Friday, 2 August 2013

ILMU MAKKIYAH DAN MADANIYAH



PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Al-Qur’an dimulai dari suratAl-Fatihah dan di akhiri dengan surat An-Nas,terdiri dari 124 surat dan 6666 ayat.Tim penyusunnya adalah Abdullah Bin Zubair,Abdurrahman Bin Haris Bin Hisam Said Bin Al-Ash.Itulah tim pembuka Al-Qur’an yang pertama kali,ditulis dengan tangan dan hasilnya 5buah kitab suci Al-Qur’an.[1]
Di dalam Al-Qur’an terdapat surat makkiyah dan madaniyah.Surat makkiyah merupakan surat yang diturunkan di kota mekkah sedangkan madaniyah merupakan surat yang diturunkan di kota madinah setelah nabi Muhammad SAW hijrah ke mekkah.
Orang yang membaca Al-Qur’nul karim akan melihat bahwa ayat-ayat makkiyah mengandung karakteristik yang tidak ada dalam madaniyyah baik dalam irama maupun maknanya.Sekalipun yang kedua ini didasarkan pada yang pertama dalam hukum-hukum dan perundang-undangan.













PEMBAHASAN

1.      Pengertian Makki dan Madani
Yang dimaksud ilmu makki dan ilmu madani adalah ilmu yang membahas bagian Al-Qur’an yang makki dan bagian yang madani,baik dari segi maknanya,cara-cara mengetahuinya atau tanda-tanda masing-masingnya,maupun macam-macamnya.Sedangkan yang dimaksud dengan makki dan madani ialah bagian-bagian Al-Qur’an,dimana ada bagiannya termasuk makki dan ada yang termasuk madani.[2]
Sedikitnya ada empat teori dalam menentukan kriteria untuk memisahkan nama bagian Al-Qur’an yang makki atu surah/ayat yang makkiyah,dan nama bagian yang madani atau surah/ayat yang madaniyyah.Adapun teori-teori tersebut ialah sebagai berikut:
a.      Teori Mulaahazhatu Makanin Nuzuli (teori geografis)
Yaitu teori yang berorientasi pada tempat turun Al-Qur’an / tempat turunnya ayat.Teori ini mendefinisikan bahwa Al-Qur’an makki /surah/ayat makkiyah ialah yang turun di mekkah dan sekitarnya baik waktu turunnya nabi Muhammad sebelum hijrah ke madinah ataupun sesudah hijrah ke madinah.Menurut teori geografis ini,ayat-ayat ini diturunkan kepada nabi Muhammad SAW sebelum hijrah ke madinah ketika beliau berada di mina,arafah,hudaibiyah dan sebagainya.Sedangakan Al-Qur’an madani ayat-ayat madaniyah diturunkan kepada nabi Muhammad SAW di madinah dan sekitarnya misalnya di Badar,Qubd,Madinah,Uhud,dll.
Kelebihan dari teori geografis ini ialah hasil rumusan pengertian makki dan madani ini jelas dan tegas,sedangkan kelemahannnya adalah teori ini tidak bisa dijadikan patokan,batasan atau definisi.


b.      Teori Mulaahazhatul Mukhathabiina Fin Nuzuuli (Teori Subjektif)
Yaitu yang berorientasi pada subyek siapa yang di khithab/dipanggil dalam ayat.Jika subyeknya orang-orang mekkah maka ayatnya dinamakan makiyah dan subyeknya orang-orang madinah maka ayatnya disebut madaniyah.
Menurut teori subjektif ini yang dinamakan Qur’an makki ialah yang  berisi khitab/panggilan kepad penduduk mekkah dengan kata-kata : “Ya Ayyuhannasu (wahai manusia) atau “Yaa Ayyuhal kaafiruuna” (wahai orang-orang kafir) atau “Yaa Banii adama” (hai anak cucu Adam) dan sebagainya.Sebab kebanyakan penduduk mekkah adalah orang-orang kafir,maka dipanggil dengan orang-orang kafir atau wahai manusia meski orang-orang kafir dari lain-lain daerah dipanggil juga.
Sedangkan yang dimaksud dengan Qur’an madani ialah yang berisi panggilan kepada penduduk madinah.Semua ayat yang dimulai dengan nida’(panggilan) :”yaa ayyuhalladzina aamanu” (wahai orang-orang yang beriman) adalah termasuk ayat madaniyah.Sebab mayoritas penduduk madinah adalah mukminin sehingga dipanggil dengan wahai orang-orang yang beriman.Meski sebenarnya kaum mukminin dari daerah-daerah lain juga ikut dipanggil pula.Teori subjektif ini mendasarkan kriteria pada dalil riwayat dari Abu Ubaiddari Maimun bin Mihram dalam kitab fadhailul Qur’an yang berbunyi:

ما كا ن في القران بيا يها النا س او يا بني اد ما فا نه مكي وما كان بيا يها الدين امنوا فانه مدني
Artinya: “Bagian dalam Al-Qur’an yang dimulai dengan :”Yaa Ayyuhannasu” atau “Yaa Banii Aadama” adalah surah makki.Dan yang dimulai dengan :”Yaa Ayyuhalladzina Aamanu” adalah madani.
Kelebihan dari teori subjektif ini ialah rumusannya lebih mudah dimengerti.Sedangkan kelemahannya ialah teori ini lebih banyak dari teori-teori yang lain.Kelemahannya antara lain adalah rumusan pengertiannya tidak dapat dijadikan batasan atau definisi,karena tidak bisa mencakup seluruh ayat Al-Qur’an dan rumusan kriterianya juga tidak dapat berlaku secara menyeluruh,bahwa semua ayat yang dimulai dengan “Yaa Ayyuhannasu”itu pasti makkiya dan seluruh ayat yang dimulai “Yaa Ayyuhalladzina Aamanu” itu tentu madaniyyah.Karena itu teori ini tidak mudah dipegangi dan tidak dapat dipertanggung jawabkan.
c.       Teori Mulahazhatu Zamanin Nuzuli (Teori Historis)
Yaitu teori yang berorientasi pada sejarah waktu turunnya Al-Qur’an.Yang dijadikan tonggak sejarah oleh teori ini ialah hujrah nabi Muhammad SAW dari mekkah ke madinah.Pengertian makkiyah menurut teori ini ialah ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan sebelum hijrah nabi Muhammad SAW ke madinah,meski turunnya ayat itu diluar kota mekkah yaitu seperti ayat-ayat yang turun di Mina,Arafah,Hudaibiyah.Sedangkan pengertian madaniyyah ialah ayat-ayat yang yang turun setelah nabi Muhammad SAW hijrah ke madinah,meski turunnya di mekkah atau sekitarnya seperti ayat-ayat yang diturunkan di Badar,Arafah,dan Mekkah.teori historis ini juga berpegang kepada dalil riwayat Abu Amrdan Usman bin Sa’id Ad-Darimi.:
مانزل بمكة ومانزل في طريق الي المدينة قبل ان يبلغ انبي صلى الله عليه سلم الم دينة فهو من المكى وما نزل على النبى صلى الله عليه وسلم فى اسفا ره بعد ما قدم المدينة فهو من المدني
Artinya:”Al-Qur’an yang diturunkan di mekkah dan yang diturunkan dalam perjalanan hijrah ke madinan sebelum nabi Muhammad SAW sampai ke madinah adalah termasuk makki.Dan Al-Qur’an yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dalam perjalan beliau setelah tiba di madinah termasuk madani.[3]
Kelebihan dari teori historis ini dinilai para ulama’ sebagai teori yang benar,baik dan selamat dan tidak ada seorangpun yang menilai teori historis ini jelek atau lemah.Semua menguji dan hanya menyebutkan kelebihan-kelebihannya.

d.      Teori Mulahazhatu Ma Tadhammanat As-Suuratu (Teori content analisis)
Yaitu teori yang mendasarkan kriterianya dalam membedakan makkiyah dan madaniyyah kepada isi dari pada ayat yang bersangkutan.Yang dinamakan makkiyah menurut teori content analisis ialah surat atau ayat yang berisi cerita-cerita umat dan para nabi/rasul dahulu.Sedangkan yang disebut madaniyyah adalah surat/ayat yang berisi hukum hudud,fara’id,dan sebagainya.Dalil yang menjadikan teori content analisis antara lain riwayat Hisyam dari ayahnya (Al-Hakim(

كل سورة دكرت فيها الحدود والفر يض فهي مدنيه وكل مكان فيه دكرالقران الماضية فهي مكية

Artinya:”Setiap surah yang didalamnya disebutkan hikum-hukum fara’id adalah madaniyyah dan setiap surah yang didalamnya disebutkan kejadian masa lalu adalah makiyah.”[4]

Kelebihan dari teori content analisis ini adalah bahwa kriterianya jelas sehingga midah difahami,sebab gampang dilihat orang.Kelemahannya pelaksanaan pembedaan makkiyah dan madaniyah menurut teori ini tidak praktis.

2.      Tanda-Tanda Surah Makkiyah dan Madaniyyah
a.      Cara mengetahui Makkiyah dan Madaniyyah
Untuk mngetahui dan menentukan makki dan madani para ulama’ besar bersandar pada macam utama : sima’i naqli (pendengaran seperti apa adanya) dan qiyasi ijtihadi (qiyas hasil ijtihad).Sima’i naqli didasarkan pada riwayat sahih dari para sahabat yang hidup pada saat dan menyaksikan turunnya wahyu,atau para tabi’n yang menerima dan mendengar dari para sahabat,bagaimana,dimana dan peristiwa apa yang berkaitan dengan turunnya eahyu itu.Sebagian penentuan makki dan madani itu di dasarkan pada cara pertama ini.Penjelasan tentang penentuan tersebut telah memenuhi kitab-kitab tafsir bill ma’sur,kitab-kitab asbabun nuzul dan pembahasan-pembahasan mengenai ilmu-ilmu Al-Qur’an.Qodi Abu Bakar Ibnu Toyyib Al-Baqalani dalam Al-Intisar menegaskan: pengetahuan tentang makki dan madani itu mengacu pada hafalan para sahabat dan tabi’in.Tidak ada suatu keterangan pun yang datang dari Rasulullah mengenai hal itu,sebab dia tidak diperintahkan untuk itu,dan Allah tidak menjadikan ilmu pengetahuan mengenai hal itu sebagi kewajiban umat.Bahkan sekalipun sebagai pengetahuannya dan pengetahuan umat dan pengetahuan mengenai sejarah nasikh dan mansukh itu wajib bagi ahli ilmu.Tetapi pengetahuan tersebut tidak harus diperoleh melalui nash dari Rasulullah.
Cara qiyasi ijtihadi didasarkan pada ciri-ciri makkiyah dan madaniyyah.Apabila dalam surat makki terdapat suatu ayat yang mengandung sifat madani atau mengandung peristiwa madani,maka dikatakan bahwa ayat itu madani.Para ahli mengatakan :”Setiap ayat yang di dalamnya mengandung kisah para nabi dan umat-umat dahulu,maka surah itu adalah makki.Dan setiap surah yang didalamnya mengandung kewajiban atau ketentuan maka surah itu adalah madani dan begitu seterusnya.”Ja’bari mengatakan,:untuk mengetahui makki dan madani ada dua cara:sama’i (pendengaran) dan qiyasi (kiyas).
b.      Tanda-Tanda Makkiyah dan Madaniyah
·         Tanda-tanda surah makkiyah[5]
Ø  Dimulai dengan nida’(panggilan) :”Yaa Ayyuhannasu” dan tidak mengandung Yaa Ayyuhalladzina Aamanu,berarti makkiyah.
Ø  Didalamnya terdapat lafadz “kalla”
Ø  Di dalamnya terdapat ayat-ayat sajadah
Ø  Dipermulaannya terdapat huruf-huruf tahajji (huruf yang terpotong-potong seperti huruf (    ق   الم  حم  يسى    )
Ø  Di dalamnya terdapat cerita-cerita para nabi dan umat-umat terdahulu,selain surat Al-Baqarah dan Al-Maidah.Contohnya antara lain surat Yunus,Yusuf,Hud,Ibrahim,Al-Kahfi,Maryam,Thaha,dan sebagainya.
Ø  Di dalamnya berisi cerita-cerita terhadap kemusrikan dan penyembahan-penyembahan terhadap selain Allah SWT.
Ø  Setiap surah yang mengandung kisah Adam dan iblis adalah makki,kecuali surah Baqarah.
Ø  Di dalamnya berisi penjelasan dengan bukti-bukti argumentasi dari alam ciptaan Allah SWT yang dapat menyadarkan orang-orang kafir untuk beriman kepada Allah SWT.
Ø  Berisi ajaran prinsip-prinsip akhlak mulia dan pranata sosial yang tinggi,yang dijelaskan dengan sangat mengagumkan sehingga menyebabkan orang benci kepada kekafiran,kemusyrikan,kefasikan,kekasaran dan sebagainya.
Ø  Berisi nasehat-nasehat petunjuk dan ibarat-ibarat dari balik cerita.
Ø  Berisi ayat-ayatn nida’ (panggilan ) yang ditujukan kepada penduduk mekkah atau orang-orang kafir,musyrik.
Ø  Kebanyakan ayat-ayatnya pendek-pendek karena menggunakan bentuk iijaaz (singkat-padat)
·         Tanda-tanda surah madaniyyah
Ø  Di dalamnya berisi hukum-hukum pidana.
Ø  Berisi hukum-hukum fara’id(waris-mewaris).
Ø  Berisi izin jihad fi sabilillah dan hukum-hukumnya.
Ø  Berisi keterangan mengenai orang-orang munafik dan sifat-sifat serta perbuatannya.
Ø  Berisi hukum-hukum ibadah.
Ø  Berisi hukum-hukum muamalh.
Ø  Berisi dakwah(seruan) kepada orang-orang yahudi dan nasrani serta penjelasan akidah-akidah mereka yang menyimpang.
Ø  Berisi ayat-ayat nida’ (panggilan) yang ditujukan kepada penduduk madinah yang islam dan khithab (seruan) :”yaa ayyuhalladzina aamanu.”
Ø  Kebanyakan ayat-ayatnya panjang.
Ø  Setiap surah yang berisi kewajiban atau sangsi adalah madani.
Ø  Setiap surah yang di dalamnya disebutkan orang-orang munafik adalah madani kecuali surat al-ankabut adalah makki.
Ø  Setiap surah yang di dalamnya terdapat dialog dengan ahli kitab.
Ø  Menyingkap perilaku orang munafik,mengnalisin kejiwaannya,membuka kedoknya dan menjelaskan bahwa ia berbahaya bagi agama.

3.      Macam-macam surah makkiyah dan madaniyyah dan dasarnya
·         Macam-macam surah makkiyah dan madaniyyah
Pada umumnya para ulama’ membagi macam-macam surat Al-Qur’an menjadi dua kelompok,yaitu surah makkiyah dan madaniyyah.Mereka berbeda pendapat dalam menetapkan jumlah masing-masing kelompoknya.Sebagian ulama’ mengatakan bahwa jumlah surah makkiyah ada 94 surah,sedangkan surah madaniyyah ada 20 surah.Sebagian ulama’lain mengatakan bahwa jumlah surah makkiyah ada 84 surah,sedangkan yang madaniyyah ada 30 surah.[6]Dari Abdullah Syahhatan dalam bukunya Al-Qur’an wat tafsir mengatakan,surah-surah Al-Qur’an yang disepakati para ulama’ sebagai surah madaniyyah ada 20 surah.Sedangkan 12 surah diperselisihkan status makkiyah dan madaniyyahnya,dan sisanya ada 82 surah disebut surah makkiyah.
Perbedaan-perbedaan pendapat para ulama’ itu dikarenakan adanya sebagian surah yang seluruh ayatnya makkiyah atau madaniyyah,atau sebagian surah lain tergolong makkiyah dan madaniyyah,tetapi di dalamnya berisi sedikit ayat yang lain statusnya.Karena itu dari segi makkiyah dan madaniyyah ini maka surat-surat Al-Qur’an itu terbagi menjadi beberapa macam sebagai berikut:
a.       Surah-surah makkiyah murni (مكي كلها)
Yaitu surah-surah makkiyah yang seluruh ayat-ayatnya berstatus makkiyah semua.Surah-surah yang berstatus makkiyah murni ini seluruhnya ada 58 surah,yang berisi 2074 ayat.Dan surah-surah yang pendek pada juz 30 (kecuali surat An-Nashr)
b.      Surah-surah madaniyyah murni  (مدنيه كلها)
                  Yaitu surah-surah madaniyyah yang seluruh ayat-ayatnya pun madaniyyah semua,surah-surah yang berstatus madaniyyah murni ini seluruhnya menurut penelitian penulis ada 18 surat yang terdiri dari 737 ayat.
c.       Surah-surah makkiyah yang berisi ayat madaniyyah(  مكي فيها مدنيه)
Yaitu yang surah-surah yang sebetulnya kebanyakan ayat-ayatnya adalah makkiyah,tetapi di dalamnya ada sedikitayatnya yang berstatus madaniyyah.Surah-surah yang demikian itu dalam Al-Qur’an ada 32 surah.
d.      Surah-surah madaniyyah yang berisi makkiyah (مدنيه فيها مكي)
Yaitu surah-surah yang kebanyakan ayat-ayatnya berstatus madaniyyah.Surah-surah yang demikian ini hanya ada 6 surah yang terdiri dari 726 ayat.
e.       Ayat-ayat yang diturunkan di mekkah sedang hukumnya madani
Ayat-ayat ini diturunkan di mekkah pada hari penaklikkan kota mekkah tetapi sebenarnya madaniyyah karena diturunkan sesudah hijrah dan di samping itu seruannya bersifat umum.contohnya surat Al-Hujarat.[7]
f.       Ayat-ayat yang duturunkan di madinah sedang hukumnya mekkah
Mereka memberi contoh dengan surah Al-Mumtahanah.Surat ini diturunkan di madinah dilihat dari segi turunnyaTetapi seruannya ditunjukkan kepada orang musyrik di mekkah.
·         Dasar-dasar penetapan makkiyah dan madaniyyah[8]
Adapun dasar yang dapat menentukan suatu surah tersebut makkiyah atau madaniyyah itu ada dua hal,yaitu:
a)      Dasar aghlabiyah (mayoritas)
Yaitu kalau suatu surah itu mayoritas ayat-ayatnya adalah makkiyah,maka disebut surah makkiyah dan sebaliknya.
b)      Dasar taba’iyah (kontinuitas)
Yakni kalau permulaan suatu surah itu didahului dengan ayat-ayat yang turun di mekkah atau turun sebelum hijrah.Maka surah tersebut disebut sebagai surah makkiyah dan sebaliknya.
Dasar kedua ini didasarkan pada hadist:

كانت ادا انزلت فاتحةصورة بمكة ثم يزيدالله فيها مايشا
Artinya:”Kalau awal surah itu diturunkan di makkah,maka dicatat sebagai surah makkiyah,lalu Allah menambahkan di dalam surah itu ayat-ayat yang dikehendakiNYA”.[9]

4.      Faedah mengetahui Makki dan Madani[10]
a)      Mudah diketahui mana ayat-ayat yang turun lebih dahulu dan mana ayat yang turun belakangan dari kitab suci Al-Qur’an.
b)      Mudah diketahui mana ayat-ayat Al-Qur’an yang hukumnya/bacaannya telah di naskh (dihapus dan diganti) dan mana ayat-ayat yang menasakhkannya,khususnya bila ada dua ayat yang menerangkan hukum suatu masalah,tetapi ketetapan hukumnya bertentangan yang satu dari yang lain.
c)      Mengetahui dan mengerti sejarah dan pensyariatkanhukum-hukum islam (Taarikhut Tasyrik) yang amat bijaksan dalam menetapkan peraturan-paraturan.
d)     Mengetahui hikmah disyariatkannya suatu hukum (Hikmatut Tasyrik).
e)      Dengan mengetahui ilmu makki dan madani yang dapat mengetahui hikmatut tasyrik akan bisa menambah kepercayaan orang terhadap kewahyuan Al-Qur’an.
f)       Meningkatkan keyakinan orang terhadap kesucian,kemurnian dan keaslian Al-Qur’an.
g)      Mengetahui perbedaan dan tahap-tahap dakwah islamiyah.
h)      Mengetahui perbedaan ushlub-ushlub (gaya bahasa) Al-Qur’an.
i)        Dengan mengetahui ilmu makki dan madani,situasi dan kondisi masyarakat kota mekkah dan madinah dapat diketahui.
j)        Untuk dijadikan alat bantu untuk menafsirkan Al-Qur’an.
k)      Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui Al-Qur’an.




PENUTUP
Kesimpulan
Di dalam Al-Qur’an terdapat surat makkiyah dan madaniyah.Surat makkiyah merupakan surat yang diturunkan di kota mekkah sedangkan madaniyah merupakan surat yang diturunkan di kota madinah setelah nabi Muhammad SAW hijrah ke mekkah.Surat makkiyah dan madaniyyah juga mempunyai ciri-ciri tersendiri,macam,dasar-dasar penetapan serta faedahnya.jadi Surat makkiyah dan madaniyyah bukan hanya sekumpulan surat yang ada di dalam Al-Qur’an dan kita baca setiap hari akan tetapi keduanya juga mempunyai latar belakang yang dibedakan menjadi beberapa hal.











DAFTAR PUSTAKA

Al-Jauziyah,Ibnu Qoyyim,Belajar Mudah Ulum Al-Qur’an ,Jakarta:Lentera,2002.
Al-Khattan,Manna’ Khalil terj.Mudzakir,Bogor:Pustaka Litera,2001.
Djalal,Abdul,Ulumul Qur’an,Surabaya:Dunia Ilmu,2000.









[1]Ibn.Qayyin al-Jauziyah,Study Khasanah Ilmu Al-Qur’an (Jakarta:PT.Lentera Basritama,2002),135
[2] Abdul Djalal,Ulumul Qur’an (Surabaya:Dunia Ilmu,2000),77
[3]HR.Abu Amr dan Utsman bin Sa’id Ad-Darimi
[4]Abdul Djalal,Ulumul Qur’an (Surabaya:Dunia Ilmu,2000)86
[5]Abdul Djalal,Ulumul Qur’an (Surabaya:Dunia Ilmu,2000)89

[7]Al-Khattan,Manna’ Khalil terj Mudzakir (Bogor:Pustaka Litera.2001)75
[8]Abdul Djalal,Ulumul Qur’an(Surabaya:Dunia Ilmu,2000)100
[9] HR.Abu Abbas
[10]Abdul Djalal,Ulumul Qur’an(Surabaya:Dunia Ilmu,2000)100