Wednesday, 10 July 2013

ILMU NUZULUL QUR’AN


PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Sebelum diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, Al-Qur’an itu telah tetulis pada “Al-Lauhul Mahfudh”, kemudian Allah menurunkannya kepada Muhammad SAW yang berlangsung selama 22 tahun 2 bulan 22 hari yang terbagi pada 2 periode yaitu Makkah dan Madinah.
Sekali turun terkadang Rasulullah menerima 1 surat yang pendek dan terkadang hanya 1 atau beberapa ayat saja. Bahkan pernah hanya beberapa kata saja yang menjadi bagian dari satu ayat. Pada bab nuzulul qur’an ini akan dibahas pengertian nuzulul qur’an, tahap-tahap, waktu dan periodesasi turunnya dan pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Nabi dan para sahabat hingga sampai kepada seluruh umat muslim.

B.       Rumusan Masalah
1.        Apa pengertian Nuzulul Qur’an ?
2.        Bagaimana tahapan-tahapan turunnya Al-Qur’an ?
3.        Apa hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur ?
4.        Bagaimana waktu dan periodesasi turunnya Al-Qur’an ?
5.        Bagaimana pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Nabi dan para sahabat?


BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Nuzulul Qur’an
Dalam Ensiklopedi Islam[1] disebutkan bahwa ada 2 makna nuzulul Qur’an. Pertama, bahwa kata Nuzul berasal dari kata “ nazzala-yunazzilu” dengan makna konotatif yaitu turun secara berangsur-angsur. Kedua, kata nuzul berasal dari kata ”anzala-yunzillu” dengan makna konotasi menurunkan. Dua makna diatas sebagaimana yang diungkapkan Al-Qur’an relevan dengan turunnya Al-Qur’an.
Para ulama berbeda pendapat ketika memakai kata nuzul,inzal dan tanzil yang terdapat pada beberapa ayat diatas. Ada yang memakainya sebagai “idhar Al-Qur’an” yang berarti menampakkan atau melahirkan Al-Qur’an. Ada juga yang memaknainya bahwa Allah mengajarkannya kepada malaikat Jibril,baik mengenai bacaannya maupun pemahamannya, lalu Jibril menyampaikannya kepada Nabi Muhammad SAW yang berada di bumi.[2]
Ulama lain menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kata diatas adalah” al-I’lamu bihi” yaitu memberitahukannya. Penggunaaan istilah inzal,tanzil dan nuzul mengisyaratkan akan kebesaran dan ketinggian zat pemilik kalam yaitu Allah.[3]

B.       Tahap-Tahap turunnya Al-Qur’an
Secara kronologis,cara Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad dapat dijelaskan sebagai berikut:
a)        Tahapan pertama ( At-Tanazzulul Awwalu )
Tahapan pertama, Al-Qur’an diturunkan/ditempatkan ke Lauh Mahfudh. Yakni suatu tempat dimana manusia tidak bisa mengetahuinya secara definitif/pasti. Sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya: “Bahkan (yang didustakan mereka) itu ialah Al-Qur’an yang mulia yang tersimpan di Lauh Mahfudh”( Q.S. Al-Buruj:21-22)
Adapun hikmah dari tahapan pertama ini adalah seperti hikmah dari eksistensi Lauh Mahfudh itu sendiri dan fungsinya sebagai tempat catatan umum(arsip) dari segala hal yang ditentukan dan diputuskan Allah SWT dari segala makhluk,alam dan semua kejadian.
b)        Tahapan Kedua (At-Tanazzulu Ats-Tsani)
Tahapan kedua, Al-Qur’an turun dari Lauh Mahfudh ke Baitul Izzah di langit dunia (sama’ ad-dunya) yang terdekat dengan bumi. Adapun dalil tentang penurunan Al-Qur’an pada tahapan ini adalah :

Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[4] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.”( Q.S. Ad-dukhaan:3)
 Ibnul Qoyyim menyebutkan beberapa tingkatan metode turunnya wahyu Al Qur’an kepada kekasih-Nya itu.
1. Melalui mimpi yang hakiki (terbayang dengan jelas). Ini dicontohkan pada beberapa permulaan wahyu yang turun kepada Nabi Shallallaahu ‘Alayhi Wasallam. Perantaraan mimpi ini juga dialami oleh Nabi Ibrahim ‘Alayhis Sallam agar menyembelih anaknya. Peristiwa ini diabadikan Allah swt: "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". [QS.Ash Shaffat/37:102].
2. Apa yang disusupkan ke dalam jiwa dan hati beliau, tanpa terlihat. Seperti disampaikan Nabi saw. dalam hadits berikut, “Sesungguhnya Ruhul Qudus menghembuskan ke dalam diriku bahwa suatu jiwa tidak mungkin mati sampai disempurnakan rizkinya. Maka bertaqwalah kepada Allah, baguskanlah dalam meminta, dan janganlah kalian menganggap lamban datangnya rizki, sehingga kalian mencarinya dengan cara mendurhakai Allah, karena apa yang ada di sisi Allah tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan mentaati-Nya.” (HR.Bukhari)
3. Malaikat muncul di hadapan Nabi saw. dalam rupa seorang laki-laki, berbicara langsung hingga Nabi bisa memahami maksud pembicaraan tersebut. Dalam tingkatan ini terkadang para sahabat juga bisa melihat penampakan tersebut. Seperti dikenal dalam kisah “hadits Jibril” tentang makna Iman, Islam, dan Ihsan, di mana lelaki yang datang itu bisa disaksikan, padahal ternyata ia adalah malaikat Jibril (HR.Muslim).

4. Wahyu datang menyerupai bunyi gemerincing lonceng. Ini merupakan cara penyampaian wahyu yang paling berat dan malaikat tidak terlihat oleh pandangan Nabi saw. hingga dahi beliau berkerut mengeluarkan keringat walaupun saat itu cuaca sangat dingin, bahkan hewan tunggangan yang beliau naiki tak kuasa berderum ke tanah. Dalam Shahih Bukhari disebutkan wahyu seperti ini juga pernah datang saat Nabi saw. sedang meletakkan kakinya ditopang badan Zaid bin Tsabit ra. sehingga Zaid merasa keberatan dan hampir saja dia tidak kuat menyangganya.
5. Nabi saw. bisa melihat malaikat dalam wujud aslinya, lalu menyampaikan wahyu seperti yang dikehendaki Allah kepadanya. Wahyu seperti ini pernah datang dua kali, sebagaimana yang disebutkan Allah dalam surat An Najm ketika peristiwa Mi’raj. "Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha, Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia Telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar" (QS.An-Najm:13-18). Malaikat Jibril juga pernah mendatangi Nabi saw. dalam rupa yang sesungguhnya pada masa fatrah (periode kevakuman wahyu) setelah turunnya QS.Al ‘Alaq.
6. Wahyu yang disampaikan Allah kepada Rosulullah di atas lapisan-lapisan langit pada malam Isra’ Mi’raj, berisi kewajiban sholat. "Sesungguhnya Aku Ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang haqq) selain aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku" (QS. Thaha:14)
7. Allah berfirman secara langsung dengan Nabi saw. tanpa menggunakan perantara, sebagaimana keadaan ini juga pernah dialami Nabi Musa as. dalam perjalanannya mencari Tuhan. " …Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung." [QS.An Nisaa`/4 : 164].

Adapun hikmah diturunkannya Al-Qur’an pada tahap ini adalah sebagai berikut :[5]
1)      Sebagaimana pemberitahuan Allah kepada penghuni langit dunia tentang telah turunnya kitab Allah yang akan disampaikan kepada Rasul-Nya yang terakhir. Hal ini berbeda dengan kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada Rasul-Rasul sebelumnya,yaitu secara langsung diturunkan sekaligus,melainkan secara bertahap.
2)      Untuk lebih memperkuat keyakinan serta menghilangkan keraguan terhadap Al-Qur’an,karena kalam yang dicatat dan berada dalam berbagai tempat catatan lebih meyakinkan keberadaannya daripada yang hanya terdapat dalam satu tempat catatan saja.
c)        Tahapan Ketiga ( At-Tanazzulu Ats-tsaalistu )
Tahapan ketiga, Al-Qur’an turun dari baitul izzah di langit dunia langsung kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril. Dalam tahap inilah ajaran serta petunjuk Allah sampai kepada umat manusia . adapun dalil mengenai hal ini yaitu firman Allah:

Artinya : Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas.” (Q.S.Asy-Syu’araa’:193-195)


C.Hikmah Turunnya Al-qur’an secara berangsur-angsur
Hikmah Al-quran Diturunkan berangsur-angsur:
1.      Untuk memantapkan ayat-ayat itu dalam hati Rasulullah SAW
2.      Untuk mengokohkan hati Rasulullah dan memperkuat tekad dan semangat juangnya dalam melaksanakn tugas beliau sebagai Rasul
3.      Untuk menyesuaikan kepentingan Rasulullah dan kaum muslimin
4.      Supaya timbul rasa kerinduan dalam hati Nabi untuk kembalinya wahyu kepada beliau
5.      Supaya lenyap sama sekali rasa takut yang dialami Nabi ketika turunya wahyu pertama kali diGua Hira

D.Waktu Turunnya Al-qur’an dan Periodesasinya
a)        Waktu Turunnya Al-Qur’an
Permulaan turunnya Al-Qur’an adalah pada malam Qadar, tanggal 17 Ramadhan tahun ke empat puluh dari kelahiran Nabi Muhammad SAW,bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 M,sewaktu beliau sedang berkhilwat(meditasi) di dalam Goa Hira di atas jabal nur,sebelah utara Kota Mekkah. Ayat yang pertama kali turun adalah ayat 1-5 Surat Al-Alaq:

Artinya :”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
            Al-Qur’an selesai diturunkan menjelang kewafatan Nabi Muhammad SAW pada tanggal 9 dzulhijjah tahun 63 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau tahun 10 H yang bertepatan dengan tanggal 27 Oktober 632 M,dengan turunnya surat yang terakhir yaitu surat Al-Maidah ayat 3.Menurut Imam As-Suyuthi yang mengikuti pendapat Abdullah Ibnu Abbas,bahwa ayat yang terakhir turun adalah surat Al-baqarah ayat 281.Karena itu jumhur ulama,masa turunnya Al-Qur’an dari permulaan hingga akhir adalah selama 22tahun 2bulan 22hari.

b)       Periodesasi turunnya Al-Qur’an
Masa turunnya Al-Qur’an selama 22 tahun lebih itu terbagi dalam 2 periode sebagai berikut:
a)        Periode Pertama adalah periode Mekkah yaitu periode dimana Nabi Muhammad SAW masih tinggal di Mekkah,yang menurut para ulama ahli penelitian selama 12 tahun 5 bulan lebih 13 hari,terhitung mulai turun pertama tanggal 17 Ramadhan tahun 41 kelahiran Nabi Muhammad SAW sampai dengan Rabiul awal tahun 54 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada periode ini turun kurang lebih 19/30 dari jumlah seluruh isi Al-Qur’an,yang terdiri dari 90 surat yang mencakup 4.773 ayat.(menurut dasar mushhaf Utsman sekarang).
b)        Periode kedua adalah periode Madinah yaitu periode dimana Nabi Muhammad SAW sudah hijrah ke madinah dan diam disana yang telah disepakati para ulama selama 9 tahun 9 bulan lebih 9 hari, terhitung sejak awal Rabiul Awal tahun 54 kelahiran Nabi Muhammad SAW sampai dengan tanggal 9 Dzulhijjah tahun 63 kelahiran Nabi Muhammad SAW atau tahun 10 H, yang bertepatan dengan tanggal 27 Oktober 632 M. selama periode kedua ini turunlah lebih kurang 11/30 dari semua isi Al-Qur’an yang terdiri dari 24 surat yang meliputi 1463 ayat(menurut mushhaf Utsman sekarang.
E.Ilmu-ilmu yang terkait dengan Nuzulul Al-qur’an
1.  Ilmu Mawathin Nuzul, yaitu ilmu yang membahas tentang tempat-tempat turunnya ayat Qur'an.
2.  Ilmu Asbabun Nuzul, yaitu ilmu yang membahas sebab-sebab turunnya ayat Al-qur'an.
3. Ilmu Nasikh Mansukh,yaitu ilmu yang membahas ayat yang terhapus dan digantikan dengan ayat yang baru.
4. Ilmu Munasabah,yaitu ilmu yang menerangkan kolerasi atau hubungan antara suatu ayat dengan ayat yang lain,baik yang ada dibelakangnya atau ayat yang ada didepannya.




F.Pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad SAW
Semasa Nabi Muhammad SAW masih hidup, beliau telah memiliki beberapa pencatat wahyu, diantaranya Khulafa’ Ar-Rasyidin, Muawiyah, Zaid ibn Tsabit, Khalid bin Walid, Ubai bin Ka’ab dan Tsabit bin qies[6].
Pola pengumpulan Al-Qur’an pada masa itu masih sangat sederhana. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Mustadraknya dengan Isnad yang memenuhi persyaratan Bukhari Muslim dari Zaid bin Tsabit,ia berkata: “ Di kediaman Rasulullah kami menyusun ayat ayat Al-Qur’an yang tercatat pada riqa’ ”[7]
Adapun alat tulis yang digunakan para sahabat pada waktu itu sangat beraneka ragam, antara lain: al-riqa’(jamak dari ruq’ah yang berarti lembaran-lembaran kulit,lembaran daun atau lembaran kain), al-karanif(kumpulan pelepah kurma yang lebar), al-aktab(kayu yang diletakkan di punggung unta sebagai alas untuk ditunggangi), al-aktaf(tulang kambing atau unta yang lebar) dan lain sebagainya.
Ada beberapa sebab mengapa pada masa Nabi SAW Al-Qur’an belum ditulis dan dibukukan menjadi satu mushaf karena para penghafal di kalangan sahabat masih banyak jumlahnya,Nabi masih selalu menunggu akan turunnya wahyu dari waktu ke waktu,kemungkinan adanya ayat Al-Qur’an yang menasakh beberapa ketentuan hukum yang turun sebelumnya.[8]

G.Pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar As-Shiddiq
a.    Adanya beberapa peperangan yang menyebabkan banyaknya penghafal Al-Qur’an yang gugur
b.    Timbulnya kekhawatiran akan hilangnya Al-Qur’an
c.    Dikumpulkan dan ditulis ulang secara berurutan atas kesepakatan(ijma’) para sahabat
d.   Munculnya ilmu jam’il Qur’an

H.Pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Utsman bin Affan
a.    Adanya akulturasi budaya (antara budaya islam dan budaya lokal)
b.    Adanya kesulitan dalam pengucapan beberapa huruf arab seperti jim,fa’ dsb.
c.    Upaya penyatuan bacaan seperti yanga ada pada suku quraysh
d.   Ditulis ulang dan dibukukan secara sistematis ( 6 eksemplar dengan 1 di madinah dan 5 di mekkah)
e.    Munculnya ilmu rosmul Qur’an

I.Pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Ali bin Abi Thalib dan setelahnya
a.    Kekuasaan khilafah islamiyah semakin luas
b.    Adanya kesalahan dalam pembacaan Al-qur’an yang dapat merubah makna
c.    Pemberian tanda pembeda antara huruf oleh Abu Al-Aswad Al-Du’ali
d.   Dilanjutkan dengan pemberian tanda pembeda antar ucapan oleh Al-Kisa’i(ahli nahwu)

DAFTAR PUSTAKA

A L A Byadl Ibrahim, Sejarah Al-Qur’an, terj.Halimuddin. Jakarta : Rineka Cipta.1996

Djalal H.A, Prof. Dr. H. Abdul. Ulumul Qur’an. Surabaya : Dunia Ilmu. 2000

Nur Ichwan, Muhammad. Studi ilmu-ilmu al-Quran.Semarang: Rasail Media Group.2008


Syadili,Ahmad, Ahmad Rofi’I, Ulumul Qur’an,tt               





[1]       Departemen agama RI, ensiklopedi islam jilid II (Jakarta:1993).859
[2]       Muhammad Badruddin al Zarkasyi, Al-Burhan fi’ulum al-qur’an (Mesir:MA al-babi al-habibi,t.th cet ke 2,jilid I,229
[3]       Ahmad Abdul kamal, ulum al-qur’an(t.tp. t.pn. t.th),11
[4]        Malam yang diberkahi ialah malam Al Quran pertama kali diturunkan. di Indonesia umumnya   dianggap jatuh pada tanggal 17 Ramadhan.
[5]        Sya’ban Muhammad Ismail, Bandingkan dengan Muhammad Salim Mahisin,op.cit,59
[6]       Dr. Subhi Al-Saleh,Studi ilmu-ilmu al-qur’an(semarang:rasail Media Group,2008),34
[7]       Ibid,69
[8][8]       Muhammad Nur Ichwan, studi ilmu-ilmu al-Quran (semarang:rasail Media Group,2008),44-45