Friday, 29 November 2013

PENILAIAN TES DAN NON-TES



PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Secara umum penilaian berbasis kelas antara lain terdiri atas ulangan harian, pemberian tugas, dan ulangan umum. Berbagai jenis penilaian kelas antara lain tes tertulis, tes perbuatan, pemberian tugas dan lain sebagainya. Tentunya guru harus meyakini bahwa tidak ada suatu tespun yang cocok setiap saat. Jenis penilaian sangat tergantung pada kompetensi dasar maupun indikator yang diuraikan dalam kurikulum.
Dalam penilaian berbasis kelas terdapat dua jenis penilaian yang sering digunakan yaitu tes dan non tes, dua jenis penilaian ini memiliki fungsi yang sama dalam penilaian yaitu untuk menilai dan mengukur ketercapain siswa dalam suatu pelajaran.
Sebelum melakukan penilaian guru harus mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan menilai tersebut misalnya saja instrumen, item soal serta kriteria penskoran untuk setiap soal.
Untuk lebih jelas lagi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan penilaian berbasis kelas khususnya dari segi teknik penilaian kelas akan dibahas pada bab selanjutnya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian Tes dan Non Tes?
2.      Apa Saja Instrumen Pelaksanaan Tes dan Non Tes?
3.      Bagaimana Menentukan Item/Soal Tes dan Non Tes?
4.      Bagaimana Pedoman Penskoran?










PEMBAHASAN
A.    Pengertian Tes dan Non Tes
1.      Tes
Secara harfiah kata “tes” berasal dari bahasa Perancis Kuno; testum dengan arti piring untuk menyisishkan logam-logam mulia, dalam bahasa Inggris ditulis dengan test yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “tes”, “ujian” atau “percobaan”, sedangkan dalam bahasa Arab: Imtihan yang berarti ujian.
Adapun dari segi istilah, menurut Anne Anastasi dalam karya tulisnya yang berjudul Psychological Testing, yang dimaksud tes adalah alat pengukuran yang mempunyai standar objektif sehingga dapat digunakan secara meluas serta dapat betul-betul digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu.[1] Asep jihad dan Abdul Haris mengemukakan bahwa yang dimaksud tes adalah himpunan pertanyaan yang harus dijawab, ditanggapi atau tugas yang harus dilaksanakan oleh orang yang dites (testee).[2] Sedangkan menurut F. L. Goodenough, tes adalah suatu tugas atau serangkaian tugas yang diberikan kepada individu atau sekelompok individu dengan maksud untuk membandingkan kecakapan mereka satu dengan yang lain.[3]
Teknik ini digunakan untuk menilai kemampuan siswa yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, bakat khusus (bakat bahasa, bakat teknik, dan sebagainya), dan bakat umum (bakat intelegensi). Bentuk-bentuk tes antara lain: pilihan ganda, uraian, true-false essay, dan lain sebagainya.[4]
a.         Tehnik berbentuk tes, digunakan untuk menilai kemampuan siswa yang mencakup aspek pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan bakat.
1.    Tes formatif: dilakukan setiap akhir program untuk mengetahui sejauh mana seorang siswa telah terbentuk setelah mengikuti suatu program tertentu (ulangan harian).
2.    Tes sumatif: dilakukan setelah berakhirnya  sekelompok program tertentu (ulangan akhir semester/ulangan kenaikan kelas).[5]
b.         Tehnik berbentuk non-tes untuk menilai sikap, minat, bakat, dan kepribadian siswa,[6] metode yang bisa digunakan diantaranya:
1.    Skala bertingkat: skala menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka terhadap suatu hasil pertimbangan. Meletakkannya nilainya mulai dari yang rendah ke tinggi sehingga disebut dengan skala bertingkat.
2.    Kuisioner (angket): daftar pertanyaan yang harus diisi oleh responden sehingga diketahui data diri individu, pengalaman, pengetahuan, sikap atau pendapat-pendapatnya yang lain.
3.    Daftar cocok: deretan pertanyaan yang mana responden untuk menjawabnya hanya dengan membubuhkan tanda centang/cocok.
4.    Wawancara: digunakan untuk mendapatkan jawaban dari pihak responden secara sepihak.
5.    Pengamatan:  dilakuakan secara teliti dan sistematis. Macam-macam observasi ada tiga yaitu observasi partisipan, observasi sistematik, dan observasi eksperimental.
6.    Riwayat hidup: menggambarkan keadaan seseorang selama hidupnya.[7]

2.      Non Tes
Teknik non tes adalah teknik yang digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik yang dilakukan tanpa menguji peserta didik melainkan dilakukan dengan pengamatan secara sistematis, melakukan wawancara, menyebarkan angket, dan memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen.[8]
Tes ini digunakan untuk menilai sikap, minat, dan kepribadian siswa yang mungkin bisa dilakukan dengan wawancara, angket, dan observasi.[9]

B.       INSTRUMEN PELAKSANAAN TES
Beberapa alat/instrumen penilaian yang digunakan dalam penilaian berbasis kelas:
1.         Kuis: pertanyaan ini diajukan kepada peserta didik untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah disampaikan. Apabila peserta didik belum menguasai kompetensi (materi) maka sebaiknya seorang guru menjelaskan kembali materi tersebut secara singkat dengan mengguanakn metose  yang berbeda.
2.         Pertanyaan lisan di kelas: dapat berupa konsep, prinsip atau teori. Pertanyaan ini diajukan kepada peserta didik kemudian peserta didik diberi waktu untuk berfikir dan atau berdiskusi. Apabila diskusi tersebut mengalami kebuntuan maka  guru langsung mengklarifikasi dan menyimpulkan dari jawaban-jawaban peserta didik.
3.         Tes essay: tes yang jawabannya berupa uraian kalimat yang relatif panjang  atau berupa karangan
4.         Tes objektif: dapat berupa multiple choice, true-false, uraian singkat, dan menjodohkan.
5.         Tes perbuatan dan sikap.[10] Tes yang menuntut jawaban peserta didik dalam bentuk perilaku, tindakan dan perbuatan.
6.         Interview/wawancara: cara menghimpun bahan-bahan yang dilaksanankan dengan tanya jawab lisan secara sepihak.
7.         Angket
8.         Survey[11]
9.         Tes identifikasi
10.     Tes simulasi
11.     Tes contoh kerja
12.     Penilaian aspek minat dan bakat[12]

C.      PENENTUAN ITEM/SOAL
Dalam membuat soal tagihan harus menggunakan  tingkat berfikir dari yang sederhana sampai atau konkret terus meningkat ke level yang lebih komplek, dengan proporsi yang sebanding dengan  jenjang pendidikan. Untuk tingkat sekolah menengah, tingkat berfikir yang  terlibat sebaiknya didominasi tingkat pemahaman, aplikasi dan analisis. Bentuk tagihan yang digunakan di sekolah dikategorikan menjadi dua yaitu tes objektif dan non-objektif.[13]
Secara keseluruhan hal-hal yang harus diperhatikan dalam menentukan item/soal adalah:
a.       Soal jelas
b.      Mengacu pada indikator
c.       Menggunakan bahasa yang baik dan benar
d.      Semua pilihan jawaban logis
e.       Pokok soal tidak menggunakan pernyataan-pernyataan yang bersifat negatif
f.       Semua soal mempunyai satu jawaban yang benar untuk pilihan ganda
g.      Setiap soal hanya mengandung satu pertanyaan saja[14]
h.      Setiap soal yang dibuat harus memperhatikan derajat kesukarannya (tingkat kesukarannya), yaitu tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah.
i.        Dalam soal pilihan ganda, salah satu pilihannya adalah kunci jawaban dan yang lain adalah diktator ( jawaban pengecoh)
j.        Soal dapat digunakan sebagai pembeda antara siswa yang  berkemampuan tinggi dan siswa yang berkemampuan rendah.[15]

Contoh-contoh membuat soal/item:
1.      Tes objektif
Contoh kisi-kisi soal/item:[16]
Aspek soal


Materi
soal
B-S: 50 item
Pilihan Ganda: 30 item
Menjodohkan
Total
C1
C2
C3
Jum
lah
C1
C2
C3
Jum
lah
C1
C2
C3
Jum lah
30%
30%
40%
30%
30%
30%
40%
30%
40%
Konsep dasar kependudukan(40%)
6
6
8
20
3
4
5
12
2
2
4
8
40
Penduduk dan kualitas hidup manusia (40%)
6
6
8
20
3
4
5
12
2
2
4
8
40
Penduduk dan lingkungan hidup (20%)
3
3
4
10
2
2
2
6
1
1
2
4
20
Total soal
15
15
20
50
8
10
12
30
5
5
10
20
100



Keterangan:
C1      : hasil belajar kategori pengetahuan
C2      : hasil belajar kategori pemahaman
C3      : hasil belajar kategori aplikasi, analisis, sistesis dan evaluasi

Contoh-contoh soal tes objektif:
A.    Pilihan ganda (mupiple choice)
Contoh:
Membayar mahar dalam pernikahan hukumnya adalah.....
a.       Wajib
b.      Sunah
c.       Makruh
d.      Haram
e.       Mubah

B.     Benar-salah
Contoh:
Danau Toba terletak di Provinsi  Sumatra Selatan  (B/S)
Gas Nitrogen membantu dalam pembakaran (B/S)
Perceraian adalah hal yang paling dibenci oleh Allah (B/S)

C.     Uraian singkat
Contoh:
Orang yang memiliki  hak mewarisi karena adanya hubungan perkawinan  sah dalam islam disebut.............
Tebusan  atau sesuatu yang dijadikan mahar merupakan salah satu dari…




D.  PEDOMAN PENSKORAN
Penskoran umumnya menggunakan skala dari 1-4 atau 1-10. Dengan adanya pedoman ini memebuat guru agar tidak memberi skor 0 pada jawaban yang salah. Gunakan sistem bobot dalam memberikan nilai/skor terhadap jawaban siswa untuk setiap nomor.[17]
Cara pemberian skor terhadap hasil tes belajar pada umumnya disesuaikan dengan bentuk-bentuk soal yang dikeluarkan dalam tes tersebut, apakah tes uraian atau tes objektif.
1.      Tes uraian/essay
Pada tes uraian, pemberian skor umumnya mendasarkan pada bobot yang diberikan untuk setiap butir soal, atas tingkat kesukarannya, atau atas dasar banyak sedikitnya unsur yang harus terdapat dalam jawaban yang dianggap paling baik.
Misalnya tes subjektif menyajikan 5 butir soal dengan tingkat kesukaran yang sama. Atas dasar itu ditetapkan bahwa pedoman penskoran sebagai berikut:[18]
Uraian jawaban
Skor
Jawaban benar
5
Jawaban mendekati benar
4
Jawaban setengah benar/menjawab setengah
3
Jawaban sedikit menyinggung pertanyaan
2
Ada jawaban tetapi salah
1
Tidak menjawab
0

Apabila butir-butir soal itu mempunyai tingkat kesukaran yang berbeda maka nilai dari setiap butir soal itu juga berbeda antara nomer yang satu dengan yang lain.


2.      Tes objektif
Untuk tes objektif  bentuk true-false atau pilihan ganda misalnya, setiap item atau soal diberi skor maksimum 1. Apabila menjawab betul maka akan mendapatkan skor 1 dan jika salah maka  skornya 0 (nihil).[19]
Contoh:
Tes hasil belajar bidang studi PAI menyajikan 50 butir soal tes objektif dan bentuk multiple chioce dengan rincian sebagai berikut:
Nomor urut item
Model multiple choice item
Jumlah butir soal
Bobot jawaban betul
Jumlah
01-10
Melangkapi 5 pilihan
10
1
10
11-20
Asosiasi dengan 5 pilihan
10
1,5
15
21-30
Melengkapi berganda
10
1,5
15
31-40
Analisis hubungan antar hal
10
2
20
41-50
Analisis kasus
10
4
40
Total
50

100

3.      Penskoran ranah afektif
Dalam ranah afektif penskoran umumnya menggunakan skala Likert dengan rentang 1-5 atau 5-1 tergantung arah pertanyaan/pernyataan.
Misal:
Skor
Kriteria
0-20
Tidak berminat
21-40
Kurang berminat
41-60
Cukup beminat
61-80
Berminat
81-100
Sangat berminat
4.      Penskoran ranah psikomotor
Penskoran dalam ranah psikomotor, umumnya dilakukan langsung ketika siswa berunjuk kerja dan dapat diamati. Cara penskorannya dilakukan secara berjenjang seperti pada tes essay.[20]
Dalam penskoran soal bentuk uraian non-objektif, skor dijabarkan dalam rentang. Besarnya rentang skor duteteapak oleh kompleksitas jawaban, seperti 0-2, 0-4, 0-6, 0-8, 0-10 dan lain-lain. Skor minimal harus 0, karena peserta didik yang tidak menjawab pun akan memperoleh skor minimal tersebut, sedangkan skor maksimum ditentukan oleh penyusun soal dan keadaan jawaban yang dituntut dalam soal tersebut.[21]
Contoh soal:
 Jelaskan alasan yang membuat anda bangga menjadi bangsa Indonesia!

5.    Pedoman penskoran bentuk uraian non-objektif:
Kriteria jawaban
Rentang skor
Kebanggaan yang berkaitan dengan kekayaan alam Indonesia
0-2
Kebanggaan yang berkaitan dengan keindahan tanah air Indonesia (pemandangan alam, geografis dll)
0-2
Kebanggaan yang berkaitan dengan keanekaragaman budaya, suku, adat istiadat tetapi dapat bersatu
0-3
Kebanggaan yang berkaitan dengan keramahtamahan masyarakat Indonesia
0-2
Skor maksimum
9



PENUTUP
1.        Tes adalah cara atau prosedur yang perlu ditempuh dalam rangka pengukuran pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas (baik berupa pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau perintah-perintah yang harus dilaksanakan) oleh testee, sehingga dapat dihasilkan  nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi testee, yang  mana dapat dibandingkan dengan nilai-nilai yang dicapai testee lainnya, atau dibandingkan  dengan nilai standart tertentu.
2.        Tes dapat berupa tes tulis, tes lisan dan tes perbuatan.
3.        Non-tes merupakan penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa menguji peserta didik melainkan dilakukan dengan pengamatan, wawancara, menyebar angket dan memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen.
4.        Alat/instrumen penilaian yang biasa digunakan adalah kuis, pertanyaan lisan,tes essay, tes objektif, tes perbuatan dan sikap, interview/wawancara, angket, survey, tes identifikasi, tes simulasi, tes contoh kerja, dan penilaian aspek minat dan bakat.
5.        Dalam membuat soal tagihan harus menggunakan  tingkat berfikir dari yang sederhana sampai atau konkret terus meningkat ke level yang lebih komplek, dengan proporsi yang sebanding dengan  jenjang pendidikan.
6.        Pada tes uraian, pemberian skor umumnya mendasarkan pada bobot yang diberikan untuk setiap butir soal, atas tingkat kesukarannya, atau atas dasar banyak sedikitnya unsur yang harus terdapat dalam jawaban.
7.        Untuk tes objektif , setiap item atau soal diberi skor maksimum 1. Apabila menjawab betul maka akan mendapatkan skor 1 dan jika salah maka  skornya 0 (nihil).
8.        Dalam ranah afektif penskoran umumnya menggunakan skala Likert dengan rentang 1-5.
9.        Dalam ranah psikomotorik, cara penskorannya dilakukan secara berjenjang seperti pada tes essay.



DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal. Evaluasi Pembelajaran: Teori,Tehnik, Prosedur. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2011. cet. III
Daryanto. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. 2010
Haryati, Mimin. Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi: Toeri dan Praktek. (Jakarta: Gaung Persada Press. 2007. cet. II
Jihad, Asep dan Haris, Abdul. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo. 2010). cet. III
Purwanto, M. Ngalim. Prinsip-prinsp dan Tehnik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2009. cet. XIII
Sudijono, Anas. Pengantar Evaluasi Pendidikan. (Jakarta: RajaGrafindo  Persada. 1998). cet. II
Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. (Bandung: Remaja Rosdakarya. 2009. cet. XIII
Tayibnapis, Farida Yusuf. Evaluasi program dan Instrumen Evaluasi. (Jakarta: Rineka Cipta. 2008.
Sudrapranata, Sumarna dan Hatta, Muhammad. Penilaian Berbasis Kelas: Penilaian Portopolio Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2007. cet. Ke-IV










[1] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), 66-67.
[2] Asep Jihad dan Abdul Haris, Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarta: Multi Pressindo, 2010), cet. III, 67
[3] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, 67.
[4] Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), 109.
[5] Daryanto, Evaluasi Pendidikan , (Jakarta: Rineka Cipta, 2010) 36-44
[6] M. Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsp dan Tehnik Evaluasi Pengajaran, 109
[7] Daryanto, Evaluasi...., 29-34
[8] Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, 76.
[9] Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, 109.
[10] Sumarna Sudrapranata dan Muhammad Hatta,  Penilaian Berbasis Kelas: Penilaian Portopolio Implementasi Kurikulum 2004, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), cet. Ke-IV, 18-19
[11] Farida Yusuf Tayibnapis, Evaluasi program dan Instrumen Evaluasi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), 221
[12] Asep Jihad dan Abdul Haris, Evaluasi....., 83-85
[13] Mimin Haryati, Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi: Toeri dan Praktek, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007), cet. II, 49
[14] Mimin Haryati, Sistem....., 50-51
[15] Anas Sudijono, Pengantar....., 370
[16] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), cet. XIII, 11
[17] Nana Sudjana, Penilaian......., 41-42
[18] Anas, Pengantar......, 302
[19] Anas Sudijono, Pengantar....., 302
[20] Asep Jihad dan Abdul Haris, Evaluasi........, 88-89
[21] Zainal Arifin, Evaluasi...., 127-128