Wednesday, 10 July 2013

PROSES PERENCANAAN PENGEMBANGAN KURIKULUM


LATAR BELAKANG

Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, di dalamnya mencakup perencanaan, penerapan, dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri.
Pada prinsipnya pengembangan kurikulum berkisar pada pengembangan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi yang perlu diimbangi perkembangan pendidikan. Manusia, disisi lain sering kali memiliki keterbatasan kemampuan untuk menerima, menyampaikan dan mengolah informasi, karenanya diperlukan proses pengembangan kurikulum yang akurat dan terseleksi dan memiliki tingkat relevansi yang kuat. Dalam hal ini merealisasikannya maka diperlukan suatu model pengembangan kurikulum dengan pendekatan yang sesuai
Kurikulum adalah semua pengalaman yang telah direncanakan untuk mempersiapkan peserta didik mencapai tujuan pendidikan baik yang diperoleh dari dalam maupun luar lembaga yang telah direncanakan secara sistematis dan terpadu. Manajemen dalam perencanaan kurikulum dapat diartikan sebagai keahlian atau kemampuan merencanakan dan mengorganisasi kurikulum. Pokok kegiatan utama studi manajemen kurikulum meliputi bidang perencanaan dan pengembangan kurikulum, pelaksanaan dan perbaikan kurikulum. Manajemen perencanaan dan pengembangan kurikulum berdasarakn asumsi bahwa telah tersedia informasi dan data tentang masalah-masalah dan kebutuhan yang mendasari disusunnya perencanaa secara tepat.
Untuk mengembangkan suatu rencana seseorang harus mengacu kemasa depan. Perencanaan ini memberikan pengaruh dalam menentukan pengeluaran biaya atau keuntungan, menetapkan perangkat tujuan atau hasil akhir, mengembangkan strategi untuk mencapai tujuan akhir, menyusun atau menetapkan prioritas dan urutan strategi, menetapkan prosedur kerja dengan metode yang baru, serta mengembangkan kebijakan-kebijakan.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian peranan dan pengembangan kurikulum
     Perencanaan kurikulum (curriculum improvement, curriculum building) adalah kegiatan yang mengacu pada usaha untuk melaksanakan dan menyempurnakan kurikulum yang telah ada, guna memperolehhasil yang lebih maksimal.
       Pengembangan kurikulum (curriculum development, curriculum planning atau curriculum design) sebagai tahap lanjutan dari pembinaan, yakni kegiatan yang mengacu untuk menghasilkan suatu kurikulum baru. Dalam kegiatan tersebut meliputi penyusunan-penyusunan, pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan. Melalui tahap-tahap tersebut akan dihasilkan kurikulum dan dengan terbentuknya kurikulum baru itu, maka tugas pengembangan telah selesai, kemudian tugas berikutnya beralih pada kegiatan pembinaan kurikulum.
     Pengembangan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa kearah perubahan-perubahan yang di inginkan dan menilai hingga mana perubahan-perubahan itu telah terjadi pada diri siswa.[1]
B. Asas-asas perencanaan kurikulum
       Perencanaan kurikulum disusun berdasrkan asas-asas sebagai berikut:
a.       Objektivitas
Perencanaan kurikulum memiliki tujuan yang jelas dan sepesifik berdasrkan tujuan pendidikan nasional, data input yang nyata sesuai dengan kebutuhan.
b.      Keterpaduan
Perencanaan kurikulum memadukan jenis dan sumber dari semua disipiln ilmu, keterpaduan sekolah dan masyarakat, keterpaduan internal, serta keterpaduan dalam proses penyampaian .
c.       Manfaat
Perencanaan kurikulum menyediakan dan menyajikan pengetahuan dan ketrampilan sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan dan tindakan, serta bermanfaat sebagai acuan strategis dalam penyelenggaraan pendidikan.
d.      Efisiensi dan efektivitas
Perencanaan kurikulum disusun berdasarkan prinsip efisiensi dana, tenaga, waktu, dan efektif dalam mencapai tujuan dan hasil pendidikan.
e.       Kesesuaian
Perencanaan kurikulum disesusaikan dengan sasaran peserta didik, kemampuan tenaga kependidikan, kemajuan iptek, dan perubahan atau perkembangan masyarakat
f.       Keseimbangan
Perencanaan kurikulum memperhatikan keseimbangan antara bidang study, sumber yang tersedia, serta antara kemampuan dan program yang akan dilaksanakan.
g.      Kemudahan
Pwerencanaan kurikulum memberikan kemudahan bagi para pemakainya yang membutuhkan pedoman berupa bahan kajian dan metode untuk melaksanakan proses pembelajaran.
h.      Berkesinambungan
Perencanaan kurikulum ditata secara berkesinambungan sejalan dengan tahap-tahap dan jenis dan jenjang satuan pendidikan.
i.        Pembakuan
Perencanaan kurikulum dibakukan sesuai dengan jenjang dan jenis satuan pendidikan, sejak dari pusat, provinsi, kabupaten atau kota madya.
j.        Mutu
Perencanaan kurikulum memuat perangkat pembelajaran yang bermutu, sehingga turut meningkatkan mutu proses belajar dan kuwalitas kelulusan secara keseluruhan.[2]

C. Pengembangan kurikulum dengan pendekatan sistem
       Sistem adalah suatu totalitas yang terdiri atas sejumlah komponen atau bagian. Komponen itu saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Suatu komponen juga dapat merupakan sebuah sub sistem dari suatu sistem. Pendekatan sistem digunakan juga sebagai suatu sistem berfikir, bahkan sistem pendekatan ini dikembangkan dalam upaya pembaharuan pendidikan. Langakah-langkah yang digunakan adalah proses identifikasi dan perumusan masalah, perumusan atau hasil-hasil yang diinginkan, dan penentuan yang dinilai paling tepat melalui eksperimen. Selanjutnya dilakukan kegiatan try out dan revisi, dan langkah terakhir yakni implementasi dan evaluasi.[3]
       Salah satu model penggunaan pendekatan sistem dalam rangka mengembangkan suatu course design adalah sebagai berikut:
1.      Identifikasi tugas-tugas
       Kegiatan merancang suatu program kurikulum harus dimulai dari identifikasi tugas-tugas, yang menjadi tuntutan darisuatu pekerjaan. Berdasarkan pekerjaan yang dituntut itu selanjutnya direncanakan dan ditentukan peranan-peranan yang harus dilaksanakan sehubungan pekerjaan tersebut. Peranan-peranan inilah yang akan menjadi titik tolak dalam menentukan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh seorang lulusan kelak, sesuai dengan lapangan kerjanya.
2.      Analisis tugas-tugas
       Berdasarkan tugas-tugas yang telah ditetapkan secara dimensional, lalu dijabarkan menjadi seperangkat tugas yang lebih sepesifik. Setiap dimensi tugas akan terjabar sedemikian rupa sehinggan akan tercermin segala sesuatu yang patut dan harus dikerjakan.
3.      Spesifikasi pengetahuan ketrampilan sikap
       Setiap tugas dirancang secara sepesifik kemampuan-kemampuan apa yang perlu dimiliki oleh lulusan agar dapat melaksanakan tugas dan perananannya.
4.      Penetapan kemampuan
       Langkah ini sejalan dengan langkah yang telah dilaksanakan sebelumnya. Setiap kemampuan hendaknya didasarkan pada kriteria-kriteria kognitif, afektif, dan performance tersebut.
5.      Identifikasi kebutuhan pendidikan dan latihan
       Langakah ini merupakan analisis kebutuhan pendidikan dan latihan, artinya jenis-jenis pendidikan dan atau latihan-latihan yang wajar disediakan dalam rangka mengembangkan kemampuan-kemampuan yang telah ditetapkan itu. Ini berarti, untuk mengembangkan kemampuan tertentu dibutuhkan jenis pendidikan dan latihan-latihan tertentu pula.
6.      Perumusan tujuan pendidikan
       Tujuan pendidikan adalah tujuan-tujuan program. Pada tingkat ini tujuan pendidikan masih bersifat umum, atau dapat juga disebut sebagai tujuan kurikuler dan tujuan instruksional umum. Tujuan-tujuan tersebut dilakukan dengan berpedoman kepada jenis kemampuan yamg hendak dikembangkan.
7.       Kriteria pengukuran penguasaan tugas
       Kriteria pengukuran ini masih bersifat kriteria indikator keberhasilan suatu program. Keberhasilan ini ditandai dengan ketercapaian tujuan-tujuan kemampuan, atau berkembangnya kemampuan yang diharapkan.
8.      Organisasi sumber-sumber belajar
       Langkah ini menekankan pada materi pelajaran yang akan disampaikan sehubungan dengan pencapaian tujuan kemampuan yang telah ditentukan.
9.      Pemilihan strategi pengajaran
        Titik berta analisis pada langkah ini adalah penentuan metode dan media yang akan digunakan dalam hubungan dengan usaha mencapai tujuan kemampuan yang diharapkan.
10.  Tes lapangan dan evaluasi sistem
        Uji coba atas program yang baru didesain sangat diperlukan guna melihat berbagai kemungkinan keterlaksanaan program.
11.  Pengukuran reliabilitas program
       Pengukuran ini sejalan dengan pelaksanaan uji coba dan pengukuran. Perbaikan dan uji coba program diperlukan guna menjamin konsistensi, koherensi, dan monitoring sistem selain memberikan umpan balik kepada organisasi sumber-sumber strategi pengajaran, motivasi belajar.
12.  Monitoring sistem
        Kegiatan monitoring perlu didesain secara analisis. Dengan demikian diharapkan pada akhirnya dikembangkan suatu program yang benar0benar sinkron dengan kebutuhan lapangan dan memiliki kemampuan beradaptasi.[4]

D. Pengembangan Tujuan Pembelajaran
       Yang menjadi kunci dalam rangka menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan siswa, mata ajaran, dan guru itu sendiri. Berdasarkan kebutuhan siswa yang dapat ditetapkan apa yang hendak dicapai, dan dikembangkan dan di apresiasi.[5]
Ø  Keberhasilan pengembangan tujuan pembelajaran harus memenuhi:
1.      Sifat tujuan hirarkial(berjenjang), artinya:
-          Tujuan pembelajaran tidak boleh lebih luas dari tujuan akhir
-          Tujuan-tujuan pembelajaran jika disatukan akan menggambarkan tujuan akhir
2.      Tujuan pembelajaran harus operasional
3.      Tujuan pembelajaran harus dapat diukur ketercapaiannya
4.      Tujuan pembelajaran harus mencakup domain kognitif, afektif, dan psikomotorik
Ø  Kriteria pengembangan tujuan pembelajaran:
1.      Berorientasi pada siswa, penekanan pada upaya diharapkan dapat dilakukan oleh siswa bukan apa yang yang dilakukan oleh instruktur
2.      Berisikan hasil belajar, apa yang harus dicapai oleh siswa
3.      Jelas dan dapat di pahami
4.      Deskripsi kata kerja harus merupakan tindakan yang dapat diobservasi/tindakan yang menghasilkan produk yang dapat di observasi. [6]
E. Pengembangan Materi Pembelajaran
       Materi pembelajaran merupakan salah satu hal yang penting dalam kegiatan belajar mengajar. Untuk merancang pembelajaran kita perlu memikirkan materi/bahan pelajaran apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mencapai kompetensi yang diinginkan, karena itulah kita perlu mengembangkan bahan pembelajaran. Dalam mengembangkan bahan pembelajaran, kita dapat mengacu pada dua hal, yaitu konteks tempat penyelenggaraan pendidikan dan bentuk kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan.[7]
      Pertimbangan konteks dilakukan untuk menentukan bentuk kemasan materi pelajaran seperti dijilid atau tidaknya, dll. Sedangkan  dari segi bentuk kegiatan pembelajaran, guru perlu mempertimbangkan apakah pembelajarannya konvensional, pendidikan jarak jauh, ataupun kombinasi  keduanya. Tiga Macam Pengembangan Bahan Pembelajaran:
1.   Pengembangan Bahan Belajar Mandiri
              Bahan belajar mandiri perlu dikembangkan apabila dalam kegiatan pembelajarannya siswa belajar secara mandiri, tanpa tergantung pada kehadiran pengajar. Bahan belajar mandiri mempunyai empat ciri pokok yaitu :
a.    Mempunyai kalimat yang mampu menjelaskan sendiri
b.    Dapat dipelajari oleh mahasiswa, sesuai dengan kecepatan belajar masing-  masing
c.     Dapat dipelajari oleh mahasiswa menurut waktu dan tempat yang dipilihnya.
d.     Mampu membuat mahasiswa aktif melakukan sesuatu pada saat belajar, seperti mengerjakan latihan, tes, atau kegiatan praktik.

       Untuk memproduksi bahan belajar mandiri, perancang pembelajaran dapat melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a.    Memilih dan mengumpulkan bahan pembelajaran yang tersedia dilapangan dan relevan dengan isi pelajaran yang tercantum dalam strategi pembelajaran.
b.    Mengadaptasikan bahan pembelajaran tersebut ke dalam bentuk bahan belajar mandiri dengan mengikuti strategi pembelajaran yang telah disusun sebelumnya.
c.   Meneliti kembali konsistensi isi bahan belajar tersebut dengan strategi pembelajaran.
d.   Meneliti kualitas teknis dari bahan tersebut, yang meliputi tiga hal sebagai berikut:
1)      Bahasa yang sederhana dan relevan
2)      Bahasa yang komunikatif
3)      Desain fisik
       Untuk memproduksi bahan belajar mandiri, tim yang tergabung dalam pengembangan pembelajaran ini harus bekerja sama. Ahli desain pembelajaran, ahli materi atau pengajar, ahli media, dan ahli penyusun tes bekerjasama untuk memproduksi bahan pembelajaran yang sesuai dengan strategi pembelajaran.
                     

2.      Pengembangan Bahan Pengajaran Konvensional
       Bahan pengajaran konvensional jumlahnya sangat terbatas, karena disini pengajar&bahan pengajaran adalah sumber inti kegiatan pembelajaran. Pengajaran menyajikan isi pelajaran dengan urutan, metode, media, dan waktu yang telah ditentukan dalam strategi pembelajaran.
       Satu-satunya bahan yang diberikan kepada mahasiswa, adalah program pengajaran. Untuk menyusun program pengajaran tersebut ada beberapa langkah yang dapat membantu pengembang pembelajaran, antara lain:
a.   Menulis deskripsi singkat isi pelajaran
b.   Menulis topic dan jadwal pelajaran 
c.   Menyusun tugas dan jadwal penyelesaiannya yang diharapkan dilakukan mahasiswa.
d.    Menyusun cara pemberian nilai hasil pelaksanaan tugas dan tes.

3.      Pengembangan Bahan PBS (Pengajar, Bahan, Siswa)
       Inti dari bahan PBS (Pengajar, Bahan, Siswa) bersumber pada bahan pembelajaran dan pengajar. Keduanya harus saling mengisi. Untuk mengembangkan bahan PBS ini pengajar bisa mengumpulkan bahan pembelajaran yang tersedia di lapangan dan relevan dengan strategi pembelajaran. Berikut langkah-langkah yang dapat digunakan oleh pengembang pembelajaran dalam mengembangkan bahan PBS:
a.  Memilih dan mengumpulkan bahan pembelajaran yang kebetulan tersedia dilapangan dan relevan dengan isi pelajaran yang tercantum dalam strategi pembelajaran.
b.  Menyusun bahan tersebut sesuai dengan urutan pada urutan U (uraian) yang terdapat dalam strategi pembelajaran.
c.  Mengindentifikasi bahan-bahan yang tidak diperoleh dari lapangan untuk ditutup dengan penyajian pengajar.
d. Menyusun program pengajaran
e.  Menyusun petunjuk cara menggunakan bahan pembelajaran yang dibagikan kepada mahasiswa.
f.   Menyusun bahan lain (bila masih diperlukan) yang berupa transparansi, gambar, bagan, dan semacamnya.[8]


BAB III
KESIMPULAN

A.    Pengertian perkembangan kurikulum
       Pengembangan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa kearah perubahan-perubahan yang di inginkan dan menilai hingga mana perubahan-perubahan itu telah terjadi pada diri siswa.
B.     Asas-asas perencanaan kurikulum
a.       Objektivitas
b.      Keterpaduan
c.       Manfaat
d.      Efisiensi dan efektivitas
e.       Kesesuaian
f.       Keseimbangan
g.      Kemudahan
h.      Berkesinambungan
i.        Pembakuan
j.        Mutu
C.   Pengembangan kurikulum dengan pendekatan sistem
       Sistem adalah suatu totalitas yang terdiri atas sejumlah komponen atau bagian. Komponen itu saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
D.   Pengembangan Tujuan Pembelajaran
       Yang menjadi kunci dalam rangka menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan siswa, mata ajaran, dan guru itu sendiri.
E.   Pengembangan Materi Pembelajaran
 Tiga Macam Pengembangan Bahan Pembelajaran:
1.         Pengembangan Bahan Belajar Mandiri
2.         Pengembangan Bahan Pengajaran Konvensional
3.       Pengembangan Bahan PBS (Pengajar, Bahan, Siswa)

DAFTAR PUSTAKA

Hamalik Oemar,  Prof.  Dr., Manajemen Pengembangan Kurikulum, Bandung: Remaja  Rosdakarya, 2006.
Hamalik Oemar, Dr., Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007.
Hamalik Oemar, Dr., Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2001.
Hamid Syarief,  Pengembangan Kurikulum, Pasuruan: Garoeda Buana Indah, 1993.



[1]  Hamid Syarief,  Pengembangan Kurikulum, (Pasuruan: Garoeda Buana Indah, 1993), 48
[2]  Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), 155
[3]  Oemar Hamalik, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), 37
[4]  Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung: REMAJA ROSDAKARYA, 2006)
[5]  Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), 76