahap dan jenis dan jenjang satuan pendidikan.
i.        Pembakuan
Perencanaan kurikulum dibakukan sesuai dengan jenjang dan jenis satuan pendidikan, sejak dari pusat, provinsi, kabupaten atau kota madya.
j.        Mutu
Perencanaan kurikulum memuat perangkat pembelajaran yang bermutu, sehingga turut meningkatkan mutu proses belajar dan kuwalitas kelulusan secara keseluruhan.[2]

C. Pengembangan kurikulum dengan pendekatan sistem
       Sistem adalah suatu totalitas yang terdiri atas sejumlah komponen atau bagian. Komponen itu saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Suatu komponen juga dapat merupakan sebuah sub sistem dari suatu sistem. Pendekatan sistem digunakan juga sebagai suatu sistem berfikir, bahkan sistem pendekatan ini dikembangkan dalam upaya pembaharuan pendidikan. Langakah-langkah yang digunakan adalah proses identifikasi dan perumusan masalah, perumusan atau hasil-hasil yang diinginkan, dan penentuan yang dinilai paling tepat melalui eksperimen. Selanjutnya dilakukan kegiatan try out dan revisi, dan langkah terakhir yakni implementasi dan evaluasi.[3]
       Salah satu model penggunaan pendekatan sistem dalam rangka mengembangkan suatu course design adalah sebagai berikut:
1.      Identifikasi tugas-tugas
       Kegiatan merancang suatu program kurikulum harus dimulai dari identifikasi tugas-tugas, yang menjadi tuntutan darisuatu pekerjaan. Berdasarkan pekerjaan yang dituntut itu selanjutnya direncanakan dan ditentukan peranan-peranan yang harus dilaksanakan sehubungan pekerjaan tersebut. Peranan-peranan inilah yang akan menjadi titik tolak dalam menentukan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh seorang lulusan kelak, sesuai dengan lapangan kerjanya.
2.      Analisis tugas-tugas
       Berdasarkan tugas-tugas yang telah ditetapkan secara dimensional, lalu dijabarkan menjadi seperangkat tugas yang lebih sepesifik. Setiap dimensi tugas akan terjabar sedemikian rupa sehinggan akan tercermin segala sesuatu yang patut dan harus dikerjakan.
3.      Spesifikasi pengetahuan ketrampilan sikap
       Setiap tugas dirancang secara sepesifik kemampuan-kemampuan apa yang perlu dimiliki oleh lulusan agar dapat melaksanakan tugas dan perananannya.
4.      Penetapan kemampuan
       Langkah ini sejalan dengan langkah yang telah dilaksanakan sebelumnya. Setiap kemampuan hendaknya didasarkan pada kriteria-kriteria kognitif, afektif, dan performance tersebut.
5.      Identifikasi kebutuhan pendidikan dan latihan
       Langakah ini merupakan analisis kebutuhan pendidikan dan latihan, artinya jenis-jenis pendidikan dan atau latihan-latihan yang wajar disediakan dalam rangka mengembangkan kemampuan-kemampuan yang telah ditetapkan itu. Ini berarti, untuk mengembangkan kemampuan tertentu dibutuhkan jenis pendidikan dan latihan-latihan tertentu pula.
6.      Perumusan tujuan pendidikan
       Tujuan pendidikan adalah tujuan-tujuan program. Pada tingkat ini tujuan pendidikan masih bersifat umum, atau dapat juga disebut sebagai tujuan kurikuler dan tujuan instruksional umum. Tujuan-tujuan tersebut dilakukan dengan berpedoman kepada jenis kemampuan yamg hendak dikembangkan.
7.       Kriteria pengukuran penguasaan tugas
       Kriteria pengukuran ini masih bersifat kriteria indikator keberhasilan suatu program. Keberhasilan ini ditandai dengan ketercapaian tujuan-tujuan kemampuan, atau berkembangnya kemampuan yang diharapkan.
8.      Organisasi sumber-sumber belajar
       Langkah ini menekankan pada materi pelajaran yang akan disampaikan sehubungan dengan pencapaian tujuan kemampuan yang telah ditentukan.
9.      Pemilihan strategi pengajaran
        Titik berta analisis pada langkah ini adalah penentuan metode dan media yang akan digunakan dalam hubungan dengan usaha mencapai tujuan kemampuan yang diharapkan.
10.  Tes lapangan dan evaluasi sistem
        Uji coba atas program yang baru didesain sangat diperlukan guna melihat berbagai kemungkinan keterlaksanaan program.
11.  Pengukuran reliabilitas program
       Pengukuran ini sejalan dengan pelaksanaan uji coba dan pengukuran. Perbaikan dan uji coba program diperlukan guna menjamin konsistensi, koherensi, dan monitoring sistem selain memberikan umpan balik kepada organisasi sumber-sumber strategi pengajaran, motivasi belajar.
12.  Monitoring sistem
        Kegiatan monitoring perlu didesain secara analisis. Dengan demikian diharapkan pada akhirnya dikembangkan suatu program yang benar0benar sinkron dengan kebutuhan lapangan dan memiliki kemampuan beradaptasi.[4]

D. Pengembangan Tujuan Pembelajaran
       Yang menjadi kunci dalam rangka menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan siswa, mata ajaran, dan guru itu sendiri. Berdasarkan kebutuhan siswa yang dapat ditetapkan apa yang hendak dicapai, dan dikembangkan dan di apresiasi.[5]
Ø  Keberhasilan pengembangan tujuan pembelajaran harus memenuhi:
1.      Sifat tujuan hirarkial(berjenjang), artinya:
-          Tujuan pembelajaran tidak boleh lebih luas dari tujuan akhir
-          Tujuan-tujuan pembelajaran jika disatukan akan menggambarkan tujuan akhir
2.      Tujuan pembelajaran harus operasional
3.      Tujuan pembelajaran harus dapat diukur ketercapaiannya
4.      Tujuan pembelajaran harus mencakup domain kognitif, afektif, dan psikomotorik
Ø  Kriteria pengembangan tujuan pembelajaran:
1.      Berorientasi pada siswa, penekanan pada upaya diharapkan dapat dilakukan oleh siswa bukan apa yang yang dilakukan oleh instruktur
2.      Berisikan hasil belajar, apa yang harus dicapai oleh siswa
3.      Jelas dan dapat di pahami
4.      Deskripsi kata kerja harus merupakan tindakan yang dapat diobservasi/tindakan yang menghasilkan produk yang dapat di observasi. [6]
E. Pengembangan Materi Pembelajaran
       Materi pembelajaran merupakan salah satu hal yang penting dalam kegiatan belajar mengajar. Untuk merancang pembelajaran kita perlu memikirkan materi/bahan pelajaran apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mencapai kompetensi yang diinginkan, karena itulah kita perlu mengembangkan bahan pembelajaran. Dalam mengembangkan bahan pembelajaran, kita dapat mengacu pada dua hal, yaitu konteks tempat penyelenggaraan pendidikan dan bentuk kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan.[7]
      Pertimbangan konteks dilakukan untuk menentukan bentuk kemasan materi pelajaran seperti dijilid atau tidaknya, dll. Sedangkan  dari segi bentuk kegiatan pembelajaran, guru perlu mempertimbangkan apakah pembelajarannya konvensional, pendidikan jarak jauh, ataupun kombinasi  keduanya. Tiga Macam Pengembangan Bahan Pembelajaran:
1.   Pengembangan Bahan Belajar Mandiri
              Bahan belajar mandiri perlu dikembangkan apabila dalam kegiatan pembelajarannya siswa belajar secara mandiri, tanpa tergantung pada kehadiran pengajar. Bahan belajar mandiri mempunyai empat ciri pokok yaitu :
a.    Mempunyai kalimat yang mampu menjelaskan sendiri
b.    Dapat dipelajari oleh mahasiswa, sesuai dengan kecepatan belajar masing-  masing
c.     Dapat dipelajari oleh mahasiswa menurut waktu dan tempat yang dipilihnya.
d.     Mampu membuat mahasiswa aktif melakukan sesuatu pada saat belajar, seperti mengerjakan latihan, tes, atau kegiatan praktik.

       Untuk memproduksi bahan belajar mandiri, perancang pembelajaran dapat melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a.    Memilih dan mengumpulkan bahan pembelajaran yang tersedia dilapangan dan relevan dengan isi pelajaran yang tercantum dalam strategi pembelajaran.
b.    Mengadaptasikan bahan pembelajaran tersebut ke dalam bentuk bahan belajar mandiri dengan mengikuti strategi pembelajaran yang telah disusun sebelumnya.
c.   Meneliti kembali konsistensi isi bahan belajar tersebut dengan strategi pembelajaran.
d.   Meneliti kualitas teknis dari bahan tersebut, yang meliputi tiga hal sebagai berikut:
1)      Bahasa yang sederhana dan relevan
2)      Bahasa yang komunikatif
3)      Desain fisik
       Untuk memproduksi bahan belajar mandiri, tim yang tergabung dalam pengembangan pembelajaran ini harus bekerja sama. Ahli desain pembelajaran, ahli materi atau pengajar, ahli media, dan ahli penyusun tes bekerjasama untuk memproduksi bahan pembelajaran yang sesuai dengan strategi pembelajaran.
                     

2.      Pengembangan Bahan Pengajaran Konvensional
       Bahan pengajaran konvensional jumlahnya sangat terbatas, karena disini pengajar&bahan pengajaran adalah sumber inti kegiatan pembelajaran. Pengajaran menyajikan isi pelajaran dengan urutan, metode, media, dan waktu yang telah ditentukan dalam strategi pembelajaran.
       Satu-satunya bahan yang diberikan kepada mahasiswa, adalah program pengajaran. Untuk menyusun program pengajaran tersebut ada beberapa langkah yang dapat membantu pengembang pembelajaran, antara lain:
a.   Menulis deskripsi singkat isi pelajaran
b.   Menulis topic dan jadwal pelajaran 
c.   Menyusun tugas dan jadwal penyelesaiannya yang diharapkan dilakukan mahasiswa.
d.    Menyusun cara pemberian nilai hasil pelaksanaan tugas dan tes.

3.      Pengembangan Bahan PBS (Pengajar, Bahan, Siswa)
       Inti dari bahan PBS (Pengajar, Bahan, Siswa) bersumber pada bahan pembelajaran dan pengajar. Keduanya harus saling mengisi. Untuk mengembangkan bahan PBS ini pengajar bisa mengumpulkan bahan pembelajaran yang tersedia di lapangan dan relevan dengan strategi pembelajaran. Berikut langkah-langkah yang dapat digunakan oleh pengembang pembelajaran dalam mengembangkan bahan PBS:
a.  Memilih dan mengumpulkan bahan pembelajaran yang kebetulan tersedia dilapangan dan relevan dengan isi pelajaran yang tercantum dalam strategi pembelajaran.
b.  Menyusun bahan tersebut sesuai dengan urutan pada urutan U (uraian) yang terdapat dalam strategi pembelajaran.
c.  Mengindentifikasi bahan-bahan yang tidak diperoleh dari lapangan untuk ditutup dengan penyajian pengajar.
d. Menyusun program pengajaran
e.  Menyusun petunjuk cara menggunakan bahan pembelajaran yang dibagikan kepada mahasiswa.
f.   Menyusun bahan lain (bila masih diperlukan) yang berupa transparansi, gambar, bagan, dan semacamnya.[8]


BAB III
KESIMPULAN

A.    Pengertian perkembangan kurikulum
       Pengembangan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa kearah perubahan-perubahan yang di inginkan dan menilai hingga mana perubahan-perubahan itu telah terjadi pada diri siswa.
B.     Asas-asas perencanaan kurikulum
a.       Objektivitas
b.      Keterpaduan
c.       Manfaat
d.      Efisiensi dan efektivitas
e.       Kesesuaian
f.       Keseimbangan
g.      Kemudahan
h.      Berkesinambungan
i.        Pembakuan
j.        Mutu
C.   Pengembangan kurikulum dengan pendekatan sistem
       Sistem adalah suatu totalitas yang terdiri atas sejumlah komponen atau bagian. Komponen itu saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
D.   Pengembangan Tujuan Pembelajaran
       Yang menjadi kunci dalam rangka menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan siswa, mata ajaran, dan guru itu sendiri.
E.   Pengembangan Materi Pembelajaran
 Tiga Macam Pengembangan Bahan Pembelajaran:
1.         Pengembangan Bahan Belajar Mandiri
2.         Pengembangan Bahan Pengajaran Konvensional
3.       Pengembangan Bahan PBS (Pengajar, Bahan, Siswa)

DAFTAR PUSTAKA

Hamalik Oemar,  Prof.  Dr., Manajemen Pengembangan Kurikulum, Bandung: Remaja  Rosdakarya, 2006.
Hamalik Oemar, Dr., Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007.
Hamalik Oemar, Dr., Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2001.
Hamid Syarief,  Pengembangan Kurikulum, Pasuruan: Garoeda Buana Indah, 1993.



[1]  Hamid Syarief,  Pengembangan Kurikulum, (Pasuruan: Garoeda Buana Indah, 1993), 48
[2]  Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), 155
[3]  Oemar Hamalik, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), 37
[4]  Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung: REMAJA ROSDAKARYA, 2006)
[5]  Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), 76