Wednesday, 1 January 2014

ETOS KERJA


PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Agama Islam yang berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits sebagai tuntunan dan pegangan bagi kaum muslimin mempunyai fungsi tidak hanya mengatur dalam segi ibadah saja melainkan juga mengatur umat dalam memberikan tuntutan dalam masalah yang berkenaan dengan kerja ini, Rasulullah SAW bersabda:

اعمل للدنيا كأنك تعيش ابدا واعمل للأخرة كأنك تموت غادا

 “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.
Dalam ungkapan lain dikatakan juga, “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah, Memikul kayu lebih mulia dari pada mengemis, Mukmin yang kuat lebih baik dari pada mukslim yang lemah. Allah menyukai mukmin yang kuat bekerja.” Nyatanya kita kebanyakan bersikap dan bertingkah laku justru berlawanan dengan ungkapan-ungkapan tadi.
Padahal dalam situasi globalisasi saat ini, kita dituntut untuk menunjukkan etos kerja yang tidak hanya rajin, gigih, setia, akan tetapi senantiasa menyeimbangkan dengan nilai-nilai Islami yang tentunya tidak boleh melampaui rel-rel yang telah ditetapkan al-Qur’an dan as-Sunnah.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian etos kerja ?
2.      Bagaimana etos kerja dalam pndangan islam?








PEMBAHASAN

A.     Pengertian Etos Kerja
Menurut Al-Ghazali dalam bukunya “Ihya-u ‘ulumuddin”, pengertian etos (khuluk) adalah suatu sifat yang tetap pada jiwa, yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak membutuhkan pemikiran.
Dalam bahasa Yunani, kata “etos” berasal dari kata “ethos” yang bermakna watak atau karakter. Jadi, etos adalah Karakteristik, sikap, kepercayaan, dan kebiasaan, yang bersifat khusus tentang seorang individu atau sekelompok manusia.
Jadi, etos kerja adalah dorongan, kehendak, atau prinsip bekerja yang muncul dari jiwa individu untuk melakukan suatu kegiatan.
B.     Manusia Harus Bekerja dan Berusaha 
Islam adalah ‘aqidah, syar’iah dan ‘amal. Sedangkan amal meliputi ibadah, ketaatan dan kegiatan dalam usaha mencari rezeki, mengembangkan produksi serta kemakmuran. Oleh karena itu, Allah SWT. menyuruh kepada umat-Nya supaya bekerja dan berusaha di muka bumi untuk memperoleh rezeki[1]
Allah SWT. berfirman:
#sŒÎ*sù ÏMuŠÅÒè% äo4qn=¢Á9$# (#rãÏ±tFR$$sù Îû ÇÚöF{$# (#qäótGö/$#ur `ÏB È@ôÒsù «!$# (#rãä.øŒ$#ur ©!$# #ZŽÏWx. ö/ä3¯=yè©9 tbqßsÎ=øÿè?  
apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung..” (Q.S.Al-Jumu’ah(62):10)
Islam menganjurkan supaya bekerja, karena bekerja melatih kesabaran, ketekunan, keterampilan, kejujuran, ketaatan, mendayagunakan fikiran, menguatkan tubuh, mempertinggi nilai perorangan dan masyarakat serta memperkuat persatuan dan kesatuan[2][

  Allah berfirman dalam surat An-naba ayat 11.
$uZù=yèy_ur u$pk¨]9$# $V©$yètB ÇÊÊÈ  
“Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan”,(Q.S An-Naba:11)
Dalam tafsir juz’ama diterangkan bahwa makna kata النَّهَارَ مَعَاشاً , adalah untuk menghasilkan bekal buat hidup[3]
Firman Allah dalam surat Asy-Syu’ara:
öqs9ur xÝ|¡o0 ª!$# s-øÎh9$# ¾ÍnÏŠ$t7ÏèÏ9 (#öqtót7s9 Îû ÇÚöF{$# `Å3»s9ur ãAÍit\ム9ys)Î/ $¨B âä!$t±o 4 ¼çm¯RÎ) ¾ÍnÏŠ$t7ÏèÎ/ 7ŽÎ7yz ׎ÅÁt/ ÇËÐÈ  
“ Dan Jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha melihat.” (Q.S.Asy-Syura:27)
Syaqiq bin Ibrahim ketika mengartikan ayat di atas ialah, andaikan Allah memberi rizki tanpa usaha niscaya manusia akan lebih rusak dan lebih banyak kesempatan berbuat kejahatan, tetapi kebijaksanaan Allah menghibur manusia dengan usaha kasab, supaya tidak merajalela untuk merusak[4]
C.     Etos Kerja Menurut Pandangan Islam
1.      Pekerjaan yang Paling Baik
عن رفاعة بن رافع أن النبي صلى الله عليه وسلم سأل:اي الكسب أطيب؟ عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور
“Rifa’ah bin Rafi’I berkata bahwa Nabi SAW, ditanya, “Apa mata pencarian yang paling baik?” Nabi menjawab, “Seseorang bekerja dengan tangannya dan tiap-tiap jual beli yang bersih.” (Diriwayatkan oleh Bazzar dan disahkan oleh Hakim)
Islam senangtiasa mengajarkan kepada umatnya agar berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak dibenarkan seorang muslim berpangku tangan saja atau berdoa mengharap rezeki datang dari langit tanpa mengiringinya dengan usaha. Namun demikian, tidak dibenarkan pula terlalu mengandalkan kemampuan diri sehingga melupakan pertolongan Allah SWT. dan tidak mau berdoa kepada-Nya[5]
Banyak sekali ayat al-Quran yang menyuruh manusia untuk bekerja dan memanfaatkan berbagai hal yang ada di dunia untuk bekal hidup dan mencari penghidupan di dunia, di antaranya:
È@è%ur (#qè=yJôã$# uŽz|¡sù ª!$# ö/ä3n=uHxå ¼ã&è!qßuur tbqãZÏB÷sßJø9$#ur ( šcrŠuŽäIyur 4n<Î) ÉOÎ=»tã É=øtóø9$# Íoy»pk¤9$#ur /ä3ã¥Îm7t^ãsù $yJÎ/ ÷LäêZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÉÎÈ  
“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Q.S.At-Taubah(9):105)
Ayat-ayat di atas pun menunjukkan bahwa kaum muslimin yang ingin mencapai kemajuan hendaknya harus bekerja keras. Telah menjadi sunatullahdi dunia bahwa kemakmuran akan dicapai oleh mereka yang bekerja keras dan memanfaatkan segala potensinya untuk mencapai keinginannya. Tidak heran jika banyak orang yang tidak beriman kepada Allah Swt, tetapi mau bekerja keras untuk mendapatkan kemakmuran di dunia, walaupun di akherat ia tetap celaka. Sebaliknya, adapula yang beriman kepada Allah Swt. tetapi tidak mau bekerja dan berusaha sehingga sulit untuk mencapai kemakmuran[6]
Oleh karena itu, seorang muslim selayaknya mengeluarkan segala kemampuannya untuk mencari rezeki dengan sekuat tenaga. Akan tetapi, rezeki yang diusahakannya haruslah halal, tidak mengutamakan penghasilan yang banyak semata, tanpa mengindahkan aturan-aturan yang telah ditetapkan. Tentu saja, pekerjaan apapun tidak dilarang selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Dalam bekerja, sebaiknya ia menggunakan tangannya atau kemampuannya serta sesuai pula dengan keahliannya. Bekerja dengan menggunakan tangan dan kemampuan sendiri sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas adalah pekerjaan yang paling baik. Dalam hadis lain pun dinyatakan:
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ ثَوْرٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ الْمِقْدَامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِه
 “Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami 'Isa bin Yunus dari Tsaur dari Khalid bin Ma'dan dari Al-Miqdam radliallahu'anhu dari Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang yang memakan satu makananpun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud a.s memakan makanan dari hasil usahanya sendiri". (H.R.Bukhari, Abu Dawud, Nasa’I, dan Lain-lain)[7]
Di antara hikmah dari rezeki yang dihasilkan melalui tangan sendiri adalah terasa lebih nikmat daripada hasil kerja orang lain. Juga akan menumbuhkan hidup hemat karena merasakan bagaimana payahnya mencari rezeki. Selain itu, ia pun tidak akan lagi menggantungkan hidupnya kepada orang lain, yang belum tentu selamanya rido dan mampu membiayai hidupnya[8]
Menurut Imam Al-Ghazali, manusia dalam hubungannya dengan kehidupan dunia dan akhirat terbagi kepada tiga golongan[9]
a.       Orang-orang yang sukses atau menang, yakni mereka yang lebih menyibukkan dirinya untuk kehidupan di akhirat daripada kehidupan dunia;
b.      Orang-orang yang celaka, yakni mereka yang menyibukkan dirinya untuk kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat.
c.       Orang-orang berada di antara keduanya, yakni mereka yang mau menyeimbangkan antara kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat.[10]



2.      Larangan Meminta-Minta
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَهُوَ يَذْكُرُ الصَّدَقَةَ وَالتَّعَفُّفَ عَنْ الْمَسْأَلَةِ الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَالْيَدُ الْعُلْيَا الْمُنْفِقَةُ وَالسُّفْلَى السَّائِلَةُ
 “Dari Abdullah ibnu Umar RA, bahwa Rasulullah Saw bersabda dari atas mimbar, beliau menyebutkan masalah zakat dan menahan diri dari meminta-minta, beliau bersabda, "Tangan yang di atas lebih mulia daripada tangan yang di bawah, dan yang di maksud tangan di atas adalah yang memberi, sedangkan yang di bawah adalah yang meminta" (HR.Muslim)
Islam sangat mencela orang yang mampu untuk berusaha dan memiliki badan yang sehat, tetapi tidak mau berusaha, melainkan hanya menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Misalnya, dengan cara meminta-minta. Keadaan seperti itu sangat tidak sesuai dengan sifat umat Islam yang mulia dan memiliki kekuatan[11]
Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah SWT. yaitu:
tbqä9qà)tƒ ûÈõs9 !$oY÷èy_§ n<Î) ÏpoYƒÏyJø9$#  Æy_̍÷ãs9 tãF{$# $pk÷]ÏB ¤AsŒF{$# 4 ¬!ur äo¨Ïèø9$# ¾Ï&Î!qßtÏ9ur šúüÏZÏB÷sßJù=Ï9ur £`Å3»s9ur šúüÉ)Ïÿ»oYßJø9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÑÈ  
Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah[1478], benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya." Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui”.Q.S.Al-Munafiqun (63):8).
Dengan demikian, seorang peminta-minta, yang sebenarnya mampu mencari kasab dengan tangannya, selain telah merendahkan dirinya, ia pun secara tidak langsung telah merendahkan ajaran agamanya yang melarang perbuatan tersebut. Bahkan ia dikategorikan sebagai kufur nikmat karena tidak menggunakan tangan dan anggota badannya untuk berusaha dan mencari rezeki sebagaimana diperintahkan syara’[12]. Padahal Allah pasti memberikan rezeki kepada setiap makhluk-Nya yang berusaha. Allah Swt. berfirman:
$tBur `ÏB 7p­/!#yŠ Îû ÇÚöF{$# žwÎ) n?tã «!$# $ygè%øÍ ÞOn=÷ètƒur $yd§s)tFó¡ãB $ygtãyŠöqtFó¡ãBur 4 @@ä. Îû 5=»tGÅ2 &ûüÎ7B  
Dan tidak ada suatu binatang melata[709] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya[710]. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”.(Q.S.Hud(11):6)
 Berdasarkan hadis di atas tadi, dinyatakan secara tegas bahwa tangan orang yang di atas (pemberi sedekah) lebih baik daripada tangan yang di bawah (yang diberi). Dengan kata lain, derajat pemberi lebih tinggi daripada derajat peminta-minta. Maka seyogianya bagi setiap umat Islam yang memiliki kekuatan untuk mencari rezeki, berusaha untuk bekerja apa saja yang penting halal. Walaupun suatu pekerjaan dipandang hina[13]
 Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yaitu:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ
 “Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al-Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dari Abu 'Ubaid sahayanya 'Abdurrahman bin'Auf, bahwa dia mendengar Abu Hurairah radliallahu'anhu berkata, "Sungguh, seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dan di bawa dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta kepada orang lain, baik orang lain itu memberinya atau menolaknya". (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam kitab; “Jual Beli”, bab usaha dan kerja dengan tangannya sendiri)
 Pada hal harta yang diperoleh dengan cara seperti dari minta-minta sama saja dengan mengumpulkan bara api, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بنْ عمر أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَزَالُ الْمَسْأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ
 “Dari Abdullah bin Umar .r.a, dia berkata, "Rasulullah bersabda, 'Tidaklah seseorang yang selalu meminta-minta kecuali ia akan bertemu dengan Allah dengan muka yang tak berdaging".(H.R.Muslim)
            Adanya kewajiban berusaha bagi manusia, tidak berarti bahwa Allah Swt. tidak berkuasa untuk mendatangkan rezeki begitu saja kepada manusia, tetapi dimaksudkan agar manusia menghargai dirinya sendiri dan usahanya, sekalipun agar tidak berlaku semena-mena atau melampaui batas, sebagaimana dinyatakan oleh Syaqiq Ibrahim dalam menafsirkan ayat:
öqs9ur xÝ|¡o0 ª!$# s-øÎh9$# ¾ÍnÏŠ$t7ÏèÏ9 (#öqtót7s9 Îû ÇÚöF{$# `Å3»s9ur ãAÍit\ム9ys)Î/ $¨B âä!$t±o 4 ¼çm¯RÎ) ¾ÍnÏŠ$t7ÏèÎ/ 7ŽÎ7yz ׎ÅÁt/ ÇËÐÈ  
“Dan Jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha melihat.” (Q.S.Asy-Syura:27)
Menurutnya, seandainya Allah Swt, memberi rezeki kepada manusia yang tidak mau berusaha, pasti manusia semakin rusak dan memiliki banyak peluang untuk berbuat kejahatan. Akan tetapi, Dia Mahabijaksana dan memerintahkan manusia untuk berusaha agar manusia tidak banyak berbuat kerusakan.
3.      Mukmin Yang Kuat Mendapat Pujian
عن أبى هريرة رضى الله عنه قل:قل رسول الله صلى الله عليه وسلم : المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من الموْمن الضعيف وفى كل خيرأحرص على ما ينفعك واستعن بالله ولاتعجزوإن أصابك شىء فلاتقل لوإنى فعلت كذا كان كذا وكذا ولكن قل قد رالله وما شاءفعل, فإن لوتفتح عمل الشيطان.
 “Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah Saw, bersabda, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah dan dalam segala sesuatu, ia dipandang lebih baik. Raihlah apa yang memberikan manfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah. Janganlah berkata, ‘Kalau aku berbuat begini, pasti begini, dan begitu, tetapi katakanlah, “Allah Swt. telah menentukan dan Allah menghendaki aku untuk berbuat karena (kata) “kalau” akan mendorong pada perbuatan setan .” (HR.Muslim)
Hadis di atas mengandung tiga perintah dan dua larangan, sebagai berikut:
1)     Memperkuat Iman
Keimanan seseorang akan membawa kepada kemuliaan baginya, baik di dunia maupun di akhirat. Kalau keimanan kuat dan selalu diikuti dengan melakukan amal saleh, ia akan mendapatkan manisnya iman, sebagaimana firman Allah SWT:
ô`tB Ÿ@ÏJtã $[sÎ=»|¹ `ÏiB @Ÿ2sŒ ÷rr& 4Ós\Ré& uqèdur Ö`ÏB÷sãB ¼çm¨ZtÍósãZn=sù Zo4quym Zpt6ÍhŠsÛ ( óOßg¨YtƒÌôfuZs9ur Nèdtô_r& Ç`|¡ômr'Î/ $tB (#qçR$Ÿ2 tbqè=yJ÷ètƒ ÇÒÐÈ  
 “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(Q.S. An-Nahl: 97)
Setiap orang memiliki tingkat keimanan yang berbeda-beda. Ada yang kuat keimananya yang ditandai dengan disifatnya yang selalu berusha untuk mengisi keimanannya dengan berbagai amal yang diperintahkan oleh Allah Swt, seperti memerintah kebaikan dan melarang kemungkaran, mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, memberi sedekah, dan lain-lain. Ada pula yang lemah imannya ia tidak mau mengerjakan kewajibannya sebagai orang beriman, seperti tidak mengerjakan shalat, melakukan perilaku tercela, tidak memberi sedekah, dan lain-lain. Tentu saja, orang yang kuat imannya lebih baik daripada orang yang lemah imannya. Hal ini karena orang yang kuat imannya akan berusaha untuk menjadikan segala aktivitas kehidupannya dalam kebaikan[14]
Kuat dan lemahnya seorang mukmin, selain dapat dipahami dari perbuatan yang dilakukannya, dapat juga dipahami dalam realitas kehidupan. Misalnya, dilihat dari segi kekuatan badan, ia tidak loyo, selalu tegar, dan lain-lain. Seorang mukmin yang berbadan kuat dan menggunakan kekuatannya itu digunakan untuk beribadah dan membela agamanya lebih baik daripada mukmin yang lemah badannya sehingga tidak memiliki kekuatan untuk berjuang menegakkan agama Allah.
Kata “kuat” dalam hadis di atas dapat juga dipahami dalam hal ekonomi atau kekayaan. Orang yang rajin berusaha sehingga memperoleh harta benda yang melimpah untuk digunakan bekal beribadah dan mengerjakan amal saleh lebih baik daripada orang yang tidak mau berusaha sehingga kehidupannya susah[15]
Secara singkat Rasulullah Saw, memerintahkan orang yang beriman untuk menghiasi keimanannya dengan berbagai amal saleh serta memelihara badannya agar kuat, dan rajin berusaha sehingga kuat perekonomiannya. Tentu saja tetap berusaha untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan supaya mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
2)     Perintah Untuk Memanfaatkan Waktu
Rasulullah Saw memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan waktu se-efektif mungkin bagi kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, baik untuk kehidupan di dunia maupun akhirat. Dalam kehidupan di masyarakat, orang-orang yang sukses dan berhasil dalam hidupnya adalah mereka yang senantiasa menggunakan waktunya untuk kegiatan yang bermanfaat dan selalu serius dalam mengerjakan sesuatu. Mereka menganggap bahwa waktu adalah uang (time is money). Sebaliknya, orang-orang yang suka menghambur-hamburkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan yang tidak berguna, tidak akan meraih kesuksesan bahkan ia akan tergilas oleh zaman.[16]
3)     Memohon Pertolongan Allah SWT
Manusia hanyalah diwajibkan untuk berikhtiar, sedangkan yang memutuskan keberhasilannya adalah Allah SWT. orang mukmin sangat ditekankan untuk memperbanyak doa agar Allah Swt. menolongnya. Dalam setiap shalat, hendaknya membaca:
x$­ƒÎ) ßç7÷ètR y$­ƒÎ)ur ÚúüÏètGó¡nS ÇÎÈ             
“Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan”(Q.S. Al-Fatihah: 5)
Dalam ayat tersebut, pertanyaan beribadah disejajarkan dengan memohon pertolongan. Orang-orang yang hanya beribadah saja kepada-Nya, namun tidak pernah memohon pertolongan, keimanannya masih dipertanyakan. Ini karena dia dapat dianggap orang sombong yang tidak memerlukan pertolongan Allah SWT.
Seseorang tidak akan mencapai kesuksesan, tanpa adanya kekuasaan dan kehendak Allah Swt. Namun demikian, Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha dan pekerjaan seseorang. Oleh karena itu, bekerja dan berusaha dengan sebaik-baiknya di sertai permohonan atas pertolongan Allah adalah sikap yang harus dilakukan oleh setiap muslim dalam kehidupannya.
4)     Larangan Membiarkan Kelemahan
Telah dijelaskan di atas bahwa Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berusaha dan bekerja sehingga menjadi orang yang kuat dalam berbagai hal, baik iman, badan, harta, dan lain-lain.[17]
Setiap orang harus berusaha untuk mengubah segala kelemahan yang ada pada dirinya karena Allah Swt. tidak akan mengubahnya kalau orang tersebut tidak mau mengubahnya. Allah Swt. berfirman:
¼çms9 ×M»t7Ée)yèãB .`ÏiB Èû÷üt/ Ïm÷ƒytƒ ô`ÏBur ¾ÏmÏÿù=yz ¼çmtRqÝàxÿøts ô`ÏB ̍øBr& «!$# 3 žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr'Î/ 3 !#sŒÎ)ur yŠ#ur& ª!$# 5Qöqs)Î/ #[äþqß Ÿxsù ¨ŠttB ¼çms9 4 $tBur Oßgs9 `ÏiB ¾ÏmÏRrߊ `ÏB @A#ur ÇÊÊÈ  
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”(Q.S.Ar-Ra’d: 11)
5)     Larangan Untuk Menyatakan “Kalau” (Seandainya Begini dan Begitu Pasti Hasilnya Begini)
Dalam berusaha, tidak dapat dipastikan bahwa selamanya berhasil. Suatu waktu, seseorang pasti mendapatkan kegagalan. Dalam menghadapi seperti itu, Islam menganjurkan untuk berikhtiar.
Pertanyaan “kalau begini dan begitu” merupakan godaan setan untuk mendahului kehendak Allah Swt. bahkan suatu usaha akan berhasil jika Allah tidak menghendaki keberhasilannya.





PENUTUP
A. Simpulan
1.Berdasarkan dari beberapa referensi yang telah penulis baca penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Etos kerja secara umum adalah karakter, pandangan hidup, atau prinsip untuk melakukan suatu perbuatan untuk mendapatkan hasil berupa materi.
2.Manusia diwajibkan untuk bekerja karena untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Dengan bekerja, Allah akan memberikan karunia-Nya sebaliknya untuk orang yang malas bekerja seperti meminta-minta, akan di sebut orang yang kufur nikmat.
3.Islam mengajarkan kepada umatnya untuk bekerja sesuai dengan kemampuannya. Islam tidak memandang pekerjaan seseorang itu, baik penghasilannya besar maupun kecil yang terpenting yaitu keinginan untuk bekerja keras. Sebaliknya, untuk orang yang kuat fisiknya dan memiliki kecerdasan dalam berpikir tetapi malas untuk bekerja, perbuatan itu sangat dicela oleh Islam, karena umat Islam memiliki kekuatan dan kedudukan yang mulia di hadapan Allah SWT.







DAFTAR PUSTAKA

Abubakar, Bahrun, L.C. 2004. Ter. Shofwatul Bayaan Lima’aanil Qur’aanil Kariim. Bandung: Irsyad Baitus Salam.
Bahreisy, Salim. Tanbihul Ghafilin (Peringatan Bagi Yang Lupa Bagian 2. Surabaya: PT Bina Ilmu.
Helmy, Masdar. 1995. Min Akhlaqin-Nabiy. Bandung: Gema Risalah Press.
Syafe’I, Rachmat. 2000. Al-Hadis (Aqidah, Akhlaq, Sosial, dan Hukum). Bandung: CV Pustaka Setia.







[1] Masdar Helmy, Ter. Min Akhlaqin-Nabiy, (Bandung: Gema Risalah Press, 1995), hlm. 454
[2] Ibid., hlm. 455
[3] Bahrun Abubakar, L.C., Ter. Shofwatul Bayaan Lima’aanil Qur’aanil Kariim, (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2004) hlm. 138.
[4] Salim Bahreisy,  Ter. Tanbihul Ghafilin, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1975) hlm. 683
[5] Rachmat Syafe’i. Al-Hadis (Aqidah, Akhlak, Sosial, dan Hukum).(Bandung: CV. Pustaka Setia). Halm.114
[6] Ibid., hlm. 115
[7] Ibid., hlm. 116
[8] Rachmat Syafe’i, Op. Cit.., hlm. 117
[9] Ibid.
[10] Ibid.
[11] Salim Bahreisy, Op. Cit., hlm. 692
[12] Rachmat Syafe’i, Op. Cit.., hlm. 122
[13] Ibid., hlm. 123
[14] Rachmat Syafe’i. op. cit.,hlm. 128.
[15] Ibid.
[16] Ibid., hlm. 129.
[17] Ibid., hlm. 130.