Wednesday, 19 March 2014

“PANDANGAN NATIVISME MENGENAI MANUSIA PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM”



PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Aliran Nativisme, secara umum sangat dipenga­ruhi oleh pandangan-pandangan dari aliran Idealisme, terlihat dari konsepsi dasarnya tentang hakikat manusia itu sendiri. Menurut aliran Nativisme ini, manusia mempun­yai potensi yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan dalam proses penerimaan pengetahuan. Potensi tersebut merupakan "gabungan" dari hereditas orang tuanya maupun "bakat/pembawaan" yang berasal dari dirinya sendiri. Kontribusi lingkungan baginya tidaklah membawa konsekuensi apa-apa terhadap pengetahuan manusia. Bahkan Schopenhaur (1778-1860) tokoh Nativisme mengatakan bahwa potensi/bakat manusia merupakan nasib malang manusia karena posisinya yang vital dalam menentukan pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan manusia. Potensi manusia yang terwujud dalam bakat/pembawaan itulah yang merupakan hakikat dari manusia dan ia tidaklah dapat dirubah oleh pengaruh lingkungan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian Nativisme
2.      Faktor Perkembangan Manusia Dalam Aliran Nativisme
3.      Tujuan Aliran Nativisme
4.      Perspektif Islam Terhadap Aliran Nativisme
5.      Pengaplikasian Aliran Nativisme Pada Masa Sekarang









PEMBAHASAN       

1.      Pengertian Nativisme

Istilah Nativisme dari asal kata Natives yang artinya terlahir. Nativisme adalah sebuah doktrin filosofis yang berpangaruh besar terhadap pemikiran psikologis. Tokoh dalam aliran ini antara lain:[1]
v  Arthur Schopenhauer (1788-1869), seorang filosofis Jerman. Arthur Schopenhauer
dilahirkan di Danzig pada tanggal 22 Februari 1788. Schopenhauer dibesarkan oleh keluarga pembisnis. Ia merupakan seorang jenius dengan karyanya yang terkenal adalah The World as Will and Representation. Ia mempunyai pandangan bahwa pembawaanlah yang maha kuasa, yang menentukan perkembangan anak. Lingkungan sama sekali tidak bisa mempengaruhi, apalagi membentuk kepribadian anak. Perkembangan ditentukan oleh faktor pembawaannya, yang berarti juga ditentukan oleh anak itu sendiri.
v  Immanuel Kant
Di lahirkan di Konigsberg pada 22 April 1724. Ia merupakan filsof Jerman dan karyanya yang terkenal adalah Kritik der Reinen Vernunft. Ia berpendapat bahwa :
1.      Apa-apa yang bisa diketahui manusia hanyalah yang dipersepsi dengan panca indra. Lain daripada itu merupakan “ilusi” saja, hanyalah ide.
2.      Semua yang harus dilakukan manusia harus bisa diangkat menjadi sebuah peraturan umum. Hal ini disebut dengan istilah “imperatif kategoris”. Contoh: orang sebaiknya jangan mencuri, sebab apabila hal ini diangkat menjadi peraturan umum, maka apabila semua orang mencuri, masyarakat tidak akan jalan.
3.      Yang bisa diharapkan manusia ditentukan oleh akal budinya. Inilah yang memutuskan pengharapan manusia.
Ø  Gottfried Wilhemleibnitz
Merupakan filsuf Jerman yang lahir di Leipzig, pada 1 Juli 1646. Gottfried mempunyai pandangan bahwa perkembangan manusia sudah ditentukan sejak lahir. Manusia hidup dalam keadaan yang sebaik mungkin karena dunian ini diciptakan oleh Tuhan.
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia itu telah di tentukan oleh faktor-faktor yang di bawa manusia sejak lahir, pembawaan yang telah terdapat pada waktu lahir itulah yang menentukan hasil perkembangannya.
Menurut nativisme, manusia tidak perlu di didik, sebab perkembangan manusia sepenuhnya ditentukan oleh bakat yang secara alami sudah ada pada dirinya. [2]Menurut aliran nativisme, pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Dalam ilmu pendidikan pandangan seperti ini di sebut pesimistis pedagogis. Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak itu sendiri. Bagi nativisme lingkungan sekitar tidak mempengaruhi perkembangan anak, penganut aliran ini menyatakan bahwa kalau anak mempunyai pembawaan jahat maka dia akan menjadi jahat, sebaliknya kalau anak mempunyai pembawaan baik maka dia akan baik.
Pembawaan baik dan buruk ini tidak dapat di ubah dari luar. Jadi menurut pemaparan di atas telah jelas bahwa pendidikan menurut aliran nativisme tidak bisa mengubah perkembangan seorang anak atau tidak mempunyai pengaruh sama sekali. Karena menurut mereka baik buruknya seorang anak di tentukan oleh pembawaan sejak lahir, dan peran pendidikan di sini hanya sebatas mengembangkan bakat saja. Misalnya: seorang pemuda sekolah menengah mempunyai bakat musik, walaupun orang tuanya sering menasehati bahkan memarahinya supaya mau belajar, tapi fikiran dan perasaanya tetap tertuju pada musik dan dia akan tetap berbakat menjadi pemusik.[3]

2.      Faktor Perkembangan Manusia Dalam Aliran Nativisme[4]
a.       Faktor genetic
Adalah faktor gen dari kedua orangtua yang mendorong adanya suatu bakat yang muncul dari diri manusia. Contohnya adalah jika kedua orang tua anak itu adalah seorang penyanyi maka anaknya memiliki bakat pembawaan sebagai seorang penyanyi yang prosentasenya besar.
b.      Faktor Kemampuan Anak
Adalah faktor yang menjadikan seorang anak mengetahui potensi yang terdapat dalam dirinya. Faktor ini lebih nyata karena anak dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Contohnya adalah adanya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang mendorong setiap anak untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya sesuai dengan bakat dan minatnya.
c.       Faktor Pertumbuhan Anak
Adalah faktor yang mendorong anak mengetahui bakat dan minatnya di setiap pertumbuhan dan perkembangan secara alami sehingga jika pertumbuhan anak itu normal maka dia kan bersikap enerjik, aktif, dan responsive terhadap kemampuan yang dimiliki. Sebaliknya, jika pertumbuhan anak tidak normal maka anak tersebut tidak bisa mngenali bakat dan kemampuan yang dimiliki.

3.      Tujuan Aliran Nativisme
Didalam aliran ini menurut G. Leibnitz Monad “Didalam diri individu manusia terdapat suatu inti pribadi”. Sedangakan menurut Arthur Schopenhauer (1788-1860) dinyatakan bahwa perkembangan manusia merupakan pembawaan sejak lahir atau bakat. Sehingga dengan Aliran ini setiap manusia diharapkan:
a.       Mampu memunculkan bakat yang dimiliki
Dengan aliran ini diharapkan manusia bisa mengoptimalkan bakat yang dimiliki dikarenakan telah mengetahui bakat yang bisa dikembangkannya. Dengan adanya hal ini, memudahkan manusia mengembangkan sesuatu yang bisa berdampak besar terhadap kemajuan dirinya.
b.      Mendorong manusia mewujudkan diri yang berkompetensi
Jadi dengan aliran ini diharapkan setiap manusia harus lebih kreatif dan inovatif dalam upaya pengembangan bakat dan minat agar menjadi manusia yang berkompeten sehingga bisa bersaing dengan orang lain dalam menghadapi tantangan zaman sekarang yang semakin lama semakin dibutuhkan manusia yang mempunyai kompeten lebih unggul daripada yang lain.
c.       Mendorong manusia dalam menentukan pilihan
Adanya aliran ini manusia bisa bersikap lebih bijaksana terhadap menentukan pilihannya, dan apabila telah menentukan pilihannya manusia tersebut akan berkomitmen dan berpegang teguh terhadap pilihannya tersebut dan meyakini bahwa sesuatu yang dipilihnya adalah yang terbaik untuk dirinya.
d.      Mendorong manusia untuk mengembangkan potensi dari dalam diri seseorang
Aliran ini dikemukakan untuk menjadikan manusia berperan aktif dalam pengembangan potensi diri yang dimil
iki agar manusia itu memiliki ciri khas atau ciri khusus sebagai jati diri manusia.
e.       Mendorong manusia mengenali bakat minat yang dimiliki
Dengan adanya aliran ini, maka manusia akan mudah mengenali bakat yang dimiliki, denga artian semakin dini manusia mengenali bakat yang dimiliki maka dengan hal itu manusia dapat lebih memaksimalkan bakatnya sehingga bisa lebih optimal.

4.      Perspektif Islam Terhadap Aliran Nativisme
Fitrah yang disebutkan dalam Q.S ar-Rum [30]:30; dan Q.S al-A’raf [7]:172, mengandung implikasi kependidikan bahwa di dalam diri manusia terdapat potensi dasar beragama yang benar dan lurus (al-din al-qayyim) yaitu agama Islam. Potensi dasar ini tidak dapat diubah oleh siapapun atau lingkungan apapun, karena fitrah itu merupakan ciptaan Allah yang tidak akan mengalami perubahan baik isi maupun bentuknya dalam tiap pribadi manusia.
Fitrah yang bercorak nativistik juga berkaitan dengam faktor hereditas (keturunan) yang bersumber dari orang tua, termasuk keturunan beragama (religiositas). Faktor religiositas ini didasarkan atas beberapa dalil dari ayat al-Qur’an sebagai berikut:
tA$s%ur ÓyqçR Éb>§ Ÿw öxs? n?tã ÇÚöF{$# z`ÏB tûï͍Ïÿ»s3ø9$# #·$­ƒyŠ ÇËÏÈ
y7¨RÎ) bÎ) öNèdöxs? (#q=ÅÒムšyŠ$t6Ïã Ÿwur (#ÿrà$Î#tƒ žwÎ) #\Å_$sù #Y$¤ÿŸ2 ÇËÐÈ

”Berkatalah Nabi Nuh:"Ya Tuhanku, janganlah Engkau memberikan tempat kepada mereka, maka mereka akan menyesatkan hamba-Mu dan mereka tidak akan melahirkan anak, melainkan anak yang kafir pula terhadap-Mu.”(QS, Nuh: 26-27).
Fitrah diartikan kemampuan dasar untuk berkembang dalam pola dasar keislaman (fitrah islamiah) karene faktor kelemahan diri manusia sebagai ciptaan Tuhan yang berkecenderungan asli untuk berserah diri kepada kekuasaan-Nya.[5]
Fitrah merupakan keutamaan yang diberikan oleh Allah kepada manusia yang menjadi potensi manusia yang educable. Potensi tersebut bersifat kompleks yang terdiri atas : ruh (roh), qalb (hati), ‘aql (akal), dan nafs (jiwa). Potensi-potensi tersebut bersifat ruhaniah atau mental - psikis. Selain itu manusia juga dibekali potensi fisik - sensual berupa seperangkat alat indera yang berfungsi sebagai instrumen untuk memahami alam luar dan berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya. Dengan demikian fitrah merupakan konsep dasar manusia yang ikut berperan dalam membentuk perkembangan peserta didik di samping lingkungan (pendidikan).
Fitrah yang bersifat potensial tersebut harus dikembangkan secara faktual dan aktual. Untuk melakukan upaya tersebut, Islam memberikan prinsip-prinsip dasarnya berupa nilai-nilai Islami sehingga pertumbuhan potensi manusia terbimbing dan terarah. Dalam proses inilah faktor pendidikan sangat besar peranannya bahkan menentukan bentuk corak kepribadian seseorang. Nampaknya itulah yang menjadikan Nabi Muhammad mewajibkan umatnya untuk mencari ilmu.
Berdasarkan konseptualisasi itulah pendidikan diharapkan dapat berfungsi sebagai wahana dalam mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan fitrahnya. Dengan demikian jelaslah bahwa Islam mengakui peranan faktor dasar manusia (fitrah) dan faktor pendidikan dalam perkembangan anak. Hanya saja konsep Islam mengenai sifat dasar manusia maupun proses pendidikan yang diperlukan berbeda dengan pendirian-pendirian aliran di atas. Fitrah atau potensi (ketauhidan, kebaikan, kebenaran, dan kemanusiaan) peserta didik dengan bantuan pendidik akan berkembang dinamis. Jika kepribadian dan paradigmanya telah terbentuk maka ia akan melakukan proses mandiri menuju kesempurnaan dirinya menuju ridha Allah, sebuah posisi yang selalu dicari oleh semua muslim.
Berdasarkan interprestasi demikian, maka pendidikan Islam “bisa dikondisikan” berfaham nativisme, yaitu suatu faham yang menyatakan bahwa perkembangan manusia dalam hidupnya secara mutlak ditentukan oleh potensi dasarnya.[6]Proses kependidikan sebagai upaya untuk mempengaruhi jiwa anak didik tidak berdaya merubahnya.
Ali Fikry salah seorang ahli pendidikan Mesir menyatakan bahwa para ulama telah sepakat bahwa “kecenderungan nafsu itu berpindah dari orang tua secara turun temurun”. Oleh karena itu anak adalah merupakan rahasia dari orang tuanya. Manusia sejak awal perkembangannya berada di dalam garis keturunan dari keagamaan orang tuanya. Jika orang tuanya muslim, otomatis anaknya menjadi muslim, dan jika mereka kafir maka anaknya akan menjadi kafir pula”.[7]
Ada sebuah Hadits SAW yang dapat menjadikan sumber pandangan Nativisme seperti tersebut diatas adalah sebagai berikut “Setiap orang dilahirkan oleh ibunya atas dasar fitrah (potensi dasar untuk beragama), maka setelah itu orang tuanya mendidik menjadi beragama Yahudi, dan Nasrani, dan Majusi; jika orang tua keduanya beragama Islam, maka anaknya menjadi muslim (pula)”. Pengertian yang bersumber dari kedua dalil di atas diperkuat oleh Syekh Muhammad Abduh dalam tafsiranya yang berpendapat bahwa “agama Islam adalah agama fitrah”.
Pendapat Muhammad Abduh ini serupa dengan pendapat Abu A’la Al-Maududi yang menyatakan bahwa “agama Islam adalah agama identik dengan watak tabi’y manusia (human nature). Demikian pula pendapat Sayyid Qutb yang menyatakan bahwa “Islam diturunkan Allah untuk  mengembangkan watak asli manusia (human nature), karena Islam adalah agama yang fitrah”.[8]
Agama Islam sebagai agama fitrah disamakan oleh Ibnu Qayyim dengan kecenderungan asli anak bayi yang secara insklusif (naluriah) menerima tetek ibunya. Manusia menerima agama Islam bukan karena paksaan, melainkan karena adanya kecenderungan asli itu, yaitu fitrah islamiyah.

5.      Pengaplikasian Aliran Nativisme Pada Masa Sekarang
Faktor pembawaan bersifat kodrati tidak dapat diubah oleh pengaruh alam sekitar dan pendidikan (Arthur Schaupenhauer (1788-1860)). Untuk mendukung teori tersebut di era sekarang banyak dibuka pelatihan dan kursus untuk pengembangan bakat sehingga bakat yang dibawa sejak lahir itu dilatih dan dikembangkan agar setiap individu manusia mampu mengolah potensi diri. Sehingga potensi yang ada dalam diri manusia tidak sia-sia karena tidak dikembangkan, dilatih dan dimunculkan.
Tetapi pelatihan yang diselenggarakan itu didominasi oleh orang-orang yang memang mengetahui bakat yang dimiliki, sehingga pada pengenalan bakat dan minat pada usia dini sedikit mendapat paksaan dari orang tua dan hal itu menyebabkan bakat dan kemampuan anak cenderung tertutup bahkan hilang karena sikap otoriter orangtua yang tidak mempertimbangkan bakat, kemampuan dan minat anak.
Lembaga pelatihan ini dibuat agar menjadi suatu wadah untuk menampung suatu bakat agar kemampuan yang dimiliki oleh anak dapat tersalurkan dan berkembang dengan baik sehingga hasil yang dicapai dapat maksimal.


PENUTUP
KESIMPULAN
1.      Istilah Nativisme dari asal kata Natives yang artinya terlahir.
2.      Aliran nativisme berpendapat bahwa perkembangan manusia itu telah di tentukan oleh faktor-faktor yang di bawa manusia sejak lahir, pembawaan yang telah terdapat pada waktu lahir itulah yang menentukan hasil perkembangannya. Menurut nativisme, manusia tidak perlu di didik, sebab perkembangan manusia sepenuhnya ditentukan oleh bakat yang secara alami sudah ada pada dirinya.
3.      Faktor Perkembangan Manusia Dalam Aliran Nativisme
a.    Faktor genetic
b.    Faktor Kemampuan Anak
c.    Faktor Pertumbuhan Anak
4.      Tujuan Aliran Nativisme
a.       Mampu memunculkan bakat yang dimiliki
b.      Mendorong manusia mewujudkan diri yang berkompetensi
c.       Mendorong manusia dalam menentukan pilihan
d.      Mendorong manusia untuk mengembangkan potensi dari dalam diri seseorang
e.       Mendorong manusia mengenali bakat minat yang dimiliki
5.      Perspektif Islam Terhadap Aliran Nativisme
Fitrah yang disebutkan dalam Q.S ar-Rum [30]:30; dan Q.S al-A’raf [7]:172, mengandung implikasi kependidikan bahwa di dalam diri manusia terdapat potensi dasar beragama yang benar dan lurus (al-din al-qayyim) yaitu agama Islam. Potensi dasar ini tidak dapat diubah oleh siapapun atau lingkungan apapun, karena fitrah itu merupakan ciptaan Allah yang tidak akan mengalami perubahan baik isi maupun bentuknya dalam tiap pribadi manusia.








DAFTAR PUSTAKA

Basuki dan Miftahul Ulum. Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. (Ponorogo: STAIN Po Press, 2007).
http://Diawali%20dengan%20%27Bismillah%27%20%20FILSAFAT%20PENDIDIKAN%20ISLAM.html
http://TEORI%20NATIVISME%20-%20Lelaki%20Hujan.html
http://Perspektif%20Islam%20Terhadap%20Aliran%20Empirisme,%20Nativisme,%20dan%20Konvergensi%20-%20Kotak%20Kabar.html,
Jalaluddin. Teologi Pendidikan. (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2003).
M. Arifin. Ilmu Pendidikan Islam.  (Jakata: Bumi Aksara, 2008).
Sad Iman, Muis. Menimbang Konsep Fitrah dan Progresivisme John Dewey. (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004).



[2]Jalaluddin, Teologi Pendidikan (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2003), hal. 46.
[3]http://Diawali%20dengan%20%27Bismillah%27%20%20FILSAFAT%20PENDIDIKAN%20ISLAM.html
[4]http://TEORI%20NATIVISME%20-%20Lelaki%20Hujan.html,
[5] Muis Sad Iman, Menimbang Konsep Fitrah dan Progresivisme John Dewey (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004), hlm. 145.

[6]http://Perspektif%20Islam%20Terhadap%20Aliran%20Empirisme,%20Nativisme,%20dan%20Konvergensi%20-%20Kotak%20Kabar.html,
[7] M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Jakata: Bumi Aksara, 2008), hlm. 43.
[8] Basuki dan Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam (Ponorogo: STAIN Po Press, 2007), hlm.67-68.