Wednesday, 19 March 2014

HAKEKAT KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan islam sepanjang masa kegemilanganya memandang kepada kurikulum pendidikan sebagai alat bantu untuk mendidik generasi muda dengan baik dan menolong mereka untuk membuka dan mengembangkan kesediaan-kesediaan, bakat-bakat, kekuatan-kekuatan, dan ketrampilan mereka yang bermacam-macam dan menyiapkan mereka dengan baik untuk menjalankan  hak-hak dan kewajiban-kewajiban, memikul tanggung jawab terhadap diri, keluarga, masyarakat, bangsanya, dan turut serta secara aktif untuk kemajuan  masyarakat dan bangsanya. Juga untuk membentuk masa depan dan membinanyabkembali bila dirasa perlu. Ia juga alat untuk menciptakan  perubahan yang diinginkan kepada kebiasaan, kepercayaan, sikap, sistem, dan gaya hidup masyarakat.
B.     Rumusan Masalah
1.    Pengertian Kurikulum Pendidikan Islam
2.    Ciri Khusus Kurikulum Pendidikan Islam
3.    Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam
4.    Dasar Kurikulum Pendidikan Islam
5.    Isi Kurikulum Pendidikan Islam







BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kurikulum Pendidikan Islam
Kata kurikulum berasla dari bahasa yunani yang semula digunakan dalam bidang olahraga, yaitu currere yang berarti jarak tempuh lari, yakni jarak yang harus ditempuh dalam kegiatan berlari mulai dari start sampai finish. Pengertian ini kemudian diterapkan dalam pendidikan. Dalam bahasa arab, istilah kurikulum diartikan sebagai manhaj yakni jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada bidang kehidupanya. Dalam konteks pendidikan, kurikulum berarti jalan terang yang harus dilalui oleh pendidik/guru dengan peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap serta nilai-nilai. Al-khauly menjelaskan manhaj sebagai seperangkat rencana dan media untuk mengantarkan lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan.[1]
Kurikulum dapat juga diartikan menurut fungsinya :
1.    Kurikulum sebagai program studi; kurikulum sebagai perangkat mata pelajaran yang mampu dipelajari oleh peserta didik.
2.    Kurikulum sebagai kegiatan terencana; kurikulum adalah merupakan kegiatan yang direncanakan tentang hal-hal yang akan diajarkan dan dengan cara bagaimana hal itu dapat diajarkan dengan berhasil.
3.    Kurikulum sebagai pengalaman belajar; kurikulum sebagai keseluruhan pengalaman belajar yang direncanakan di bawah pimpinan sekolah.
4.    Kurikulum sebagai produksi; kurikulum sebagai seperangkat tugas yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang ditetapkan terlebih dahulu.
Kurikulum juga bisa diartikan sebagai sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga dan kecakapan yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya dengan maksud untuk menolongnya berkembang secara menyeluruh dalam segala segi dalam mengubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidikan.
Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa kurikulum pendidikan Islam pada hakekatnya merupakan kegiatan yang mencakup berbagai rencana kegiatan peserta didik yang terperinci berupa bentuk-bentuk materi pendidikan, sarana-sarana strategi belajar mengajar dan hal-hal yang mencakup pada kegiatan yang bertujuan mencapai tujuan yang diinginkan dengan mengacu pada nilai-nilai ajaran Islam.[2]
B.     Ciri khusus Kurikulum Pendidikan Islam
1.    Dalam kurikulum pendidikan islam, tujuan utamanya adalah pembinaan anak didik untuk bertauhid. Oleh karena itu, semua sumber yang dianut berasal dari ajaran islam.
2.    Kurikulum harus disesuaikan dengan fitrah manusia, sebagai makhluk yang memiliki keyakinan kepada Tuhan
3.    Mengarahkan minat dan bakat serta meningkatkan ketrampilan peserta didik yang akan diterapkan dalam kehidupan konkret
4.    Tidak ada kadaluarsa kurikulum karena ciri khas kurikulum islam senantiasa relevan dengan perkembangan zaman.
5.    Pembinaan akhlak anak didik, sehingga pergaulanya tidak keluar dari tuntutan agama islam[3]
6.    Perkaitan antara kurikulum pendidikan islam dengan minat, kemampuan, kebutuhan, dan perbedaan-perbedaan perseorangan diantara mereka juga perkaitan dengan alam sekitar budaya dan sosial dimana kurikulum dilaksanakan.[4]
                                                                                                  
C.    Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam
1.    Prinsip pertama
Prinsip pertama adalah pertautan dengan agama, termasuk ajaran-ajaran dan nilai-nilainya. Maka setiap orang yang berkaitan dengan kurikulum, termasuk falsafah, tujuan-tujuan, kandungan-kandungan, dan hubungan-hubungan yang berlaku dalam lembaga-lembaga pendidikan harus berdasar pada agama dan akhlak Islam, harus terisi dengan jiwa agama Islam.
2.    Prinsip kedua
Prinsip kedua adalah prinsip menyeluruh (universal) pada tjuan-tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum. Kalau tujuan-tujuanya harus meliputi segala aspek pribadi pelajar, maka kandunngan-kandungannya harus meliputi juga segala yang berguna untuk membina pribadi pelajar yang berpadu dan membina akidah, akal, adan jasmaniyah, begitu juga yang bermanfaat bagi masyarakat dalam perkembanganan spiritual, kebudayaan, ekonomi dan politik, termasuk ilmu-ilmu agamadll.
3.    Prinsip ketiga
Prinsip ketiga adalah keseimbangan yang relatif antara tujuan-tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum. Kalau ia memberi perhatian besar besar pada perkembangan aspek spiritual dan ilmu-ilmu syari’at, tidaklah ia membolehkan aaspek spiritual itu melampaui aspek-aspek penting yang lain dalam kehidupan, dan juga tidak boleh ilmu-ilmu syari’at melampaui ilmu-ilmu seni. Oleh sebab itu agama islam yang menjadi sumber ilham kurikulum dalam mencipta falsafah dan tujuan-tujuannya.
4.    Prinsip keempat
Prinsip keempat adalah perkaitan dengan bakat, minat, kemampuan-kemampuan, dan kebutuhan pelajar, begitu juga dengan alam sekitar fisik dan sosial dimana pelajar itu hidup dan berinteraksi untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan, kemahiran-kemahiran, pengalaman, dan sikapnya.


5.    Prinsip kelima
Prinsip kelima adalah pemeliharaan perbedan-perbedaan individu diantara pelajar-pelajar dalam bakat-bakat, minat, kemampuan-kemamuan, kebutuhan-kebutuhan, dan masalah-masalahnya, dan juga memelihara perbedaan-perbedaan dan kelainan diantara alam sekitar dan masyarakat.
6.    Prinsip keenam
Prinsip keenam adalah prinsip perkembangan dan perubahan Islam yang menjadi sumber pengambilan falsafah, prinsip-prinsip, dasar kurikulum.
7.     Prinsip ketujuh
Prinsip ketujuh adalah prinsip pertautan antara mata pelajaran, pengalaman-pengalaman, dan aktiviti terkandung dalam kurikulum. Begitu juga pertautan kandungan-kandungan kurikulum dan kebutuhan-kebutuhan murid-murid, kebutuhan-kebutuhan masyarakat, tuntutan-tuntutan zaman tempat dimana murid-murid itu berada.[5]
D.    Dasar Umum yang Menjadi Landasan Kurikulum Pendidikan Islam
1.    Dasar agama
Seluruh sistem yang ada dalam masyarakat islam, termasuk sistem pendidikanya harus meletakkan dasar falsafah, tujuan, dan kurikulumnya pada ajaran islam yang meliputi aqidah, ibadah, muamalat, dan hubungan-hubungan yang berlakau di dalam masyarakat. Hal ini bermakna bahwa semua itu pada akhirnya harus mengacu pada dua sumber utama syariat islam, yaitu al-Qur’an dan as-sunnah.[6]
2.    Dasar falsafah
Dasar ini memberikan arah dan kompas tujuan pendidikan islam, dengan dasar filosofis. Sehingga susunan kurikulum mengandung suatu kebenaran, terutama kebanaran di bidang niai-nilai sebagai pandangan hidup yang diyakini sebagai suatu kebenaran. dasar falsafah ini membawa rumusan kurikulum pendidikan islam pada tiga dimensi, yaitu dimensi ontologi epistimologi dan aksiologi.[7]
3.     Dasar Psikologis
Disamping dua dasar kurikulum pendidikan islam itu, adalagi dasar ketiga yang sangat berkaitan dengan perkembangan peserta didik, kematangan bakat-bakat, intelektual, emosi, kebutuhan-kebutuhan, keinginan dan minat, kecakapan yang bermacam-macam, dan pemikiran merekan yaitu dasar psikologis. Semua itu tidak diabaikan oleh kurikulum dan metode-metode pengajaran pendidikan islam. Tentang kurikulum sendiri, penmikirann pendidikan islam pada keseluruhan mengajak dan menggalakkan untuk membuat kurikulum ini sejalan dengan ciri-ciri perkembangan pelajar, sesuai dengan tahapan kematangan dan bakatnya pada berbagaisegiperkembangan.[8]
4.    Dasar sosiologis
Pembentukan kurikulum pendidikan islam harus mengacu kearah relisasi individu dalam masyarakat. Pola yang demikian ini berarti bahwa semua kecenderungan dan perubahan yang telah dan bakal terjadi dalam perkembangan masrarakat manusia sebagai makhluk sosial harus mendapat tempat dalam kurikulum pendedekan islam. Hal ini dimaksudkan agar output yang dihasilkan dapat pendidikan islam adlah manusia-manusia yang mampu mengambil peran dalam masyarakat dan kebudayaan dalam kehidupanya.
Selanjutnya perlu ditekankan bahwa satu dasar dengan dasar lainnya merupakan suatu kesatuan yang integral sehingga dapat membentuk kurikulum pendidikan Islam yang terpadu, yaitu kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pengembangan anak didik dalam unsur ketauhidan, keagamaan, pengembangan pribadinya sebagai individu dan pengembangannya dalam kehidupan sosial.[9] 
E.     Isi Kurikulum Pendidikan Islam
Untuk menentukan isi kurikulum pendidikan islam, dibutuhkan syarat yang perlu diajukan dalam perumusanya yaitu:
1.    Materi yang disajikan tidak menyalahi fitrah manusia
2.    Adanya relefansi dengan tujuan pendidkan islam, yaitu sebagai upaya mendekatkan dan ibadah kepada Allah dengan penuh ketakwaan dan keikhlasan
3.    Disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan usia peserta didik
4.    Penyusunan kurikulum bersifat integral, terorganisasi, dan terlepas dari kontradiksi antara materi satu dengan materi lain
5.    Materi yang disusun mempunyai relevansi dengan maslah yang muntakhir yang sedang dibicarakakn, dan sesuai dengan tujuan negara tersebut
6.    Adanya metode yang mampu menghantar tercapainya materi pelajaran dengan memperhatikan perbedaan masing-masing individu
7.    Memperhatikan aspek-aspek sosial, seperti dakwah islamiyah
Setelah syarat-syarat tersebut terpenuhi, disusunlah kurikulum pendidikan islam. Ibn Khaldun sebagaimana dikutip oleh al-abrasy, membagi isi kurikulum pendidikan islam dengan dua tingkatan, yaitu:
1.    Tingkat pemula (manhaj ibtida’i)
Materi kurikulum pemula difokuskan pada pembelajaran al-Qur’an dan as-sunnah. Ibn khaldun memandang bahwa al-Qur’n merupakan asal agama, sumber sebagai ilmu pengetahuan dan asas pelaksanaan pendidikan islam. Disamping itu mengingat isi al-Qur’an mencakup materi penanaman aqidah dan keimanan pada jiwa peserta didik, serta memuat akhlak mulia, dan pembinaan pribadi menuju perilaku yang positif

2.    Tingkat atas
Kurikulum tingkat ini mempunyai dua klasifikasi yaitu: ilmu-imu yang berkaitan dengan dzatnya sendiri, seperti ilmu syari’ah  yang mencakup (fiqih, tafsir, ilmu kalam, ilmu bumi, ilmu dan ilmu filsafat), dan ilmu-ilmu yang ditujukan untuk ilmu-ilmu lain, dan bukan berkaitan dengan dzatnya sendiri. Misalnya ilmu bahasa, ilmu matematika, ilmu mantiq (logika).
Al-ghazali membagi isi kurikulum pendidikan islam denagn empat kelompok dengan mempertimbangkan jenis dan kebutuhan ilmu itu sendiri, yaitu:
a.       Ilmu-ilmu al-Qur’an dan ilmu agama
b.      Ilmu-ilmu bahasa sebagai alat mempelajari ilmu al-Qur’an dan ilmu agama
c.       Ilmu-ilmu yang fardhu kifayah
d.      Ilmu-ilmu beberapa cabang ilmu filsafat.[10]















BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1.        Pengertian kurikulu adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga dan kecakapan yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya dengan maksud untuk menolongnya berkembang secara menyeluruh
2.        Ciri khusus dalam kurikulum pendidikan islam, tujuan utamanya adalah pembinaan anak didik untuk bertauhid. Oleh karena itu, semua sumber yang dianut berasal dari ajaran islam.
3.        Prinsip-prinsip kurikulum pendidikan islan ada tujuh prnsip
a.       Prinsip pertama adalah pertautan dengan agama, termasuk ajaran-ajaran dan nilai-nilainya
b.      Prinsip kedua adalah prinsip menyeluruh (universal) pada tjuan-tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum.
c.       Prinsip ketiga adalah keseimbangan yang relatif antara tujuan-tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum.
d.      Prinsip keempat adalah perkaitan dengan bakat, minat, kemampuan-kemampuan, dan kebutuhan pelajar
e.       Prinsip kelima adalah pemeliharaan perbedan-perbedaan individu diantara pelajar-pelajar
f.       Prinsip keenam adalah prinsip perkembangan dan perubahan Islam
g.      Prinsip ketujuh adalah prinsip pertautan antara mata pelajaran,
4.        Dasar umu yang menjadi landasan kurikulum yaitu:
a.       Dasar agama
b.      Dasar falsafah
c.       Dasar psikologis
d.      Dasar sosiologis
5.        Isi kurikulum pendidikan islam terbagi menjadi dua tingkat yaittu:
a.       Tingkat pemula
b.      Tingkat atas
DAFTAR PUSTAKA
al-Syaibany, Omar Muhammad al-Toumy,  falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung. Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
Basri, Hasan dan Beni Ahmad Saebani. Ilmu Pendidikan Islam Jilid II. Bandung: CV. Pustaka setia, 2010.
Basri, Hasan dan Maman abd. Djaliel. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka setia, 2009.
Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Jakarta: pt. Raja Grafindo Persada, 2009.
Mujib, Abdul. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006.
                                                                                                                  














[1] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: pt. Raja Grafindo Persada, 2009), 1.
[2] Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam,  (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006), 122-123.
[3] Hasan Basri dan Beni Ahmad Saebani, Ilmu Pendidikan Islam Jilid II, (Bandung: CV. Pustaka setia, 2010),182.
[4] Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany, falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), 512.
                                           
[5]Omar, Muhammad, Al-Toumy Al-Syaibany, Falsafah, 520-523.
[6] Samsul Nizar dan Abdul Halim, Filsafat Pendidikan Islam, 57.               
[7] Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, 125-126.
[8] Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany, falsafah Pendidikan Islam, 525-532.                
[10] Abdul mujib, Ilmu Pendidikan Islam, 148-150.