Thursday, 19 December 2013

PEMIKIRAN AL GHOZALI dan IKHWAN AL SAFA TENTANG PENDIDIKAN ISLAM



PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan permulaan untuk meraih sesuatu yang berguna dengan ketentuan bahwa apa yang telah diberikan mesti diajarkan dengan cara yang secara moral dapat dipertanggungjawabkan. Pendidikan bukan hanya pengajaran, tetapi juga merupakan semacam pembaharuan. Pendidikan menentukan kriteria yang akan menjadi acuan semua kegiatan atau proses di masa berikutnya sebagai suatu prestasi. Semua pendidikan formal mempunyai atau mendukung tujuan kegiatan diri secara sadar dan nyata yang berlangsung di dalam berbagai lembaga pendidikan. Belajar, dari pihak murid, adalah proses psikologis dan moral yang melibatkan cara berpikir, berkehendak, berlatih, dan hal - hal produktif lainnya. Puncak semua pendidikan, yang ditanami ketulusan hati, adalah membekali murid kemandirian moral yang berarti memiliki undang-undang diri yang universal, bersifat pribadi, dan juga mampu menetapkan diri.
Pembahasan mendalam atas berbagai gagasan pendidikan Ghazali  dan Ikhwan as Shofa dengan tujuan tunggal, yaitu menjadikan cirri - cirinya yang mendasar, tetapi dapat dipahami oleh orang-orang muda. Gagasan - gagasan Ghazali dan Ikhwan as Shofa akan menarik setiap orang yang beriman apabila pribadi - pribadi kita yang mempunyai tujuan kesempurnaan, apabila masyarakat menginginkan pembangunan, apabila nasib kita dimaksudkan untuk penyelamatan, gagasan - gagasan pendidikan dari Ghazali dan Ikhwan as Shofa dapat memainkan peran yang besar.

B.     Rumusan Masalah
1.      Menjelaskan Biografi Al-Ghazali dan Ikhwan as Shofa
2.      Bagaiman Pemikiran Al-Ghazali dan Ikhwan as Shofa dalam Pendidikan?
3.      Apa saja Karya-karya Al-Ghazali dan Ikhwan as Shofa?







PEMBAHASAN

A.      Riwayat hidup Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Ia lahir pada tahun 450 H, bertepatan dengan 1059 M di Ghazaleh, suatu kota kecil yang terletak di Tus wilayah Khurasan dan wafat di Tabristan wilayah propinsi Tus pada tanggal 14 Jumadil Akhir tahun 1505 H bertepatan dengan 1 Desember 1111 M.
Al-Ghazali memulai pendidikannya di wilayah kelahirannya, Tus, dengan mempelajari dasar-dasar pengetahuan.[1] Pada tahun 488 H, Al-Ghazali dilanda keragu-raguan terhadap ilmu-ilmu yang dipelajarinya (hukun, teologi, dan filsafat).[2] Misalnya, ia ragu terhadap ilmu kalam (teologi) yang dipelajarinya. Hal ini disebabkan dalam ilmu kalam terdapat beberapa aliran yang saling bertentangan sehingga dapat membingungkan dalam menetapkan aliran mana yang betul - betul benar di antara semua aliran.[3]
Sebagaimana halnya ilmu kalam, dalam ilmu filsafat pun, Al-Ghazali juga meragukannya, karena dalam filsafat, dijumpai argumen - argumen yang tidak kuat dan menurut keyakinannya, ada yang bertentangan dengan agama Islam. Ia akhirnya mnegambil sikap menentang filsafat. Al-Ghazali tidak hanya menentang pengetahuan yang dihasilkan akal pikiran, tetapi juga menentang pengetahuan yang dihasilkan panca indera. Menurutnya, panca indera tidak dapat dipercaya karena mengandung kedustaan. Misalnya, ia menyatakan “bayangan (rumah) kelihatannya tidak bergerak, tetapi sebenarnya bergerak dan pindah tempat.” Demikian juga bintang-bintang di langit kelihatannya kecil, tetapi hasil perhitungan mengatakan bahwa bintang-bintang itu lebih besar dari bumi.





B.     Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan
Al-Ghazali adalah orang yang banyak mencurahkan perhatiannya terhadap bidang pengajaran dan pendidikan. Oleh karena itu ia melihat bahwa ilmu itu sendiri adalah keutamaan dan melebihi segala-galanya. Oleh sebab itu menguasai ilmu baginya termasuk tujuan pendidikan dengan melihat nilai-nilai yang dikandungnya dan karena ilmu itu merupakan jalan yang akan mengantarkan anda kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat serta sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Oleh karena itu ia menyimpulkan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sejak masa kejadiannya sampi akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap di mana proses pengajaran itu menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat.[4] Maka sistem pendidikan itu haruslah mempunyai filsafat yang mengarahkan kepada tujuan yang jelas.

1.      Tujuaan Pendidikan
Mengingat pendidikan itu penting bagi kita, maka al-Ghazali menjelaskan juga tentang tujuan pendidikan, yaitu :
a.        Mendekatkan diri kepada Allah, yang wujudnya adalah kemampuan dan kesadaran diri melaksanakan ibadah wajib dan sunah. 
b.      Menggali dan mengembangkan potensi atau fitrah manusia.
c.       Mewujudkan profesionalitas manusia untuk mengemban tugas keduniaan dengan sebaik-baiknya.
d.      Membentuk manusia yang berakhlak mulia, suci jiwanya dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela.
e.       Mengembangkan sifat-sifat manusia yang utama, sehingga menjadi manusia yang manusiawi.
 Bertolak dari pengertian pendidikan menurut al-Ghazali, dapat di mengerti bahwa pendidikan merupakan alat bagi tercapainya suatu tujuan. Pendidikan dalam prosesnya memerlukan alat, yaitu pengajaran atau ta’lim. Sejak awal kelahiran manusia sampai akhir hayatnya kita selalu bergantung pada orang lain. Dalam hal pendidikan ini, orang (manusia) yang bergantung disebut murid sedangkan yang menjadi tempat bergantung disebut guru. Murid dan guru inilah yang disebut sebagai subyek pendidikan.[5]
Oleh karena itu arahan pendidikan al-Ghazali menuju manusia sempurna yang dapat menccapai tujuan hidupnya yakni kebahagiaan dunia dan akhirat yang hal ini berlangsung hingga akhir hayatnya. Hal ini berarti bahwa manusia hidup selalu berkedudukan sebagai murid.

2.    Kurikulum
Pandangan Al-Ghazali tentang kurikulum dapat dipahami dari pandangannya mengenai ilmu pengetahuan. Ia membagi ilmu pengetahuan kepada yang terlarang dan wajib dipelajari oleh anak didik menjadi 3 kelompok, yaitu :
a.   Ilmu yang tercela, banyak atau sedikit ilmu ini tidak ada manfaatnya bagi manusia di dunia maupun di akhirat, misalnya ilmu sihir, ilmu nujum dan ilmu perdukunan. Bila ilmu ini dipelajari akan membawa mudharat dan akan meragukan terhadap adanya Tuhan. Oleh karena itu, ilmu ini harus dijauhi.
b.   Ilmu yang terpuji, banyak atau sedikit. Misalnya ilmu tauhid dan ilmu agama. Bila dipelajari akan membawa seseorang kepada jiwa yang suci bersih dari kerendahan dan keburukan serta dapat mendekatkan diri kepada Allah.
c.   Ilmu yang terpuji pada taraf tertentu, yang tidak boleh diperdalam, karena dapat membawa kepada kegoncangan iman dan ilhad (meniadakan Tuhan) seperti ilmu filsafat.
3.  Metode Pendidikan
Manusia adalah subyek pendidikan, sedangkan pendidikan itu sangat penting bagi manusia, maka dalam pendidikan itu harus diperhatikan tentang kurikulumnya. Kurikulumnya pendidikan menurut al-Ghazali adalah materi keilmuan yang disampaikan kepada murid hendaknya secara berurutan, mulai dari hafalan dengan baik, mengerti, memahami, dan meyakini.[6] Sehingga dengan pentahapan ini melahirkan metode khusus pendidikan, menurut al-Ghazali yaitu :


a.       Metode khusus pendidikan agama
   Menurut al-Ghazali metode ini pada prinsipnya di mulai dengan hafalan dan pemahaman, kemudian dilanjutkan dengan keyakinan dan pembenaran, setelah itu penegakan dalil-dalil dan keterangan yang bisa menunjang penguatan akidah.
b.       Metode khusus pendidikan ahklak
Akhlak menurut al-Ghazali adalah : suatu sikap yang mengakar dalam jiwanya yang melahirkan berbagai perbuatan tanpa adanya pertimbangan dan pemikiran terlebih dahulu.[7]
Dengan adanya metode tersebut, maka al-Ghazali menyimpulkan bahwa pendidikan itu harus mengarah kepada pembentukan akhlak mulia, sehingga Ia menjadikan al-Qur’an sebagai kurikulum dasar dalam pendidikan. Ia juga menyimpulkan bahwa tujuan akhir pendidikan dan pembinaan itu ada 2 yaitu :
1.      Kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah.
2.      Kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat.

C.    Karya-Karya al-Ghazali
            1. Di Bidang Filsafat
a.       Maqashidu –ul falasifah (tujuan ilmu filsafat)
b.      Tahafut –ul falasifah (kesesatan ilmu filsafat)
c.       Al-Ma’rifatul ‘Aqliyah (ilmu pengetahuan yang rasional)
            2. Di Bidang Agama
a.       Ihya’ Ulumuddin (menghidup-hidupkan ilmu agama)
b.      Al-Mungis minal dhalal (terlepas dari kesesatan)
c.       Minhaj ul abidien (jalan mengabdi Tuhan)
d.      Kitab-kitab akhlak dan tasawuf.
            3. Dalam Bidang Kenegaraan
a.       Mustazh – hiri
b.      Sirrul ‘alamain (rahasia dua dunia yang berbeda)
c.       Suluk us Sulthanah (cara menjalankan pemerintahan)
d.      Nashihat al- muluk (nasihat untuk kepala-kepala negara)
Itulah karya-karya al-Ghazali yang saat masih bisa kita simak.[8]
C.  Sejarah Ikhwan Al Safa
Ikhwan Al Safa adalah sebuah perkumpulan para mujtahidin yang bergerak dalam lapangan ilmu pengetahuan. Sesuai dengan namanya, Ikhwan Al Safa berarti persaudaraan yang suci dan bersih. Maka asas utama perkumpulan ini adalah persaudaraan yang dilakukan secara tulus dan ikhlas, kesekawanan yang suci, dalam menuju ridlo Ilahi. Perkumpulan ini dibentuk di kota Bashrah Irak sekitar tahun 340/941 olah Zayd Ibn Rifa'ah dan berkembang pada abad ke dua Hijriah.
Perkumpulan ini lahir pada abad ke 10 M. di kota Bashrah, pada masa pemerintahan Al Mansur, khalifah kedua pemerintahan Bani Abbas. Dari Bashrah, Ikhwan Al Safa terus berkembang ke berbagai daerah seperti Iran dan Quwait. Organisasi ini mengajarkan tentang dasar-dasar agama Islam yang didasarkan atas persaudaraan Islamiyah (ukhuwah Islamiyah), yaitu sikap saling mencintai sesama saudara muslim dan kepedulian yang tinggi terhadap orang muslim. Semua anggota perkumpulan ini wajib menjadi guru dan muballigh bagi masyarakatnya.
Kemunculan Ikhwan Al Safa dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap pelaksanaan ajaran Islam yang telah tercemar oleh ajaran-ajaran luar Islam, serta untuk membangkitkan kembali rasa cinta pada ilmu pengetahuan. Organisasi ini sangat merahasiakan anggotanya. Mereka bekerja dan bergerak secara rahasia, disebabkan kekhawatiran akan tindak penguasa waktu itu yang cenderung menindas gerakan-gerakan yang timbul.[9]
Dalam aktifitas Ikhwan Al Safa, banyak juga memfokus untuk mempelajari bidang kefilsafatan. Karena di antara pendiri perkumpulan ini terdiri dari para filosof sehingga pemikirannya banyak dipengaruhi oleh filsafat yang berkembang saat itu seperti filsafat Yunani dan Persia. Dan kemudian dipadukan dengan ajaran Islam. Sehingga menjadi satu ikhtisar dan madzhab filsafat tersendiri. Dari sinilah akhirnya Ikhwan al Safa menyusun sebuah buku yang terdiri dari sejumlah risalah yang berjudul "Rasail Ikhwan al Safa wa al Kullah al Wafa yang membahas tentang pengetahuan dan mencakup semua objek studi manusia, seperti salah satunya tentang masalah pendidikan[10].
D.    Pemikiran Ikhwan al-Shafa terhadap Pendidikan.
1.      Klasifikasi Ilmu
Ikhwan al-Shafa membagi cabang pengetahuan menjadi tiga kelas utama, yaitu: matematika, fisika, dan metafisika. Dalam Rasa’il matematika meliputi: teori tentang bilangan, geometri, astronomi, geografi, musik, seni teoritis dan praktis, etika, dan logika. Fisika meliputi: materi, bentuk, gerak, waktu, ruang, langit, generasi, kehancuran, mineral, esensi alam, tumbuhan, hewan, tubuh manusia, indera, kehidupan dan kematian, mikrikosmos, suka, duka, dan bahasa. Metafisika dibagi menjadi psiko-rasionalisme dan teologi. Psiko-rasionalisme. Subdivisi pertama (psiko-rasionalisme) meliputi fisika, rasionalistika, wujud, mikrokosmos, jiwa, tahun-tahun raya, cinta, kebangkitan kembali dan kausalitas. Teologi meliputi keyakinan atau akidah Ikhwan al-Shafa, persahabatan, keimanan, hukum Allah, kenabian, dakwah, ruhani, tatanegara, struktur alam, dan magis.[11]
2.      Konsep Pendidikan Ikhwan al-Shafa
a.       Cara Mendapatkan Ilmu
Menurut Ikhwan al-Shafa, pengetahuan umum dapat diperoleh dengan tiga cara, yaitu:
1.      Dengan pancaindera. Pancaindera hanya dapat memperoleh pengetahuan tentang perubahan-perubahan yang mudah ditangkap oleh indera, dan yang kita ketahui hanyalah perubahan-perubahan ruang dan waktu.
2.      Dengan akal prima atau berpikir murni. Akal murni juga harus dibantu oleh indera.
3.      Melalui inisiasi. Cara ini berkaitan erat dengan doktrin esoteris Ikhwan al-Shafa. Dengan cara ini seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan secara langsung dari guru, yakni guru dalam pengertian seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Guru mendapatkan ilmunya dari Imam (pemimpin agama) dan Imam dari Imam lain, dan para Imam mendapatnya dari Nabi, dan Nabi dari Allah, sumber ilmu paling akhir. Konsep Imam ini disinyalir bahwa Ikhwan al-Shafa mengabdopsi konsep imam dalam pemahaman Syi’ah, yang lebih menekankan pada sikap eksklusif dalam memilih imam dari kelompoknya sendiri.[12] 
Dalam hal anak didik, Ikhwan al-Shafa memandang bahwa perumpamaan orang yang belum dididik ilmu akidah ibarat kertas yang masih putih bersih, belum ternoda apapun juga. Apabila kertas ini ditulis sesuatu, maka kertas tersebut telah memiliki bekas yang tidak mudah dihilangkan.[13]  Ikhwan al-Shafa berpendapat bahwa ketika lahir, jiwa manusia tidak memiliki pengetahuan sedikitpun. Proses memperoleh pengetahuan digambarkan Ikhwan secara dramatis dilakukan melalui pelimpahan (al-faidh). Proses pelimpahan tersebut bermula dari jiwa universal (al-nafs al-kulliyah) kepada jiwa manusia, setelah terlebih dahulu melalui proses emanasi. Pada mulanya, jiwa manusia kosong. Setelah indera berfungsi, secara berproses manusia mulai menerima rangsangan dari alam sekitarnya. Semua rangsangan inderawi ini melimpah ke dalam jiwa. Proses ini pertama kali memasuki daya pikir (al-quwwah al-mufakkirat), kemudian diolah untuk selanjutnya disimpan ke dalam re-koleksi atau daya simpan (al-quwwah al-hafizhat) sehingga akhirnya sampai pada daya penuturan (al-quwwah al-nathiqat) untuk kemudian siap direproduksi.[14]
Ikhwan al-Shafa juga berpendapat bahwa semua ilmu harus diusahakan (muktasabah), bukan pemberian tanpa usaha. Ilmu yang demikian didapat dengan panca indera. Ikhwan al-Shafa menolak pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah markuzah (harta tersembunyi) sebagaimana pendapat Plato yang beraliran idealisme. Plato memandang bahwa manusia memiliki potensi, dengan potensi ini ia belajar, yang dengannya apa yang terdapat dalam akal itu keluar menjadi pengetahuan. Plato mengatakan bahwa jiwa manusia hidup bersama alam ide (Tuhan) yang dapat mengetahui segala sesuatu yang ada. Ketika jiwa itu menyatu dengan jasad, maka jiwa itu terpenjara, dan tertutuplah pengetahuan, dan ia tidak mengetahui segala sesuatu ketika ia berada di alam ide, sebelum bertemu dengan jasad. Karena itu untuk mendapatkan ilmu pengetahuan seseorang harus berhubungan dengan alam ide.[15]
Dalam mempelajari ilmu pengetahuan, Ikhwan al-Shafa mencoba meng-integrasikan antara ilmu agama dan umum. Mereka mengatakan bahwa kebutuhan jiwa manusia terhadap ilmu pengetahuan tidak memiliki keterbatasan pada ilmu agama (naqliyah) semata. Manusia juga memerlukan ilmu umum (aqliyah). Dalam hal ini, ilmu agama tidak bisa berdiri sendiri melainkan perlu bekerja sama dengan ilmu-ilmu aqliyah, terutama ilmu-ilmu kealaman dan filsafat. Dalam hal ini Ikhwan al-Shafa mengklasifikasikan ilmu pengetahuan aqliyah kepada 3 (tiga) kategori, yaitu; matematika, fisika, danmetafisika. Ketiga klasifikasi tersebut berada pada kedudukan yang sama, yaitu sama-sama bertujuan menghantarkan peserta didik mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Menurut Ikhwan al-Shafa, ketiga jenis pengetahuan tersebut dapat diperoleh melalui pancaindera, akal, dan inisiasi. Meskipun ia lebih menekankan pada kekuatan akal dalam proses pencarian ilmu, akan tetapi menurutnya pancaindera dan akal memiliki keterbatasan dan tidak mungkin sampai pada esensi Tuhan. Oleh karena ini diperlukan pendekatan inisiasi, yaitu bimbingan atau otoritas ajaran agama.[16]

b.      Sosok Ideal Guru
Bagi Ikhwan, sosok guru dikenal dengan ashhab alnamus. Mereka itu adalahmu’allim, ustadz dan mu’addib. Guru ashhab alnamus adalah malaikat, dan guru malaikat adalah jiwa yang universal, dan guru jiwa universal adalah akal aktual; dan akhirnya Allah-lah sebagai guru dari segala sesuatu.
Guru, ustadz, atau mu’addib dalam hal ini berada pada posisi ketiga. Urutan ini selanjutnya digambarkan sebagai berikut:
1.      Al-Abrar dan al-Ruhama, yaitu orang yang memiliki syarat kebersihan dalam penampilan batinnya dan berada pada usia kira-kira 25 tahun.
2.      Al-Ru’asa dan al-Malik, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan yang usianya kira-kira 30 tahun, dan disyaratkan memelihara persaudaraan dan bersikap dermawan.
3.      Muluk dan Sulthan, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan dan telah berusia 40 tahun.
4.      Tingkatan yang mengajak manusia untuk sampai pada tingkatannya masing-masing, yaitu berserah dan menerima pembiasaan, menyaksikan kebenaran yang nyata, kekuatan ini terjadi setelah berusia 50 tahun.
3.      Tujuan Pendidikan menurut Ikhwan al Safa
                 Sesuai dengan karakteristik dasar pemikiran Ikhwan al Safa terefleksikan dalam pandangan pendidikannya, mereka mengawali pengkajiannya dengan merumuskan tujuan-tujuan individual dan sosial yang ingin direalisasikan melalui aktivitas pendidikan. Secara nyata mereka memberi porsi lebih terhadap tujuan sosial dibanding tujuan individual. Mereka mengkritisi merebaknya pemikiran-pemikiran merusak yang banyak dianut oleh mayoritas masyarakat.
                 Berangkat dari pemikiran tersebut Ikhwan al Safa mengkonsepsikan ilmu bukan sebagai sesuatu yang mengandung tujuan dalam dirinya sendiri, sebagaimana konsep dari beberapa kalangan. Menurut Ikhwan ilmu harus difungsikan untuk pelayanan tujuan luhur kependidikan yakni pengenalan diri. Akan tetapi keharusan mengenali dirinya sendiri bukanlah suatu tujuan akhir, melainkan sebagai sarana menuju kesamaan dan keluhuran manusia secara umum. Sebab tujuan akhir pendidikan adalah peningkatan harkat manusia kepada tingkatan malaikat yang suci agar dapat meraih ridlo Allah.
                 Menurut Ikhwan al Safa, pendidikan merupakan suatu aktivitas yang berhubungan dengan kebijaksanaan. Hal itu terjadi karena proses pendidikan akan memberikan pendidikan yang terbaik untuk dapat melatih keterampilan juga membekali dengan akhlak yang mulia, dan akhirnya dapat mendekatkan diri pada Tuhan.
C.      Karya-karya Ikhwan as Shofa
Pertemuan-pertemuan yang dilakukan sekali dalam 12 hari di rumah Zaid ibn Rifa’ah (ketua) secara sembunyi-sembunyi tanpa menimbulkan kecurigaan telah menghasilkan 52 risalah. Ditilik dari segi isi, rasail tersebut dapat diklasifikasikan kepada empat bidang yaitu:
a.       14 risalah tentang matematika, yang mencakup geometri, astronomi, musik, geografi, seni, modal dan logika
b.      17 risalah tentang fisika dan ilmu alam, yang mencakup genealogi, mineralogi, botani, hidup dan matinya alam, senang sakitnya alam, keterbatasan manusia, dan kemampuan kesadaran.
c.       10 risalah tentang ilmu jiwa, mencakup metafisika Phytagoreanisme dan kebangkitan alam
d.      11 risalah tentang ilmu-ilmu ketuhanan, meliputi kepercayaan dan keyakinan, hubungan alam dengan Allah, akidah mereka, kenabian dan keadaannya, tindakan rohani, bentuk konstitusi politik, kekuasaan Allah, magic dan azimat.




















PENUTUP

1.      Imam Al-Ghazali bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Ia lahir pada tahun 450 H, bertepatan dengan 1059 M di Ghazaleh, suatu kota kecil yang terletak di Tus wilayah Khurasan dan wafat di Tabristan wilayah propinsi Tus pada tanggal 14 Jumadil Akhir tahun 1505 H bertepatan dengan 1 Desember 1111 M.
2.      Ikhwan Ash Shofa adalah perkumpulan para mujtahidin dalam bidang filsafat yang banyak memfokuskan dalam bidang dakwah dan pendidikan. Perkumpulan ini berkembang pada abad kedua Hijriah di kota Bashrah, Irak.
3.       Ikhwan memandang bahwa ilmu pengetahuan itu dapat dibaca melalui dua cara, pertama dengan cara mempergunakan panca indera terhadap obyek dalam semesta ya ng bersifat empirik. Ilmu model ini berkaitan dengan tempat dan waktu. Kedua, dengan cara mempergunakan informasi atau berita yang disampaikan oleh orang lain. Ilmu yang dicapai dengan cara yang kedua ini hanya dapt dicapai oleh binatang. Dengan cara yang kedua ini pula manusia dapat memperoleh pengetahuan tentang hal-hal gaib.
4.      Al-Ghazali menyimpulkan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sejak masa kejadiannya sampi akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap di mana proses pengajaran itu menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat.
5.      Karya Ikhwan diantaranya adalah Rasa’il. Rasa’il di bagi dengan apik menjadi empat bagian utama : 14 terfokus pada ilmu matematis  17 membahas ilmu kealaman, 10 berhubungan dengan ilmu Psikologis dan intelektual, dan 11 mengakhiri empat jilid edisi Arab terakhirb dengan  memusatkan pada apa yang disebut matefisika atau ilmu teologis.
6.      Karya-karya Al-Ghazali, yaitu:
1.      Di Bidang Filsafat
a.       Maqashidu –ul falasifah (tujuan ilmu filsafat)
b.      Tahafut –ul falasifah (kesesatan ilmu filsafat)
c.       Al-Ma’rifatul ‘Aqliyah (ilmu pengetahuan yang rasional)
2.      Di Bidang Agama
a.       Ihya’ Ulumuddin (menghidup-hidupkan ilmu agama)
b.      Al-Mungis minal dhalal (terlepas dari kesesatan)
c.       Minhaj ul abidien (jalan mengabdi Tuhan)
d.      Kitab-kitab akhlak dan tasawuf.
3.      Dalam Bidang Kenegaraan
a.       Mustazh – hiri
b.      Sirrul ‘alamain (rahasia dua dunia yang berbeda)
c.       Suluk us Sulthanah (cara menjalankan pemerintahan)
d.      Nashihat al- muluk (nasihat untuk kepala-kepala negara)


























DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, juz III, Masyhadul Husaini, tt.
Dasoeki, Thawil Akhyar, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, Semarang: Dina Utama, cet-1. 1993.
Ibnu Rusn, Abidain, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, Yogyakarta:Pustaka Pelajar, cet I. 1998.
Nata, Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam (edisi baru), Jakarta : Gaya Media Pratama. 2005.
Sofyan, Ayi, Kapita Selekta Filsafat, Jakarta: Pustaka Setia, cet I. 2010.  
Sulaiman, Fathiyah Hasan, Aliran-Aliran Dalam Pendidikan Studi Tentang Aliran Pendidikan Menurut Al-Ghazali, Semarang: Dina Utama, cet I. 1993.
Fakhry, Majid, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis, (terj.) oleh Zaimul Am, (Bandung: Mizan, 2002)
Farrukh, Omar A. dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam,(Bandung: Nuansa Cendekia, 2004)
Muhamad Jawad Ridlo, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam; (Jogjakarta. PT. Tiara Wacana 2002)
Nizar, Samsul, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis,(Jakarta: Ciputat Pers, 2002)





[1] Abuddin Nata. Filsafat Pendidikan Islam (edisi baru). (Jakarta:Gaya Media Pratama, 2005). Hlm 209-210.
[2] Ayi Sofyan. Kapita Selekta Filsafat. (Jakarta: Pustaka Setia, 2010), cet I, hlm. 254.
[3] Abuddin Nata. Filsafat Pendidikan Islam, Hlm. 211.

[4] Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1998), cet I, hlm. 56.
[5]  Ibid, hlm. 94.
[6] Fathiyah Hasan Sulaiman, Aliran-Aliran Dalam Pendidikan Studi Tentang Aliran Pendidikan Menurut Al-Ghazali, (Semarang:Dina Utama, 1993), cet I, hlm. 18.
[7] Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, juz III, Masyhadul Husaini, hlm. 109.
[8] Thawil Akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, (Semarang: Dina Utama, 1993), cet I, hlm. 55-62.
[9] Dr. H. Samsul Hizah, MA. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta. Ciputat Pers, 2002 Hal. 96

[10] Muhamad Jawad Ridlo, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam; Jogjakarta. PT. Tiara Wacana 2002 hal.  146
[11] Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2004) hal. 185
[12] Ibid, hal. 185-186.
[13] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hal. 182.
[14] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 98- 99
[15] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hal. 182-183.
[16] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 99