Wednesday, 19 March 2014

HAKEKAT MILIU SEKOLAH DALAM PENDIDIKAN ISLAM


BAB l
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sekolah sebagai pusat pembelajaran yang bermakna dan sebagai proses sosialisasi dan pembudayaan kemampuan, nilai, sikap, watak, dan perilaku hanya dapat terjadi dengan kondisi infrastruktur, tenaga kependidikan, sistem kurikulum, dan lingkungan yang sesuai. Dalam kaitannya dengan pengembangan minat baca, pendapat lain menyebutkan sekolah dapat dijadikan sebagai pusat pengembangan minat dan kegemaran membaca (Supriyanto, 1996: 1). Berdasarkan pendapat ini sarana dan prasarana yang mendukung terwujudnya sekolah sebagai pusat pengembangan minat baca wajib disediakan, seperti perpustakaan, buku sekolah, program atau kegiatan-kegiatan membaca, dan waktu untuk membaca. Penguatan Membaca, Fasilitas Lingkungan Sekolah dan Keterampilan Dasar Membaca. sekolah sebagai sarana pendidikan berfungsi juga sebagai lembaga untuk menyeleksi dan memilih manusia yang berbakat, terampil dan mampu, sehingga masyarakat berkembang ke arah kondisi yang bermanfaat (meritocracy), dan dapat memenuhi kondisi masyarakat yang dipersiapkan untuk masa depan. Dari berbagai pendapat dan teori di atas, disimpulkan lingkungan sekolah adalah suatu tempat dengan iklim yang dikondisikan untuk belajar dan mempersiapkan murid memenuhi perannya di masa sekarang dan masa mendatang.


B.     Rumusan Masalah

1.      Pengertian sekolah?
2.      Hakikat miliu sekolah dalam pendidikan Islam?
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Kata sekolah berasal dari Bahasa Latin: skhole, scola, scolae atau skhola yang memiliki arti: waktu luang atau waktu senggang, dimana ketika itu sekolah adalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan menghabiskan waktu untuk menikmati masa anak-anak dan remaja. Kegiatan dalam waktu luang itu adalah mempelajari cara berhitung, cara membaca huruf dan mengenal tentang moral (budi pekerti) dan estetika (seni). Untuk mendampingi dalam kegiatan scola anak-anak didampingi oleh orang ahli dan mengerti tentang psikologi anak, sehingga memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada anak untuk menciptakan sendiri dunianya melalui berbagai pelajaran di atas. Adapun secara istilah Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa atau murid di bawah pengawasan guru. Dengan demikian, lingkungan sekolah dapat diartikan segala sesuatu yang tampak dan terdapat di sekolah, baik itu alam sekitar maupun setiap individu yang berada di dalamnya yang memberikan pengaruh pembentukan  sikap dan pengembangan potensi siswa.[1]
Sekolah adalah lembaga pendidikan yang penting pula sesudah keluarga. Ketika anak meningkat usia kurang lebih 6 tahun, perkembangan intelek, daya berpikir mereka telah sedemikian sehingga mereka telah membutuhkan beberapa dasar-dasar  ilmu pengetahuan. Masa antara 6 atau 7 tahun sampai 12 atau 13 tahun, biasanya juga disebut masa intelek. Anak-anak telah cukup matang untuk belajar dasar-dasar berhitung, ilmu-ilmu pengetahuan alamiah dan kemasyarakatan, penambahan pembendaharaan dan ilmu bahasa, ilmu pengetahuan keagamaan. Di rumah tangga (keluarga) tidak selamanya tersedia kesempatan dan kesanggupan pendidik untuk memberi pelajaran. Dalam hal ini sekolahlah yang telah diatur dan disiapkan sedemkian untuk dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu.
B.     Hakikat miliu sekolah dalam pendidikan Islam
Tugas guru dan pemimpin-pemimpin sekolah disamping memberikan pendidikan budi pekerti dan keagamaan, memberi pula dasar-dasar ilmu pengetahuan. Pendidikan budi pekerti dan keagamaan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah haruslah merupakan lanjutan, setidaknya jangan bertentangan dengan apa yang diberikan dalam keluarga. Akibat-akibat dari suatu perbedaan yang besar antara pendidikan yang diberikan oleh kedua badan ini. Si anak akan dihadapkan dengan pertentangan nilai-nilai, mereka akan bingung dan kemungkinan timbul rasa tidak percaya kepada kedua badan pendidikan tersebut. Banyak lagi akibat-akibat yang mungkin lebih jelek yang timbul. Oleh karena itu, inilah perlunya orang-orang tua memasukkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah agama yang dipeluknya. Setidak-tidaknya sekolah umum yang netral yang tidak memberikan pendidikan agama itu dapat mengadakan secara reguler seminggu sekali untuk pendidikan masing-masing Agama secara terpisah.
Sekolah harus banyak membantu keluarga dalam usaha pembentukan kepribadian, pembentukan budi pekerti dan juga keagamaan.[2] Telah diakui oleh berbagai pihak peran sekolah bagi pembentukan kepribadian anak sangat besar. Sekolah telah membina anak tentang kecerdasan, sikap, minat,dll. Dengan gaya dan caranya sendiri sehingga anak menaatinya. Karena itu dapatlah dikatakan sekolah berpengaruh besar bagi jiwa dan keberagaman anak. Lingkungan sekolah yang positif terhadap pendidikan Islam yaitu lingkungan sekolah yang memberikan fasilitas dan motivasi untuk berlangsungnya pendidikan agama ini, apalagi kalau sekolah ini memberikan sarana dan prasana yang memadai untuk penyelenggaraan pendidikan agama, maka dibuatkan pula tempat wudhu, diadakan buku-buku bacaan tentang keislaman di dalam perpustakaan sekolah dan diberikan pula kesempatan yang luas untuk penyelenggaraan praktik-praktik ibadah serta peringatan hari-hari besar Islam. Lingkungan sekolah demikian inilah yang mampu membina anak rajin beribadah, berpandangan luas, dan berdaya nalar kreatif. Lingkungan sekolah yang negatif terhadap pendidikan agama yaitu lingkungan sekolah yang berusaha untuk meniadakan kepercayaan agama di kalangan anak didiknya.[3]
Lingkungan sekolah terdiri atas tempat belajar dan mengajar, para pendidik dan anak didik, karyawan sekolah, alat-alat dan fasilitas sekolah. Dalam lingkungan sekolah perbedaan individual anak didik perlu mendapat perhatian dari guru agar proses belajar mengajar berjalan secara kondusif. Berkaitan dengan perbedaan-perbedaan tersebut, Syaiful Bahri Djamarah menjelaskan sebagai berikut.
a.       Perbedaan biologis
Perbedaan biologis anak didik berhubungan dengan fisik, kesehatan anak didik, dan mentalisnya.
b.      Perbedaan intelektual
Intelegensi merupakan salah satu aspek yang selalu aktual untuk dibicarakan dalam dunia pendidikan.
c.       Perbedaan psikologis
Di sekolah perbedaan aspek psikologis ini tak dapat dihindari disebabkan pembawaan dan lingkungan anak didik yang berlainan antara anak didik yang satu dengan yang lainnya.[4]Pengembangan pendidikan  berkaitan dengan lingkungan sekolah tidak hanya  berhubungan dengan keberadaan para pendidik yang memikul beban dan tanggung jawab yang berat dalam melaksanakan pembinaan terhadap anak didiknya, tetapi juga berhubungan secara langsung dengan sarana dan prasarana yang ada di lingkungan sekolah yang ikut mendukung pengembangan pendidikan Islam yang dimaksud. Lingkungan sekolah juga harus menjamin kelancaran berkomunikasi anak didik dengan semua pihak sekolah untuk mempermudah hubungan interaksional anak didik dengan semua pihak sekolah  yang berkaitan dengan kepentingan pembelajarannya.
Sekolah-sekolah yang diselenggarakan pihak swasta, tidak sedikit yang memiliki lingkungan sekolah yang sangat asri, seperti di lingkungan pedesaan yang dikelilingi pesawahan atau pegunungan, kolam ikan, pepohonan yang rindang dan sebagainya sehingga suasana belajar lebih menggairahkan dan tidak membosankan. Ilmu pendidikan Islam yang dapat dikembangkan dalam lingkungan sekolah, salah satunya adalah ilmu tentang kebersihan lingkungan sekolah, kebersihan jasmani dan rohani, kebersihan niat menuntut ilmu, dan usaha-usaha pemeliharaan lingkungan sekolah yang Islami.[5]
Bagi setiap muslim yang benar-benar beriman dan melaksanakan ajaran-ajaran Islam, mereka berusaha untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah yang diberikan pendidikan agama, atau ke sekolah umum yang memberikan pendidikan agama secara terpisah pada jam-jam tertentu. Dalam hal ini mereka mengharapkan agar anak didiknya kelak memiliki kepribadian muslim. Yang dimaksud dengan kepribadian muslim ialah kepribadian yang seluruh aspeknya baik tingkah lakunya, kegiatan jiwanya maupun filsafat hidup dan kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Tuhan, penyerahan diri kepada-Nya.[6]


























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Sekolah harus banyak membantu keluarga dalam usaha pembentukan kepribadian, pembentukan budi pekerti dan juga keagamaan. Lingkungan sekolah terdiri atas tempat belajar dan mengajar, para pendidik dan anak didik, karyawan sekolah, alat-alat dan fasilitas sekolah. Dalam lingkungan sekolah perbedaan individual anak didik perlu mendapat perhatian dari guru agar proses belajar mengajar berjalan secara kondusif. Lingkungan sekolah yang positif terhadap pendidikan Islam yaitu lingkungan sekolah yang memberikan fasilitas dan motivasi untuk berlangsungnya pendidikan agama ini, apalagi kalau sekolah ini memberikan sarana dan prasana yang memadai untuk penyelenggaraan pendidikan agama, maka dibuatkan pula tempat wudhu, diadakan buku-buku bacaan tentang keislaman di dalam perpustakaan sekolah dan diberikan pula kesempatan yang luas untuk penyelenggaraan praktik-praktik ibadah serta peringatan hari-hari besar Islam.
















DAFTAR  PUSTAKA

ahmad, D. Marimb, Pengantar filsafat Pendidikan Islam, Bandung : PT. Al-Ma’arif.
Basri dan Beni Ahmad Saebani, Hasan. Ilmu Pendidikan Islam, Bandung : Pustaka Setia, 2010.
H.M Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : PT RINEKA CIPTA, 2009.
Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1992.






[2] D. Marimba ahmad, Pengantar filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : PT. Al-Ma’arif), 60-62
[3] H.M Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : PT RINEKA CIPTA, 2009),304.
[4] Hasan Basri dan Beni Ahmad Saebani, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 2010), 116-117

[5] Ibid, 121-122
[6] Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1992), 179.