Thursday, 23 May 2013

AL- QUSYAIRI


PENDAHULUAN

Sebagaimana kita ketahui bahwa tasawuf terbagi menjadi tiga, yaitu tasawuf akhlaki, tasawuf irfani dan tasawuf falsafi. Tasawuf akhlaki merupakan gabungan antara ilmu tasawuf dan ilmu akhlak. Akhlak erat hubungannya dengan perilaku dan kegiatan manusia dalam interaksi sosial pada lingkungan tempat tinggalnya. Jadi, tasawuf akhlaki dapat terealisasi secara utuh jika pengetahuan tasawuf dan ibadah kepada Allah dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, tasawuf akhlaki merupakan kajian ilmu yang sangat memerlukan praktik untuk menguasainya. Tidak hanya berupa teori sebagai sebuah pengetahuan, tetapi harus terealisasi dalam rentang waktu kehidupan manusia. Supaya lebih mudah menempatkan posisi tasawuf dalam kehidupan bermasyarakat, para pakar tasawuf membentuk kajian tasawuf ini pada ilmu tasawuf akhlaki, yang didasarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW.
إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق (رواه أحمد و البيهقي)
Salah seorang tokoh tasawuf akhlaki adalah al-Qusyairi, untuk mengenal lebih dalam mengenai al-Qusyairi maka patut kiranya kita ketahui mengenai sejarah beliau serta ajaran yang diajarkannya sebagaimana akan dijelaskan dalam makalah ini.











BAB II
PEMBAHASAN

A.    Riwayat Hidup Syaikh Al- Qusyairi
Al- Qusyairi dilahirkan pada tahun 376 H, di Istiwa, kawasan Nishapur, salah satu pusat ilmu pengetahuan pada masanya. Nama lengkapnya adalah Abd al- Karim bin Hawazin Al- Qusyairi.[1] Di Nishapur beliau bertemu dengan gurunya, Abu Ali Al- Daqqaq, seorang sufi yang terkenal.  Al-Qusyairi selalu menghadiri majelis pengajian guruny dan dari gurunya itulah beliau menempuh jalan sufi. Sang guru menyarankannya untuk pertama-tama mempelajari Fiqh pada seorang Faqih yang bernama Abu Bakr Muhammad bin Abu Bakr Al- Tusi (w. 405) dan mempelajari ilmu kalam serta ushul Fiqh pada Abu Bakr bin Faruak (w. 406).[2]
Al- Qusyairi adalah seorang tokoh terkemuka pada abad kelima hijriyah, yang cenderung mengadakan pembaharuan, yakni dengan mengembalikan tasawuf ke landasan al- Qur’an dan as- Sunnah yang merupakan cirri utamadari ajaran tasawuf sunni. Kedudukannya yang demikian penting mengingat karya- karyanya tentang para sufi dan tasawuf aliran sunni abad- abad ketiga dan keempat hijriyah, yang membuat terpeliharanya pendapat dan khasanah tasawuf pada masa itu baik dari segi teoritis maupun praktis. Menurut B. Khallikan, Al- Qusyairi adalah orang yang mampu mengompromikan syari’at dengan hakikat. Demikian tinggi kedudukan Al- Qusyairi dalam bidang ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang tasawuf, sehingga beliau mendapat banyak sekali gelar, seperti al- Imam, al- Ustadz, al- Syekh, Zayn al- Din dan juga al- Jami’ bayn al- Syari’ah  wa al- Haqiqah (yang mengintegrasikan syari’at dan hakikat),[3] panggilan tersebut merupakan panggilan kehormatan, karena posisinya sebagai orang yang mempunyai derajat luhur dan agung dalam ilmu islam dan tasawuf. Al- Qusyairi wafat di Naisabur, ahad pagi 16 Rabiul Awal tahun 465 H (1073 M) pada umur 87 tahun.[4]

B.     Ajaran Syaikh Al- Qusyairi
Al- Qusyairi terkenal karena beliau menulis sebuah risalah tentang tasawuf, yang diberi nama Al- Risalah al- Qusyairiyah, kitab ini ditulis al- Qusyairi untuk golongan orang- orang sufi dibeberapa Negara Islam dalam tahun 473 H, kemudian tersiar luas keseluruh tempat karena isinya ditujukan untuk mengadakan perbaikan terhadap ajaran- ajaran sufi yang pada waktu itu banyak menyimpang dari sumber islam. Jika kitab al- Risalah tersebut dikaji secara seksama, maka akan tampak jelas bagaimana al- Qusyairi mengembalikan tasawuf keatas landasan doktrin Ahl Al- Sunnah, seperti pernyataannya berikut ini:
“ Ketahuilah! Para tokoh aliran ini (maksudnya para sufi) membina prinsip- prinsip tasawuf atas landasan tauhid yang benar sehingga terpeliharalah doktrin mereka dari penyimpangan. Selain itu, mereka lebih dekat dengan tauhid kaum salaf maupun ahlus sunnah yang tidak tertandingi serta tidak mengenal macet. Mereka pun tahu hak yang lama dan bias mewujudkan sifat sesuatu yang diadakan dari ketiadaannya. Oleh karena itu, tokoh aliran ini, Al- Junaid mengatakan bahwa tauhid adalah pemisah antara hal yang lama dan hal yang baru. Landasan doktrin- doktrin mereka pun didasarkan pada dalil-dalil dan bukti yang kuat serta gambang. Dan ini seperti dikatakan Abu Muhammad Al- Jariri bahwa barang siapa tidak mendasarkan ilmu tauhid pada salah satu pengokohnya, niscaya membuat tergelincirnya kaki yang tertipu ke dalam jurang kehancurannya.”[5]
Secara implisit dalam ungkapan al- Qusyairi tersebut terkandung penolakan terhadap  para sufi syathahi yang mengucapkan ungkapan- ungkapan penuh kesan tentang terjadinya perpaduan antara sifat- sifat ketuhanan, khususnya sifat terdahulu-Nya dengan sifat- sifat kemanusiaan khususnya sifat barunya. Selain itu al- Qusyairi pun mengecam keras para sufi pada masanya karena kegemaran mereka mempergunakan pakaian orang- orang miskin, sementara tindakan mereka pada saat yang sama bertentangan dengan pakaian mereka. Beliau menekankan bahwa kesehatan batin dengan berpegang pada al- Qur’an dan as- Sunnah lebih penting dari pada pakaian lahiriah.


                        Al- Qusyairi memiliki dasar- dasar pemikiran sebagai berikut:
1.      Ma’rifat menurut Abdul Karim Al- Qusyairi adalah seseorang yang sudah dapat mengenal Allah, dalam pengenalannya itu sudah sampai kepada keyakinan yang kuat. Maka apabila seseorang itu sudah mencapai pada tingkatan ma’rifat, maka setiap tingkah lakunya dan pola pikirnya haruslah didasari dengan ilmu.
2.      Ma’rifat adalah suatu sifat seseorang yang telah mengenal Allah melalui sifat dan asma-Nya, dengan meninggalkan sifat- sifat tercela, selalu ingat kepada Allah yang telah member karunia yang berupa kondisi mental yang tangguh ini dan tanpa adanya keragu- raguan, tidak dapat dipalingkan dengan apapun atau siapapun dan tetap dalam arah menuju ridha Allah.
3.      Pokok pikirannya yang lain telah terungkap pada kitab- kitabnya yang membahas antara lain:
a.       Menyangkut dasar- dasar keimanan yang menjadi landasan setiap perkembangan tasawuf.
b.      Uraian tentang tokoh- tokoh sufi yang telah memantapkan tasawuf melalui uraian dalam pemikiran mereka.
c.       Uraian yang menyangkut berbagai pengertian aspek dri maqomat dan akhwal.
d.      Uraian yang menyangkut pengertian, kedudukan dan kelayakan seseorang dalam kekeramatan terutama di kalangan sendiri.[6]












BAB III
SIMPULAN

Nama lengkap al-Qusyairi adalah Abdul Karim bin Hawazin. Sedangkan nasabnya adalah Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thalhah bin Muhammad sedangkan panggilannya adalah Abul Qasim. Ia lahir pada bulan Rabiul Awal tahun 376 H atau tahun 986 M di Astawa.
Ia bertemu gurunya, Abu Ali al-Daqqaq di naisabur seorang sufi terkenal. Ketika mendengar ucapan ucapan ad-Daqqaq, al-Qusyairy sangat mengaguminya. Ad-Daqqaq sendiri telah berfirasat mengenai kecerdasan muridnya itu. Karena itu ad-Daqqaq mendorongnya untuk menekuni ilmu pengetahuan. Akhirnya, al Qusyairy merevisi keinginan semula, dan cita cita sebagai pegawai pemerintahan hilang dari benaknya, serta memilih jalan tarekat.
Beliau wafat di Naisabur, pada pagi hari Ahad, tanggal 16 Rablul Akhir 465 H./l073 M. Ketika itu usianya 87 tahun. Ia dimakamkan di samping makam gurunya, Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq ra, dan tak seorang pun berani memasuki kamar pustaka pribadinya dalam waktu beberapa tahun, sebagai penghormatan atas dirinya.
Mengenai ajarannya al-Qusyairi menekankan kembali kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan mengikuti para sufi Sunni abad ketiga dan keempat Hijriyah seperti diriwayatkan dalam Risalahnya, hal itu menunjukkan bahwa tasawuf pada masanya mulai menyimpang dari perkembangan yang pertama, baik dari segi akidah atau dari segi moral dan tingkah laku.




[1] Asmaran, Pengantar studi Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996, 318.
[2] Rosihon Anwar, Akhlak tasawuf, Bandung: Pustaka Setia, 2009, 125.
[3] Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, Erlangga, 2006, 191.
[4] Moh. Sutoyo, Tasawuf dan Tarekat jalan Menuju Allah, Madiun: Tegalarum, 2007,52.
[5] Anwar, Akhlak Tasawuf, 126.
[6] Sutoyo, Tasawuf dan Tarekat jalan Menuju Allah, 54.