Wednesday, 19 March 2014

HAKEKAT MILIU RUMAH dalam PENDIDIKAN ISLAM


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Lingkungan yang nyaman dan mendukung, menjadi terselenggaranya suatu pendidikan dan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan. Demikian pula dalam sistem pendidikan Islam, lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sesuai dengan karakteristik pendidikan Islam itu sendiri. Oleh karena itu, dalam kajian pendidikan Islam lingkungan pendidikan mendapat perhatian. Pengaruh lingkungan ini tentu dianalisis dengan menggunakan paradigma pendidikan Islam. Lingkungan dalam perspektif pendidikan Islam harus menunjang tercapainya tujuan pendidikan Islam.
Pengaruh lingkungan yang baik dan yang kurang baik dapat terjadi pada anak. Mengingat besarnya pengaruh lingkungan terhadap kepribadian dan watak anak, maka dalam pendidikan Islam lingkungan keluarga menjadi pendidikan utama pada anak. Dari urian diatas dapat diketahui bagaimana pentingnya lingkungan terhadap proses pendidikan terutama pendidikan Islam.
B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian keluarga
2.      Pengertian miliu rumah dalam pendidikan Islam
















BAB II
PEMBAHASAN
1.      Pengertian keluarga
Keluarga ialah ikatan antara laki- laki dengan wanita berdasarkan hukum atau undang- undang perkawinan yang sah. Didalam keluarga ini lahirlah anak- anak. keluarga merupakan masyarakat alamiah yang pergaulan diantara anggotanya bersifat khas. Dalam lingkungan ini terletak dasar- dasar pendidikan. Disini pendidikan berlangsung dengan sendirinya sesuai dengan tatanan pergaulan yang berlaku didalamnya, artinya tanpa harus di umumkan atau dituliskan terlebih dahulu agar diketahui dan diikuti oleh seluruh anggota keluarga.[1]
2.      Hakekat miliu rumah dalam pendidikan Islam
Dalam melaksanakan pendidikan Islam, peranan pendidik sangat penting artinya dalam proses pendidikan, karena dia yang bertanggung jawab dan menentukan arah pendidikan tersebut. Pendidikan merupakan bimbingan dan pertolongan secara sadar yang diberikan oleh pendidik kepada anak didik sesuai dengan perkembangan jasmaniah dan rohaniah ke arah kedewasaan. Anak didik di dalam mencari nilai- nilai hidup, harus dapat bimbingan sepenuhnya dari pendidik, karena menurut ajaran islam, saat anak didik dilahirkan dalam keadaan lemah dan suci. Sedangkan alam sekitarnya akan memberi corak warna terhadap nilai hidup atas pendidikan agama anak didik.[2]
Lingkungan merupakan salah satu faktor pendidikan yang ikut serta menentukan corak pendidikan Islam, yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap anak didik. Lingkungan yang dimaksud disini adalah lingkungan yang berupa keadaan sekitar yang mempengaruhi pendidikan anak.[3]
Miliu atau yang biasa disebut lingkungan adalah sesuatu yang berada diluar diri anak dan mempengaruhi perkembangannya. Menurut Sartain (seorang ahli psikologi Amerika), bahwa yang dimaksud lingkungan sekitar adalah meliputi semua kondisi dalam dunia ini yang dengan cara- cara tertentu mempengaruhi tingkah laku manusia, pertumbuhan, dan perkembangan.[4]
Pendapat lain mengatakan, bahwa didalam lingkungan tidak hanya terdapat sejumlah faktor pada suatu saat, melainkan terdapat pula faktor- faktor yang lain, yang secara potensial dapat mempengaruhi perkembangan dan tingkah laku anak.
Memang lingkungan berpengaruh besar kepada anak didik, meliputi lingkungan yang baik atau yang kurang baik. Lebih- lebih jika lingkungan yang kurang baik mudah mempengaruhi anak didik. Mengingat lingkungan tidak bertanggung jawab mempengaruhi anak didik, maka sudah sepantasnya jika pendidik bersikap bijaksana dalam bersikap dan menghadapi lingkungan tersebut. Sedangkan faktor pendidikan secara sadar dan bertanggung jawab menuntun dan membimbing anak ke tujuan pendidikan yang diharapkan.[5]
Dalam GBHN (ketetapan MPR No. IV/MPR/1978), berkenaan dengan pendidikan dikemukakan antara lain sebagai berikut: “Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan didalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah dan masyarakat.[6]
Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak- anaknya. Dikatakan pendidik pertama, karena ditempat inilah anak mendapatkan pendidikan untuk pertama kalinya sebelum ia menerima pendidikan yang lainnya. Dikatakan pendidikan utama karena pendidikan dari tempat ini mempunyai pengaruh yang dalam bagi kehidupan anak di kemudian hari. Karena peranannya demikian penting itu maka orang tua harus benar- benar menyadarinya sehingga mereka dapat memerankannya sebagai mana mestinya.[7]
Lingkungan keluarga terdiri atas Ayah, Ibu, Anak- anak, dan saudara kandung, kerabat dekat yang serumah, dan termasuk pembantu rumah tangga. Mereka semua harus berfungsi sebagai pendidik yang patut diteladani oleh anak dalam usia perkembangannya. Orang tua dan anggota keluarga yang serumah sebagai pendidik, sedangkan pendidik adalah profil yang setiap hari didengar perkataannya, dilihat dan ditiru perilakunya oleh anak- anaknya. Oleh karena itu, anggota keluarga yang secara langsung bertugas sebagai pendidik harus melakukan hal- hal sebagai berikut:[8]
1.      Mengajarkan aspek- aspek yang berkaitan dengan keberimanan kepada Allah dan tata cara beramal saleh
2.      Ikhlas menjalankan tugas dan kewajiban sebagai orang tua
3.      Memberi contoh keteladanan
4.      Mengarahkan dan mengembangkan minat serta bakat anak- anaknya
5.      Memberikan kesempatan kepada anak untuk berbicara dan berpendapat
Islam juga mengajarkan bahwa pendidik pertama dan utama yang paling bertanggung jawab terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik adalah kedua orang tua. Islam memerintahkan kedua orang tua untuk mendidik keluarganya terutama anak- anaknya, agar mereka terhindar dari azab yang pedih. Firman Allah yang artinya: “Hai orang- orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat- malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At- Tahriim: 6). [9]
Pendidikan anak mutlak dilakukan oleh orangtuanya untuk menciptakan keseluruhan pribadi anak yang maksimal. Anak harus mengetahui jenis kebaikan dan keburukan, dapat memilih dan memilahnya sekaligus mengamalkannya. Lingkungan keluarga menjadi tolak ukur keberhasilan anak dalam pendidikan. Oleh karena itu, terutama orangtua yang memikul tanggung jawab terbesar dalam pendidikan anak. Orang tua diharapkan membentuk lingkungan keluarga yang islami, karena anak mudah meniru seluruh perbuatan anggota keluarga yang dilihatnya.
Anak akan merekam dan melakukan tindakan- tindakan sebagai hasil rekamannya. Semua aktifitas dalam keluarga harus dipantau dan diarahkan, seperti menonton acara televisi, menggunakan internet, telepon seluler, cara bergaul di lingkungan masyarakat, pergaulan dengan teman sekolah, dan teman sebayanya, terutama ketika anak menginjak masa puber yang membutuhkan perhatian dan pembinaan.[10]




3.      Macam- macam lingkungan pendidikan
Menurut Drs. Abdurrahman Saleh ada tiga macam pengaruh lingkungan pendidikan terhadap keberagaman anak, yaitu:[11]
a.       Lingkungan yang acuh tak acuh terhadap agama
Lingkungan semacam ini adakalanya berkeberatan terhadap pendidikan agama, dan adakalanya pula agar sedikit tau tentang hal itu.
b.      Lingkungan yang berpegang kepada tradisi agama tetapi tanpa keinsyafan batin
Lingkungan yang demikian ini biasanya menghasilkan anak- anak beragama yang secara tradisional tanpa kritik atau beragama secara kebetulan.
c.       Lingkungan yang memiliki tradisi agama dengan sadar dan dalam kehidupan agama
Lingkungan ini memberikan motivasi (dorongan) yang kuat kepada anak untuk memeluk dan mengikuti pendidikan agama yang ada. Apabila lingkungan ini ditunjang dengan pimpinan yang baik dan kesempatan yang memadai, maka kemungkinan besar hasilnya pun juga baik.
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa lingkungan pendidikan dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:[12]
1.      Pengaruh lingkungan positif
Lingkungan yang memberikan dorongan atau memberikan motivasi dan rangsangan kepada anak untuk menerima, memahami, meyakini, serta mengamalkan ajaran islam.
2.      Pengaruh lingkungan negatif
Lingkungan yang menghalangi atau kurang menunjang kepada anak untuk menerima, memahami, meyakini, dan mengamalkan ajaran islam.
3.      Lingkungan netral
Lingkungan yang tidak memberikan dorongan untuk meyakini, atau mengamalkan agama, demikian pula tidak melarang atau menghalangi anak untuk meyakini dan mengamalkan ajaran islam. Lingkungan ini apatis, masa bodoh terhadap keberagaman anak.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.       Miliu atau yang biasa disebut lingkungan adalah sesuatu yang berada diluar diri anak dan mempengaruhi perkembangannya
2.      Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak- anaknya
3.      Macam- macam lingkungan pendidikan
·         Lingkungan yang acuh tak acuh terhadap agama
·         Lingkungan yang berpegang kepada tradisi agama tetapi tanpa keinsyafan batin
·         Lingkungan yang memiliki tradisi agama dengan sadar dan dalam kehidupan agama



DAFTAR PUSTAKA

Basri, Hasan dan Beni Ahmad Saebani. Ilmu Pendidikan Islam Jilid II. (Bandung: Pustaka Setia, 2010 )
Daradjat, Zakiah. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi Aksara, 2008)
Nizar, Samsul. Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis. (Jakarta: Ciputat Pers, 2002)
Sudiyono, M. Ilmu Pendidikan Islam Jilid I. (Jakarta: Rineka Cipta, 2009)
Uhbiyati, Nur dan Abu Ahmadi. Ilmu Pendidikan Islam I. (Bandung: Pustaka Setia, 1997)
Zuhairini. Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi Aksara, 2008)






[1] M. Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam Jilid I (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 155.
[2] Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 167.
[3] Ibid., 173.
[4] Ibid., 298.

[5] Ibid., 298-299.
[6] Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 34.
[7] Nur Uhbiyati, Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam I (Bandung: Pustaka Setia, 1997), 251.
[8] Hasan basri
[9] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), 42.
[10] Hasan Basri, Beni Ahmad Saebani, Ilmu Pendidikan Islam Jilid II (Bandung: Pustaka Setia, 2010), 116.
[11] Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam Jilid I, 299- 300.
[12] Ibid.