Thursday, 28 November 2013

KETRAMPILAN PENGELOLAAN KELAS YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEGATURAN LINGKUNGAN FISIK KELAS


PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG
Pembelajaran yang efektif dapat bermula dari iklim kelas yang dapat menciptakan suasana belajar yang menggairahkan, untuk itu perlu diperhatikan pengaturan/ penataan ruang kelas dan isinya, selama proses pembelajaran. Lingkunagan kelas perlu ditata dengan baik sehingga memungkinkan terjadinya interaksi yang aktif antara siswa dengan guru, dan antar siswa.
Hal yang penting bahwa dalam penataan tempat duduk siswa tersebut guru tidak hanya menyesuaikan dengan metode pembelajaran yang digunakan saja. Tetapi seorang guru perlu mempertimbangkan karakteristik individu siswa, baik dilihat dari aspek kecerdasan, psikologis, dan biologis siswa itu sendiri. Hal ini penting karena guru perlu menyusun atau menata tempat duduk yang dapat memberikan suasana yang nyaman bagi para siswa.
Tujuan utama penataan lingkungan fisik kelas ialah mengarahkan kegiatan siswa dan mencegah munculnya tingkah laku siswa yang tidak diharapkan melalui penataan tempat duduk, perabot, pajangan, dan barang-barang lainnya di dalam kelas.
Sesuai dengan penjelesan tersebut, bahwa penataan ruang kelas atau  pengelolaan kelas merupakan upaya yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, melalui kegiatan pengaturan siswa dan barang/ fasilitas. Selain itu pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakakan, memelihara tingkah laku siswa yang dapat mendukung proses pembelajaran. Maka dengan demikian pengelolaan kelas berupa penataan tempat duduk siswa sebagai bentuk pengelolaan kelas dapat membantu menciptakan proses pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.

B.       RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian lingkungan fisik kelas?
2.      Bagaimana pengelolaan lingkungan fisk kelas?



PEMBAHASAN

A.      LINGKUNGAN FISIK FISIK KELAS
Lingkungan kelas adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Kelas sebagai sesuatu yang bersifat multidimensional, serentak, segera, dan tidak dapat diprediksi. Ruang kelas adalah lingkungan yang kompleks dimana manusia berinteraksi, saling bergantung antar satu orang ke orang lain, dan dengan berbagai karakter unik dalam lingkungan sosial dan fisik yang spesifik.
Lingkungan kelas tersebut dapat bersifat fisik, misalnya ruang kelas, perabotan kelas, kebersihan kelas, meja-kursi, dan lain lain.[1]
Lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting dalam hasil pembelajaran. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat akan mendukung meningkatnya intensitas pembelajaran siswa dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan belajar. Kondisi dan lingkungan yang menjadi perhatian dan kepedulian dalam terciptanya pembelajaran sebagai berikut :
1.    Ruang tempat berlangsungnya pembelajaran
Besarnya ruangan kelas sangat bergantung kepada beberapa hal antara lain: jenis kegiatan (kegiatan pertemuan tatap muka klasikal dalam kelas atau bekerja di ruang praktikum) dan jumlah siswa yang melakukan kegiatan (kegiatan bersama secara klasikal atau kegiatan dalam kelompok kecil). Ruang belajar yang merupakan tempat siswa dan guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar meliputi ruang kelas, laboraturium, dan ruang auditorium (Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen, 1996:45).
Syarat-syarat
kelas yang baik adalah :
a.       Rapi, bersih, sehat dan tidak lembab
b.      Cukup cahaya dan sirkulasi udara
c.       Sirkulasi udara cukup
d.      Perabot dalam keadaan baik, cukup jumlahnya, dan ditata dengan rapi
e.       Jumlah siswa tidak lebih dari 40 orang
f.       Ukuran ruang kelas 8m x 7m
g.      Dapat memberikan keleluasaan gerak, komunikasi pandangan dan pendengaran
h.      Pengaturan perabot agar memungkinkan guru dan siswa dapat bergerak leluasa
i.        Daun jendela tidak mengganggu lalu lintas[2]
Tujuan utama penataan lingkungan fisik kelas adalah mengarahkan kegiatan siswa dan mencegah munculnya tingkah laku siswa yang tidak yang tidak diharapkan melalui penataan tempat duduk, perabot, dan barang-barang lainnya yang ada di dalam kelas, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi aktif antara siswa dan guru serta antar siswa, dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu penataan kelas harus memungkinkan guru dapat memantau semua tingkah laku siswa sehingga dapat dicegah munculnya masalah disiplin. Melalui penataan kelas, diharapkan siswa dapat memusatkan perhatiannya dalam proses pembelajaran dan akan bekerja secara efektif.

B.       PENGELOLAAN LINGKUNGAN FISIK KELAS
Pengelolaan kelas yang menyangkut pengelolaan lingkungan fisik proses belajar mengajar, khususnya adalah ruangan kelas. Ketrampilan dasar yang terkait dengan pengelolaan lingkungan fisik ruangan belajar meliputi: pengaturan ruang belajar, pengaturan meja dan kursi belajar, penempatan media pembelajaran.
1.      Pengaturan ruang belajar
Guru biasanya menggunakan ruang belajar dengan arsitekstur yang sudah ada. Benda-benda   yang merupakan isi pokok ruang belajar juga sudah ada dan tertata sebelum guru menggunakan ruang belajar. Ruang belajar  pada umumnya berbentuk empat persegi panjang, berisi papan tulis, meja dan kursi  belajar siswa, dan meja dan kursi guru. Benda-benda lain yang sering juga ada di dalam ruang belajar adalah almari, rak, dan benda-benda pajangan. Hal-hal yang perlu diketahui mengenai pengaturan benda-benda yang menjadi isi ruang belajar, dan guru seharusnya mempunyai ketrampilan untuk mengaturnya adalah sebagai berikut.
a.       Isi ruangan tidak terlalu padat. Isi ruangan yang terlalu padat menyebabkan kesan terlalu (“noise”), yang dapat mengganggu transmisi pesan pelajaran kepada siswa. Ruang kelas di Indonesia saat ini cenderung diisi murid sebanyak mungkin (bisa mencapai 40-50 siswa untuk ruangan berukuran kira-kira 7 x 8 cm), sehingga kelas tampak berjubel. Pada dinding ruangan sering dipasang pajangan, pajangan yang terlalu banyak menyebabkan “noise”.
b.       Penataan benda-benda dalam ruangan belajar perlu diatur sedemikian rupa sehingga: memberi kebebasan untuk berlalulintas, memudahkan kerja, dan artistik.[3]
c.       Ventilasi dan pengaturan cahaya
Ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa. Jendela harus cukup besar sehingga memungkinkan cahaya matahari masuk. Kapur tulis yang dipergunakan sebaiknya kapur yang bebas dari debu dan selalu bersih. Tidak diperkenankan merokok dalam kelas. Cahaya masuk dai sebelah kiri jangn berlawanan dengan  bagian depan.[4]
d.      Pengaturan penyimpanan barang-barang
Barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai dan cara pengambilan dari tempat khusus hendaknya diatur sedemikian rupasehingga barang-barang tersebut segera dapat dipergunakan.
e.       Pengaturan alat-alat  pelajaran
Alat-alat pengajaran yang harus ditata meliputi: perpustakaan kelas, alat-alat media pengajaran, papan tulis, kapur tulis, dan papan presentasi siswa.
f.       Penataan kebersihan dan keindahan kelas
Hiasan dinding perlu di manfaatkan untuk menjaga keindahan kelas diantaranya: burung garuda, teks proklamasi, slogan pendidikan, gambar para pahlawan dan peta atau globe. Kemudian almari juga perlu ditata agar tidak mengganggu ketika pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar berllangsung.[5]

Lingkunagan kelas perlu ditata dengan baik sehingga memungkinkan terjadinya interaksi yang aktif antara siswa dengan guru, dan antar siswa. Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru dalam menata lingkungan fisik kelas menurut Loisell (Winataputra, 2003: 9.22) yaitu:
1.      Visibility ( Keleluasaan Pandangan)
Visibility artinya penempatan dan penataan barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu pandangan siswa, sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru, benda atau kegiatan yang sedang berlangsung. Begitu pula guru harus dapat memandang semua siswa kegiatan pembelajaran.
2.      Accesibility (mudah dicapai).
Penataan ruang harus dapat memudahkan siswa untuk meraih atau mengambil barang-barang yang dibutuhkan selama proses pembelajaran. Selain itu jarak antar tempat duduk harus cukup untuk dilalui oleh siswa sehingga siswa dapat bergerak dengan mudah dan tidak mengganggu siswa lain yang sedang bekerja.
3.      Fleksibilitas (Keluwesan)
Barang-barang di dalam kelas hendaknya mudah ditata dan dipindahkan yang disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran. Seperti penataan tempat duduk yang perlu dirubah jika proses pembelajaran menggunakan metode diskusi, dan kerja kelompok.
4.      Kenyamanan
Kenyamanan disini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas.
5.      Keindahan
Prinsip keindahan ini berkenaan dengan usaha guru menata ruang kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan belajar. Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan dapat berengaruh positif pada sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.
Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk bekelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu dan memantau tingkah laku siswa dalam belajar. Dalam pengaturan ruang belajar, hal-hal berikut perlu diperhatikan menurut Conny Semawan,dkk. (udhiezx.wordpress: 3) yaitu:
  • Ukuran bentuk kelas
  • Bentuk serta ukuran bangku dan meja
  • Jumlah siswa dalam kelas
  • Jumlah siswa dalam setiap kelompok
  • Jumlah kelompok dalam kelas
  • Komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa yang pandai dan kurang pandai, pria dan wanita).[6]
2.      Pengaturan letak meja dan kursi belajar bersifat “moveable”, artinya mudah dipasang dan dibongkar. Untuk kelas sains, pengaturan seperti itu dapat sewaktu-waktu diperlukan untuk pengajaran klasikal, kerja kelompok, dan diskusi kelompok.
Tempat duduk merupakan fasilitas atau barang yang diperlukan oleh siswa dalam proses pembelajaran terutama dalam proses belajar di kelas di sekolah formal.tempat duduk dapat mempengaruhi proses pembelajaran siswa, bila tempat duduknya bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang, sesuai dengan keadaan tubuh siswa. Maka siswa akan merasa nyaman dan dapat belajar dengan tenang.
Bentuk dan ukuran tempat yang digunakan bermacam-macam, ada yang satu tempat duduk dapat di duduki oleh seorang siswa, dan satu tempat yang diduduki oleh beberapa orang siswa. Sebaiknya tempat duduk siswa itu mudah di ubah-ubah formasinya yang disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan pembelajaran. Untuk ukuran tempat dudukpun sebaiknya tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil sehingga mudah untuk diubah-ubah dan juga harus disesuaikan dengan ukuran bentuk kelas.
Sebenarnya banyak macam posisi tempat duduk yang bias digunakan di dalam kelas seperti berjejer ke belakang, bentuk setengah lingkaran, berhadapan, dan sebagainga. Biasanya posisi tempat duduk berjejer kebelakang digunakandalam kelas dengan metode belajar ceramah. Dan untuk metode diskusi dapat menggunakan posisi setengah lingkaran atau berhadapan. Dan sebagai alternatif penataan tempat duduk dengan metode kerja kelompok atau bahkan bentuk pembelajaran kooperatif, maka menurut Lie (2007: 52) ada beberapa model penataan bangku yang biasa digunakan dalam pembelajaran kooperatif, diantaranya seperti:
  • Meja tapal kuda, siswa bekelompok di ujung meja
  • Penataan tapal kuda, siswa dalam satu kelompok ditempatkan berdekatan
  • Meja Panjang
  • Meja Kelompok, siswa dalam satu kelompok ditempatkan berdekatan
  • Meja berbaris, dua kelompok duduk berbagi satu meja
Cooperative Learning-Teknik Jigsaw
Dan masih ada beberapa bentuk posisi tempat duduk yang dapat diterapkan dalam pembelajaran kooperatif ini.
Dalam memilih desain penataan tempat duduk perlu memperhatikan jumlah siswa dalam satu kelas yang kan disesuaikan pula dengan metode yang akan digunakan.
Hal yang tidak boleh kita lupakan bahwa dalam penataan tempat duduk siswa tersebut guru tidak hanya menyesuaikan dengan metode pembelajaran yang digunakan saja. Tetapi seorang guru perlu mempertimbangkan karakteristik individu siswa, baik dilihat dari aspek kecerdasan, psikologis, dan biologis siswa itu sendiri. Hal ini penting karena guru perlu menyusun atau menata tempat duduk yang dapat memberikan suasana yang nyaman bagi para siswa.[7]
3.      Penempatan media pembelajaran disesuaikan dengan kepentingan
Di dalam kelas biasanya ada media yang ditempatkan permanen, dan ada yang dibongkar pasang. Media yang ditempatkan permanen biasanya berbentuk pajangan yang dipajang di dinding. Penempatan pajangan ini sebaiknya tidak di dinding yang ada di depan kelas, karena menjadi pengganggu ketika guru mengajar dengan menggunakan media yang di pajang di depan kelas. Lama pemasangan pajangan di dinding atau ditempat lain perlu dibatasi waktunya; jika terlalu lama, siswa menjadi kurang respek terhadapnya, dan media biasanya menjadi tidak terawat.[8]
Media, alat peraga, buku panduan, alat permainan seperti peralatan alat-alat musik dan peralatan lainnya sebaiknya disimpan dengan rapi menurut kelompok fungsinya, di tempat yang sudah disediakan (rak/lemari) agar dapat dicari dengan mudah pada saat akan digunakan dan hanya dikeluarkan bila akan digunakan.
Namun apabila alat permainan dan media yang Anda miliki terbatas, jangan kuatir karena anak-anak memiliki imajinasi yang tinggi. Dengan imajinasi tersebut mereka masih dapat bermain dan melakukan aktivitas dengan materi, media, dan alat-alat yang tersedia. Kegembiraan mereka tidak akan berkurang dan mereka masih bisa memperoleh pengalaman yang sangat berarti.[9]

PENUTUP
1.      Lingkungan kelas adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan.
2.      Ruang belajar yang merupakan tempat siswa dan guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar meliputi ruang kelas, laboraturium, dan ruang auditorium (Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen, 1996:45).
3.      Syarat-syarat kelas yang baik adalah :
j.        Rapi, bersih, sehat dan tidak lembab
k.      Cukup cahaya dan sirkulasi udara
l.        Sirkulasi udara cukup
m.    Perabot dalam keadaan baik, cukup jumlahnya, dan ditata dengan rapi
n.      Jumlah siswa tidak lebih dari 40 orang
o.      Ukuran ruang kelas 8m x 7m
p.      Dapat memberikan keleluasaan gerak, komunikasi pandangan dan pendengaran
q.      Pengaturan perabot agar memungkinkan guru dan siswa dapat bergerak leluasa
r.        Daun jendela tidak mengganggu lalu lintas
4.      Tujuan utama penataan lingkungan fisik kelas adalah mengarahkan kegiatan siswa dan mencegah munculnya tingkah laku siswa yang tidak yang tidak diharapkan melalui penataan tempat duduk, perabot, dan barang-barang lainnya yang ada di dalam kelas, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi aktif antara siswa dan guru serta antar siswa, dalam kegiatan pembelajaran.
5.      pengelolaan lingkungan fisik ruangan belajar meliputi:
a.       pengaturan ruang belajar,
b.      pengaturan meja dan kursi belajar,
c.       penempatan media pembelajaran.


6.      prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru dalam menata lingkungan fisik kelas menurut Loisell (Winataputra, 2003: 9.22) yaitu:
a.       Visibility ( Keleluasaan Pandangan)
b.      Accesibility (mudah dicapai).
c.       Fleksibilitas (Keluwesan)
d.      Kenyamanan
e.       Keindahan




DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain,Aswan. Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta: Rineka Cipta. 2002). cet. II



[1]http://kedaibunga.wordpress.com/2010/04/23/ekologi-kelas-lingkungan-kelas-psikologi-pendidikan/
[2]http://my.opera.com/karuniayenisusilowaty/blog/2012/09/26/makalah-manajemen-kelas-pengaturan-kondisi-dan-penciptaan-iklim-belajar-yang-men
[3]http://pendidikansosiologistkipbima.files.wordpress.com/2013/08/ketrampilan-mengelola-kelas.pdf
[4] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), cet. II, 230
[5] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi.....,  229
[6]http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/28/penataan-tempat-duduk-siswa-sebagai-bentuk-pengelolaan-kelas/
[7]http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/28/penataan-tempat-duduk-siswa-sebagai-bentuk-pengelolaan-kelas/
[8]http://pendidikansosiologistkipbima.files.wordpress.com/2013/08/ketrampilan-mengelola-kelas.pdf
[9]http://kedaibunga.wordpress.com/2010/04/23/ekologi-kelas-lingkungan-kelas-psikologi-pendidikan/