Saturday, 1 June 2013

PENDIDIKAN dan PERUBAHAN PERILAKU di MASYARAKAT


PEMBAHASAN

Berikut adalah beberapa surat dan ayat yang berhubungan dengan pendidikan dan perubahan perilaku di masyarakat  bagian petunjuk:
QS. Al-Insan ayat 3

$¯RÎ) çm»uZ÷ƒyyd Ÿ@Î6¡¡9$# $¨BÎ) #[Ï.$x© $¨BÎ)ur #·qàÿx. ÇÌÈ
Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan petunjuk, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.

Ayat ini menerangkan bahwa sesungguhnya Allah, telah menunjuki ke jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. Maka dengan bimbingan wahyu-Nya yang disampaikan lewat Nabi Muhammad SAW manusia telah ditunjuki jalan yang lurus dan mana pula jalan yang sesat Allah menunjukkan kepadanya kebaikan dan kejahatan. Tuhan sendiri memberikan bimbingan hidup itu dengan menurunkan wahyu, dengan meengirimkan rasul-rasul untuk memperkenalkan tentang adanya Allah Yang Maha  Kuasa. Oleh sebab itu maka petunjuk Allah dapatlah dibagi atas (1) naluri, (2) hasil pendengaran dan penglihatan yang bernama pengalaman (3) hasil renungan akal dan (4) petunjuk Illahi dengan agama.[1]

Dari perkataan "Sabil" yang terdapat dalam ayat ini tergambar keinginan Allah terhadap manusia yakni membimbing manusia kepada hidayah-Nya sebab Sabil lebih tepat diartikan sebagai petunjuk" dari pada jalan. Hidayah itu berupa dalil-dalil keesaan Allah dan kebangkitan Rasul yang disebutkan dalam kitab suci.
Sabil (hidayah) itu dapat ditangkap dengan pendengaran, penglihatan dan pikiran. Tuhan hendak menunjukkan kepada manusia bukti-bukti kewujudan Nya melalui penglihatan terhadap diri (ciptaan) manusia sendiri dan melalui penglihatan terhadap alam semesta, sehingga pikirannya merasa puas untuk mengimani-Nya.
Akan tetapi memang sudah merupakan kenyataan bahwa terhadap pemberian Allah itu, sebagian manusia ada yang bersyukur tetapi ada pula yang ingkar (kafir). Tegasnya ada yang menjadi mukmin yang berbahagia, ada pula yang kafir. Dengan sabil itu pula manusia bebas menentukan pilihannya antara dua alternatif yang tersedia itu.
QS. Ath-Thahaa ayat 50

tA$s% $uZš/u üÏ%©!$# 4sÜôãr& ¨@ä. >äóÓx« ¼çms)ù=yz §NèO 3yyd ÇÎÉÈ

Artinya:
Musa berkata, ‘’ Tuhan kami ialah yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’’

Pada ayat sebelumnya Allah Ta’ala menceritakan ihwal Fir’aun bahwa dia mengingkari kepada Musa keberadaan Sang Pembuat, Pencipta, Tuhan alam semesta, Rabb dan Pemilik semesta. ‘’Fir’aun berkata, Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?’’ Yakni siapakah yang mengutusmu? Sesungguhnya aku tidak mengenalnya dan aku tidak pernah memberitahukan kepada kalian bahwa ada Tuhan selain aku.
‘’Musa berkata, ‘’ Tuhan kami ialah yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’’ Sa’id bin Jubeir berkata, ‘’Allah memberikan kepada setiap makhluk sosok yang pantas baginya. Dia tidak memberi binatang melata sosok anjing, tidak memberi anjing sosok domba. Allah memberi segala perkara sosok yang pantas baginya. Tidak ada satu pun dari ciptaan-Nya yang mirip dengan yang lain.’’[2]
Kata tsumma/ kemudian, pada ayat ini bukan dalam arti adanya tenggang waktu antara pemberian kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya dan pemberian petunjuk kepadanya, karena bersamaan dengan pemberian bentuk itu terjadi pula penciptaan nurani serta fitrah yang melekat pada diri setiap ciptaan, yang dapat mengantar masing-masing melaksanakan fungsinya. Kata kemudian itu mengisyaratkan bahwa peringkat pemberian hidayah lebih tinggi kedudukannya daripada pemberian bentuk. Memang apalah arti bentuk yang indah jika ia tidak berfungsi dengan baik, maka walau bentuknya tidak istemewa, ia tetap tidak berharga. Kegagahan dan kecantikan seseorang atau kelincahan dan kebugaran jasmaninya sama sekali tidak memiliki arti, jika ia tidak dapat memfungsikannya sebagaimana dikehendaki oleh Sang Pencipta, lebih-lebih jika digunakan untuk hal-hal yang bertentangan dengan yang dikehendaki oleh Penciptanya.[3]
Sayyid Quthub menilai penjelasan Nabi Musa as dihadapan Fir’aun itu sebagai kesimpulan yang sangat sempurna tentang dampak dan bukti-bukti Ketuhanan Sang Pencipta dan Pengatur wujud ini. ‘’Dialah yang menganugrahi wujud bagi semua yang wujud, Dia Yang menganugrahi ciptaan sesuai dengan bentuknya masing-masing, Dia yang memberi masing-masing petunjuk untuk melaksanakan fungsi yang merupakan tujuan penciptaannya. Bila seseorang mengarahkan pandangan mata dan hatinya dalam batas-batas kemampuannya ke arah wujud alam raya ini, maka akan terlihat jelas olehnya bukti-bukti kekuasaan Sang Pencipta dan Pengatur segala wujud, dari ciptaanNya yang terkecil hingga yang terbesar. Alam raya yang demikian besar dan luas, yang terdiri dari atom dan sel-sel yang tidak terhitung, makhluk tak bernyawa atau bernyawa, semuanya dan setiap atom darinya berdenyut, dan setiap sel hidup, setiap yang jidup bergerak, dan setiap bagian darinya berinteraksi dengan wujud-wujud yang lain. Semua bergerak secar sendiri-sendiri dan bersama-sama dalam ruang lingkup hukum-hukum yang ditetapkan Allah dan yang telah terlengkapi dalam fitrah kejadian masing-masing. Semua bergerak tanpa pertentanga, tanpa kesalahan dan tidak sesaat pun mereka bosan atau jemu. Setiapwujud secara mandiri adalah alam tersendiri, yang bergerak dalam diri masing-masing sel-sel, anggota dan pelengkap dirinya sesuai dengan yang ditetapkan Allah dalam fitrahnya dan dalm batas hukum-hkum alam yang menyeluruh. Itu semua terjalin dan terlaksana dengan sangat sesuai dan teratur. Setiap wujud secara mandiri, jangankan keseluruhan wujud yang sangat luas ini tidak mampu dijangkau oleh manusia. Ilmu dan upaya manusia tidak mampu mempelajari ciri keistimewaan serta fungsi-fungsi dirinya. Ia tidak mampu mengetahui segala penyakitnya apalagi mengobatinya. Ia baru mempelajarinya, bukan menciptakannya atau memberinya petunjuk guna mengemban fungsinya. Yang ini sama sekali diluar kemampuan manusia.’’ Demikian lebih kurang komentar Sayyid Quthub tentang penggalan ayat diatas.[4]
QS. As-Sajdah ayat 24

$oYù=yèy_ur öNåk÷]ÏB Zp£Jͬr& šcrßöku $tR͐öDr'Î/ $£Js9 (#rçŽy9|¹ ( (#qçR%Ÿ2ur $uZÏG»tƒ$t«Î/ tbqãZÏ%qムÇËÍÈ
Artinya:
‘’ Dan Kami jadikan diantara mereka teladan-teladan yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka bersabar dan adalah mereka sejak dahulu terhadap ayat-ayat kami selalu yakin.’’

Petunjuk yang datang kepada Bani Isra’il itu telah membuahkan antara lain lahirnya pemimpin-pemimpin yang wajar diteladani diantara mereka, walau demikian ada juga dikalangan Bani Isra’il yang menolaknya. Ayat di atas menyatakan: Dan Kami jadikan diantara mereka yakni Bani Isra’il itu teladan-teladan, baik sebagai nabi-nabi maupun ulama-ulama yang memberi petunjuk kepada masyarakatnya serta mengantar mereka menuju kebahagiaan dan kesejahteraan hidup dengan bersabar dan tabah menghadapi tantangan dan melaksanakan tugas-tugas mereka dan adalah mereka sejak dahulu terhadap ayat-ayat kami secara khusus selalu yakin.[5]
Firman Allah Ta’ala, ‘’Dan Kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Mereka meyakini ayat-ayat kami.’’ Karena mereka bersabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan dalam meninggalkan berbagai laranganNya, membenarkan para RasulNya, dan mengikuti apa yang dibawa oleh mereka maka sebagian mereka menjadi pemimpin yang menunjukkan manusia kepada kebenaran dengan perintahNya; pemimpin yang menyeru kepada kebaikan menyuruh kepada kema’rufan, dan melarang dari kemunkaran. Namun, setelah mereka mengganti, mengubah, dan menakwilkan, maka kedudukan itu dirampas dari mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Mereka mengubah firman dari ketentuan pemakaiannya sehingga tiada lagi amal saleh dan keyakinan yang sahih. Karena itu Allah Ta’ala berfirman, ‘’dan sesungguhnya Kami telah memberi Bani Israel Al-Kitab’’ karena mereka berpegang kepada okok persoalan dan menjadi para pemimpin.[6]
QS. Al-Baqarah ayat 78

öNåk÷]ÏBur tbqÏiBé& Ÿw šcqßJn=ôètƒ |=»tGÅ3ø9$# HwÎ) ¥ÎT$tBr& ÷bÎ)ur öNèd žwÎ) tbqZÝàtƒ ÇÐÑÈ
Artinya:
‘’ Dan diantar mereka ada ummiyyun, tidak mengetahui al-Kitab tetapi amani belaka, dan mereka hanya menduga-duga.’’
Kalau ayat  sebelum ini mengisyaratkan bahwa orang-orang yang diuraikan sifatnya itu mengetahui tentang kitab suci, maka ada lagi kelompok lain. Menurut al-Biqa’i, kelompok ini lebih buruk dari yang disebut sebelumnya, karena yang sebelumnya adalah orang-orang yang tahu sehingga dengan mengingatkan atau menunjukkan kekeliruannya, boleh jadi mereka malu dan memperbaiki diri. Adapun yang dibicarakan ayat-ayat ini, mereka adalah orang-orang bodoh, tidak mengerti lagi kers kepala dan buruk perangainya. Ayat ini mengatakan: dan diantara mereka yakni orang Yahudi  ada juga kelompok umiyyun, mereka tidak mengetahui al-Kitab tetapi amani yakni agama-agama belaka, yang lahir dari kebohongan yang disampaikan oleh pendeta-pendeta Yahudi tanpa ada dasarnya dan mereka hanya menduga-duga.
Ummiyyun adalah orang-orang yang tidak memiliki pengethuan tentang kita suci atau bahkan mereka yang buta huruf.
Ayat ini dapat merupakan alasan ketiga mengapa Nabi Muhammad saw dan umat islam diperingatkan agar jangan mengharap banyak menyangkut keimanan orang-orang Yahudi. Yaitu karena ada diantara mereka yang tidak mengetahui Kitab Taurat dan kandungannya, sehingga keadaan mereka tidak seperti yang mereka ketahui dari kitab suci Taurat bahwa Nabi Muhammad saw  adalah utusan Allah.
Kata Amani dapat berarti angan-angan, harapan kosong, dongeng-dongeng, atau kebohongan. Ia dapat juga berarti bacaan tanpa upaya pemahaman atau penghayatan. Ada lagi yang mengartikannya sebagai ‘’pembicaraan yang dibuat-buat’’. Sementara Abu Ubaidah menafsirkannya dalam arti ‘’hafalan yang disampaikan tanpa buku.’’ Apapun makna yang dipilih yang jelas akhirnya ia dalah kebohongan.[7]
Sebenarnya, ketiga ayat tersebut (angan-angan, dongeng dan bacaan yang tidak dihayati) dapat dipahami sebagai maksud ayat ini. Karena memang ketiganya merupakan sifat sebagian orang Yahudi, bahkan sebagian orang yang beragama termasuk kita umat Islam. Ini tercela, apalagi seperti bunyi penutup ayat itu mereka juga hanya menduga-duga dalam segala hal yang berkaitan dengan agama. Sifat di atas dapat mengantar pelakunya kepada kecelakaan.

QS. Al-Baqarah ayat 171
ã@sVtBur tûïÏ%©!$# (#rãxÿŸ2 È@sVyJx. Ï%©!$# ß,Ïè÷Ztƒ $oÿÏ3 Ÿw ßìyJó¡tƒ žwÎ) [ä!$tãߊ [ä!#yÏRur 4 BL༠íNõ3ç/ ÒôJãã óOßgsù Ÿw tbqè=É)÷ètƒ ÇÊÐÊÈ
Artinya:
‘’Dan perumpamaan orang-orang kafir adalah seperti pengembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu, dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak berakal’’.
            Maksudnya, perumpamaan orang yang menyeru orang-orang kafir kepada kebenaran adalah seperti pengembala yang berteriak. Rasul atau para Da’i didibaratkan dengan pengembala, sedangkan para pengikut tradisi yang usang itu seperti bintang. Mereka yang diajak itu sama dengan binatang. Keduanya mendengar suara panggilan dan teriakan tetapi tidak memahami atau tidak dapat memanfaatkan suara panggilan itu.[8]
            Ayat ini dapat juga berarti orang-orang itu dalam ibadah dan do’a mereka kepada Tuhan-Tuhan mereka, seperti pengembala yang berteriak kepada binatangnya yang tidak mendengar. Di sini, orang-orang kafir itu diibaratkan dengan pengembala dan tuhan-tuhan yang mereka sembah di ibaratkan serupa dengan binatang-binatang.
            Orang-orang kafir yang mempertahankan tradisi usang itu pada hakikatnya tuli, tidak memfungsikan alat pendengar mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar bimbingan; bisu, tidak memfungsikan lidah mereka sehingga mereka tidak dapat bertanya dan berdialaog.; buta, tidak mengfungsikan mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah, dan akhirnya mereka tidak dapat menggunakan alat-alat itu untuk mendengar, melihat, dan berpikir sesuai dengan yang dikehendaki Allah yang menganugerahkannya, dan dengan demikian mereka tidak dapat menggunakan akalnya (yakni tidak ada kendali yang menghalanginya melakukan keburukan, kesalahan, dan mengikuti tradisi orang tua walau mereka sesat atau keliru). Orang-orang mukmin dilarang mengikuti mereka.
QS. Shaad ayat 29
ë=»tGÏ. çm»oYø9tRr& y7øs9Î) Ô8t»t6ãB (#ÿr㍭/£uÏj9 ¾ÏmÏG»tƒ#uä t©.xtFuŠÏ9ur (#qä9'ré& É=»t6ø9F{$# ÇËÒÈ
Artinya:
‘’ Itulah kitab yang telah Kami turunkan kepadamu yang banyak kebajikan dan berkatnya, supaya mereka memahami ayat-ayatnya, dan supaya orang-orang yang berakal mendapat pelajaran dari kitab itu.’’
            Jalan untuk memperoleh kebahagiaan dan nikmat yang kekal adalah mengikuti al-Qur’an, sebuah kitab yang diturunkan oleh Allah untuk menerangkan segala sesuatu, untuk menjadi petunjuk dan rahmat semua mukmin.
            Ya, Muhammmad kitab yang kami turunkan kepadamu adalah sebuah kitab yang banyak kebajikannya dan besar berkatnya. Didalamnya terdapat penawar bagi manusia, cahaya dan pelajaran bagi semua mukmin. Kitab itu Kami turunkan supaya mereka memahami ayat-ayat dan supaya orang-orang yang berakal mengambil pelajaran dari kitab itu.
            Kesimpulan dari ayat ini yaitu: Allah menerangkan keutamaan al-Qur’an kepada RasulNya untuk menjadi petunjuk bagi manusia dan untuk melepaskan mereka dari kesesatan. Apabila mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan mengerjakan petunjuk-petunjukNya, berbahagialah mereka di dunia dan akhirat.[9]


QS. Al-Fatihah ayat 6-7
$tRÏ÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ xÞºuŽÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgøn=tã ÎŽöxî ÅUqàÒøóyJø9$# óOÎgøn=tæ Ÿwur tûüÏj9!$žÒ9$# ÇÐÈ
Artinya:  Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang Telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Tafsir Al-Fatihah: 6
Ihdinash Shiratal al Mustaqim adalah Jalan untuk memperoleh kebahagiaan dan nikmat yang kekal adalah mengikuti al-Qur’an, sebuah kitab yang diturunkan oleh Allah untuk menerangkan segala sesuatu, untuk menjadi petunjuk dan rahmat semua mukmin.Hidayah yang dimohonkan dalam surat Al-Fatihah ini tertuang dalam “tunjukilah kami ke jalan yang lurus lagi luas”. Menurut sebagian Ulama merupakan hidayah, karena pada hakekatnya hidayah adalah ajaran yang telah disampaikan para Nabi kepada seluruh manusia.
Dengan demikian dapat dipahami dalam arti sebagai permohonan agar kiranya allah SWT, menganugrahkan kepada si pemohon melalui naluri pancaindra, akal, dan agama kemampuan untuk menggapai jalan lurus lagi luas itu. Sehingga kata ash-shirathal mustaqim tidak saja dirasakan di dalam naluri atau dilihat, dicium, didengar, dan dirabaoleh pancaindra, tetapi juga dibenarkan oleh akal serta dari saat ke saat memperoleh bimbingan dan pengetahuan yang bersumber dari Allah SWT, kemudian diberi pula kemampuan untuk melaksanakannya.[10]
Tafsir surat Al-Fatihah :7
            ‘’Jalannya orang-orang yang Engkau anugerahi nikmat kepada mereka’’ menafsirkan ‘’jalan yang lurus’’. Orang-orang yang telah dianugerahi nikmat oleh Allah adalah mereka yang di tuturkan dalam surat an-Nisa’, ‘’Dan barang siapa yang menaaati Allah dan RasulNya, mereka itu akan bersama-sama orang-orang yang di anugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi para shiddiqin, orang-orang yang mati sahid, dan orang-orang yang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.’’ (an-Nisa’:69-70)
            ‘’Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat’’, yakni bukan jalan orang-orang yang di murkai. Mereka adalah orang yang rusak kehendaknya; mereka mengetahui kebenaran, namun berpindah darinya. Dan ‘’bukan jalannya orang-orang yang sesat’’, yaitu mereka yang tidak memiliki pengetahuan dan menggandrungi kesesatan. Mereka tidak mendapat petunjuk kepada kebenaran. Hal itu dikuatkan dengan laa guna menunjukkan bahwa di sana ada dua jalan yang rusak: jalan kaum Yahudi dan Nasrani.
            Sesungguhnya jalan orang-orang yang beriman itu mencakup pengetahuan akan kebenaran dan pengamalannaya, dan kaum Yahudi tidak memiliki amal, sedang kaum Nasrani tidak memiliki ilmu pengetahuan.oleh karena itu, kemunngkaran bagi kaum Yahudi dan kesesatan bagi Kaum Nasrani. Karena orang-orang yang mengetahui, tetapi tidak beramal, maka ia berhak mendapat kemurkaan dan berbeda dengan orang yang tidak tahu. Kaum Nasrani menuju pada suatu perkara, yaitu mengikuti kebenaran, namun mereka tidak benar dalam melakukannya sebab tidak sesuai dengan ketentuannya sehingga mereka pun sesat. Baik Yahudi maupun Nasrani adalah sesat dan dimurkai Allah.[11]









Surat Muhammad: 17
tûïÏ%©!$#ur (#÷rytG÷d$# óOèdyŠ#y Wèd öNßg9s?#uäur óOßg1uqø)s? ÇÊÐÈ 

Artinya:
Dan oraang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.
Dalam ayat ini diterangkan keadaan orang yang berlawanan sifatnya dengan sifat orang munafik itu. Mereka adalah orang yang telah mendapat petunjuk, beriman, mendengar, memperhatikan dan mengamalkan ayat-ayat Alquran. Dada mereka dilapangkan Allah, hati mereka menjadi tenteram bila mendengarkan ayat-ayat Alquran atau bila mereka membacanya dan pengetahuannya semakin bertambah tentang agama Allah. Allah SWT. menambah petunjuk lagi bagi mereka dengan jalan ilham dan membimbing mereka untuk mengerjakan amal saleh serta memberi kesanggupan kepada mereka untuk menambah ketaatan dan ketakwaan mereka.[12]


















KESIMPULAN

1.      QS. Al-Insan ayat 3: Ayat ini menerangkan bahwa sesungguhnya Allah, telah menunjuki ke jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. Maka dengan bimbingan wahyu-Nya yang disampaikan lewat Nabi Muhammad SAW manusia telah ditunjuki jalan yang lurus dan mana pula jalan yang sesat Allah menunjukkan kepadanya kebaikan dan kejahatan.
2.      QS. Al-Thahaa ayat 50: ’ Tuhan kami ialah yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.
3.      QS. Sajdah ayat 24: Allah memberi petunjuk kepada masyarakatnya serta mengantar mereka menuju kebahagiaan dan kesejahteraan hidup dengan bersabar dan tabah menghadapi tantangan dan melaksanakan tugas-tugas mereka dan adalah mereka sejak dahulu terhadap ayat-ayat kami secara khusus selalu yakin.[13]
4.      QS.
5.      QS. Al-Baqarah ayat 78: Sebenarnya,  (angan-angan, dongeng dan bacaan yang tidak dihayati) merupakan sifat sebagian orang Yahudi, apalagi seperti bunyi penutup ayat itu mereka juga hanya menduga-duga dalam segala hal yang berkaitan dengan agama. Sifat di atas dapat mengantar pelakunya kepada kecelakaan.
6.      QS. Al-Baqarah 171: perumpamaan orang yang menyeru orang-orang kafir kepada kebenaran adalah seperti pengembala yang berteriak. Rasul atau para Da’i didibaratkan dengan pengembala, sedangkan para pengikut tradisi yang usang itu seperti bintang. Mereka yang diajak itu sama dengan binatang. Keduanya mendengar suara panggilan dan teriakan tetapi tidak memahami atau tidak dapat memanfaatkan suara panggilan itu.
7.      QS. As-Shaad ayat 29: Jalan untuk memperoleh kebahagiaan dan nikmat yang kekal adalah mengikuti al-Qur’an, sebuah kitab yang diturunkan oleh Allah untuk menerangkan segala sesuatu, untuk menjadi petunjuk dan rahmat semua mukmin.
8.      QS. Al-Fatihah ayat 6-7: Jalan untuk memperoleh kebahagiaan dan nikmat yang kekal adalah mengikuti al-Qur’an, sebuah kitab yang diturunkan oleh Allah untuk menerangkan segala sesuatu, untuk menjadi petunjuk dan rahmat semua mukmin.
Jalan orang-orang yang beriman itu mencakup pengetahuan akan kebenaran dan pengamalannaya


















DAFTAR PUSTAKA

Ar-Rifa’i , M. Nasib, Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta: Gema Insani Perss, 1999. jild. III.
Shihab. M. Quraish, Tafsir al-Misbah. Jakarta: PT. Lentera Hati, 2002. volume 15.
Ash-Shiddieqy. Teungku M. Hasbi. Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nuur .Semarang: Pustaka Rizki Putra. 2000.
Faqih, Djawat. Al-Quran dan Tafsirnya. Yogyakarta: PT. DANA BHAKTI WAKAF. 1987.
Hamka. Tafsir al-Azhar jus 29. Jakarta: Pustaka Panjimas. 1983




[1] Hamka, Tafsir al-Azhar jus 29,(Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983),265.
[2] M. Nasib ar-Rifa’i, Tafsir Ibnu Katsir (Jakarta: Gema Insani Perss, 1999), jild. III, hal.246-247
[3] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah (Jakarta: PT. Lentera Hati, 2002) volume 15, hal. 313
[4] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, hal. 314
[5] Ibid, 205
[6] M. Nasib ar-Rifa’i, Tafsir Ibnu Katsir. Hal. 820-821
[7] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, hal.78
[8] Ibid, hal. 358
[9] Teungku M. Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nuur (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000), hal. 3507
[10] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, hal 64.
[11] M. Nasib ar-Rifa’i, Tafsir Ibnu Katsir. Hal. 64-65
[12] Djawat Faqih, Al-Quran dan Tafsirnya (yogyakarta: PT. DANA BHAKTI WAKAF, 1987). Hal 346-347.
[13] Ibid, 205