Thursday, 23 May 2013

KONSEP ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN EKSISTENSIALISME DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIK DALAM PENDIDIKAN




BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam filsafat pendidikan, terdapat beberapa aliran yang kita kenal, yang mana aliran-aliran tersebut mempunyai karakteristik sendiri-sendiri.
Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat memiliki berbagai macam aliran seperti eksistensialisme. Aliran eksistensialisme termasuk dalam kategori aliran kontemporer.
Eksistensialisme menekankan kebebasan dalam tindakan. Kebebasan bukan tujuan atau cita-cita dalam dirinya sendiri, melainkan merupakan suatu potensial untuk suatu tindakan. Adapun aliran eksistensialisme dalam filsafat pendidikan akan kita bahas pada makalah ini.

B.     RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana konsep aliran filsafat pendidikan eksistensialisme?
  2. Bagaimana konsep pendidik dalam pendidikan?
  3. Bagaimana iniplikasi aliran filsafat pendidikan eksistensialisme terhadap pendidik dalam pendidikan?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN EKSISTENSIALISME
  1. Pengertian Aliran Eksistensialisme
Kara “eksistensi” menurut Save M. Dagun, berasal dari kata latin “existere” yang berarti keluar dan “sitere” yang berarti membuat berdiri. Jadi, eksistensialisme berarti apa yang ada, apa yang memiliki aktualisasi, apa yang dialami.[1]
Secara singkat Kierkegaard memberikan pengertianeksistensialisme adalah suatu penolakan terhadap suatu pernikiran abstrak, tidak logic atau tidak ilmiali. Eksistensialisme menolak segala bentuk kemutlakkan
rasional.[2]
  1. Ciri-Ciri Aliran Eksistensialisme
Kaum eksistensialisme, bahwa setiap individu menentukan untuk dirinya sendiri apa itu yang benar, salah, indah dan jelek. Tidak ada bentuk universal, setiap orang memiliki keinginan untuk bebas (free will) dan berkembang.[3]
Dengan demikian aliran ini hendak memadukan hidup yang dimiliki dengan pengalaman dan situasi sejarah yang ia alami dan tidak mau terikat oleh hal-hal yang sifatnya abstrak serta spekulatif, baginya segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, keyakinan yang tumbuh dari dirinya dan kemampuan serta keluasan jalan untuk mencapai keyakinan hidupnya.[4]
Oleh karena itu, sikap dikalangan kaum eksiszensialisme atzu penganut aliran ini seringkali tampak aneh atau lepas dari norma-norma. umum. Kebebasan untuk freedom to adalah lebih banyak menjadi ukuran dalam sikap atau perbuatannya.[5]
  1. Sejarah Aliran Eksistensialisme
Eksistensialisme berasal dari pemikiran Sorenkier Kegard (Denmark: 1813-1855). Inti masalahnya ialah: Apa itu kehidupan manusia? Apa tujuan dan kegiatan manusia? Bagaimana kita menyatakan keberadaan manusia?. Pokok pernikir-nnya dicurahkan kepada pemecahan yang konkret terhadap arti “berada” mengenai manusia.[6]
Pada periode selanjutnya, muncul tokoh yang bernama Jean Paul Satre (1905-1981) dan Nietzhche (1844-1900). Aliran eksistensialisme ini tampaknya berkembang menjadi radikal dan ekstrim. Satre misalnya, menyatakan bahwa manusia memiliki kebebasan absolut dan tidak terbatas. Disamping kebebasan mutlak, Satre mengakui adanya actuality (kefaktaan) yang merupakan garis batas, yaitu 1) adanya tempest dimana manusia berada; 2) adanya masa lampau; 3) adanya lingkungan sekitar; 4) adanya maut.[7]
Lebih ekstrim lagi, Nietzche dengan lantang mengatakan bahwa “Tuhan telah mati dan dikubur". Oleh karena itu,,para penganut agama tidak perlu lagi takut akan dosa. Dengan mematikan Tuhan, lanjut Nietzche, manusia barn bisa bebas berbuat dan bertindak. Sebab selama ini manusia dikukung oleh nilai-nilai agama, seperti pahala dan dosa.[8]
Pada periode berikutnya muncul tokoh-tokoh lainnya, diantaranya. Martin Buber, Martin Heideger, Karl Jasper, Gabril Marcel dan Paul Tillich.[9]
  1. Tokoh-Tokoh Aliran Eksistensialisme
·         Soren Aabye Kiekeegard
Inti pemikirannya adalah eksistensi manusia bukanlah sesuatu yang statis tetapi senantiasa menjadi manusia selalu bergerak dari kemungkinan menuju kenyataan, dari cita-cita menuju kenyataan hidup saat ini. Jadi ditekankan harus ada keberanian dari manusia untuk mewujudkan apa yang ia cita-citakan atau apa yang ia anggap kemungkinan.
·         Friendrich Nietzche
Menurutnya manusia yang bereksistensi adalah manusia yang mempunyai keinginan untuk berkuasa (will to power) dan untuk berkuasa manusia harus menjadi manusia super (uebermensh) yang mempunyai mental majikan bukan mental budak. Dan kemampuan ini hanya dapat dicapai dengan penderitaan karena dengan menderita orang akan berfikir lebih aktif dan akan menemukan dirinya sendiri.
·         Karl Jespers
Memandang filsafat bertujuan mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri. Eksistensialismenya ditandai dengan pemikiran yang menggunakan semua pengetahuan obyektif serta mengatasi pengetahuan obyektif itu, sehingga manusia sadar akan dirinya sendiri. Ada 2 fokus pemikiran Jasper yaitu eksistensi dan transendensi.
·         Martin Heidegger
Inti pemikirannya adalah keberadaan manusia diantara keberadaan yang lain, segala sesuatu yang berada di luar manusia selalu dikaitkan dengan manusia itu sendiri dan benda-benda yang ada di luar manusia baru mempunyai makna apabila dikaitkan dengan manusia karena benda-benda yang berada di luar itu selalu digunakan manusia pada setiap tindakan dan tujuan mereka.
·         Jean Paul Sartre
Menekankan pada kebebasan manusia, manusia setelah diciptakan mempunyai kebebasan untuk menemukan dan mengatur dirinya. Konsep manusia yang bereksistensi adalah makhluk yang hidup dan berada dengan sadar dan bebas bagi diri sendiri.[10]
  1. Prinsip-Prinsip Pendidikan Eksistensialisme
Menurut eksistensialisme, pengetahuan kita tergantung pada pemahaman kita temang realitas, tergantung kepada interprestasi kita tentang realitas. Pengetahuan yang diberikan di sekolah bukan merupakan alat untuk memperoleh pekerjaan atau karier anak, melainkan pengetahuan itu dapat dijadikan alat perkembangan dan alat pemenuhan diri. Biarkanlah pribadi anak berkembang untuk menemukan kebenaran-kebenaran bagi dirinya sendiri.[11]
Menurut Buber kebanyakan pendidikan merupakan paksaan. Dalam proses belajar mengajar, pengetahuan tidak dilimpahkan melainkan ditawarkan. Pengetahuan yang akan diberikan kepada murid harus menjadi bagian dari pengalaman pribadinya. Jadi pengetahuan yang ditawarkan guru, tidak lagi merupakan sesuatu yang diberikan kepada murid, melainkan merupakan suatu aspek yang telah menjadi miliknya sendiri.[12]
Subjek materi merupakan materi dimana individu menemukan pemenuhan dirinya dan kesadaran akan dunianya. Subjek yang dapat memenuhi tuntutan di alas diantaranya natural sciences, sejarah, sastra, seni dan filsafat. Dan guru hendaknya selalu membimbing siswa dan memberi semangat kepada muridnya. Dan siswa harus belajar keras seperti gurunya.[13]

B.     KONSEP PENDIDIK DALAM PENDIDWAN
  1. Definisi Pendidik
Kata pendidik berasal dari kata dasar didik, artinya memelihara, merawat dan memberi latihan agar seseorang memiliki ilmu pengetahuan seperti yang diharapkan. Selanjutnya dengan menambahkan awalan “pe” menjadi pendidik yang artinya orang yang mendidik.[14]
Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggungjawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani­rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah, khalifah di muka bumf, sebagai makhluk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.[15]
Di dalam ilmu pendidikan yang dimaksud pendidik ialah semua yang mempengaruhi perkembangan seseorang yaitu manusia, alam dan kebudayaan. Manusia, alam dan kebudayaan inilah yang wring disebut dalam ilmu pendidikan sebagai lingkungan pendidikan.[16]
Islam mengajarkan bahwa pendidik pertama dan utama yang paling bertanggungjawab terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik adalah kedua orang tua. Islam memerintahkan kedua orang tua untuk mendidik diri & dan keluargannya, terutama anak-anaknya agar mereka terhindar dari azab yang pedih.[17]
  1. Tugas Pendidik
Berhasil atau tidaknya tujuan pendidikan sangat ditentukan oleh bagaimana pendidik memahami tugasnya. Secara garis besar pendidik mempunyai tugas sebagai berikut:
a.       Membimbing peserta didik
b.      Menciptakan situasi untuk pendidikan
c.       Memiliki pengetahuan-pengetahuan yang diperlukan, pengetahuan­pengetahuan keagamaan dan lain-lainnya.[18]
  1. Karakteristik Pendidik
Menurut Syaiful Bahri Djamarah, guru yang bertanggung jawab adalah guru yang memiliki karakteristik di bawah ini:
a.       Menerima dan mematuhi norma, nilai-nilai kernanusiaan.
b.      Memikul tugas mendidik dengan bebas, berani, gembira (tugas bukan menjadi beban baginya).
c.       Sadar akan nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatannya serta akibat-akibat yang timbul.
d.      Menghargai orang lain, termasuk anak didik.
e.       Bijaksana dan hati-hati (tidak nekat, tidak sembrono, tidak singkat akal).
f.       Takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.[19]
  1. Kompetensi Pendidik
Karena pendidik sebagai tenaga yang dipersiapkan untuk mendidik peserta didik secara profesional, maka dalam konteks sistem pendidikan nasional seorang pendidik harus memiliki kemampuan untuk mewujudkan pendidikan nasional. Agar bisa mewujudkan pendidikan nasional seseorang dianggap mampu menjadi pendidik apabila memiliki kemampuan yang antara lain menurut Idris dan Jamal terdiri dari:
a.       Kemampuan dalam mengembangkan kepribadian.
b.      Menguasai bahan bidang studi dan mengelola program belajar mengajar.
c.       Mengelola kelas menggunakan media dan sumber belajar.
d.      Menguasai landasan kependidikan.
e.       Mengelola interaksi belajar mengajar.
f.       Menilai prestasi peserta didik.
g.      Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan.
h.      Mengenal dan menyelenggarakan administrasi.
i.        Memahami prinsip-prinsip dan penafsiran hasil penelitian.
j.        Interaksi dengan masyarakat.[20]

C.    IMPLIKASI ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN EKSISTENSILISME TERILADAP PENDIDIK
Eksistensialisme menolak bentuk kemutlakan rasional. Penganut aliran ini seringkali tampak aneh atau lepas dari norms-norms umum. Kebebasan untuk freedom to adalah lebih banyak menjadi ukuran dalam sikap dan perbuatan.[21]
Pandangan eksistensialisme terhadap pendidikan adalah:
  1. Pembimbing dan stimulate berfikir reflektif melalui panggilan pertanyaan-pertanyaan (inquiri)
  2. Bukan pemberi intruksi
  3. Memiliki kejuruan ilmiah, integritas dan kreatifitas
  4. Figure yang tidak mencampuri perkembangan minat dan bakat siswa.[22]

BAB III
PENUTUP

KESIMIPULAN
Dari uraian di alas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Eksistensialisme adalah suatu penolakan terhadap suatu pemikiran abstrak, tidak logis, atau tidak ilmiah. Eksistensialisme menolak segala bentuk kemutlakan rasional.
2.      Pendidik adalah semua yang mempengaruhi perkembangan seseorang.
3.      Implikasi eksistensialisme terhadap pendidik adalah:
a)      Pembimbing dan stimulator berfikir reflektif melalui panggilan pertanyaan-pertanyaan (inquiri)
b)      Bukan pemberi intruksi
c)      Memiliki kejuruan ilmiah, integnitas dan kreatifitas
d)     Figure yang tidak mencampuri perkembangan minat dan bakat siswa.


[1] Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), 28.
[2] Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 30-31.
[3] Chaedar Alwasilah, Filsafat Bahasa dan Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008).
[4] Basuki dan Miftahul Ulum, Pengantar Filsafat Pendidikan (Ponorogo: STAIN Po Press, 2010), 29.
[5] Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 31.
[6] Burhanuddin Salam, Pengantar Pedagogik (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997), 60.
[7] Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), 29.
[8] Ibid., 30.
[9] Burhanuddin Salam, Pengantar Pedagogik (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997), 60.
[11] Burhanuddin Salam, Pengantar Pedagogik (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997), 61.
[12] Ibid., 62.
[13]Chaedar Alwasilah, Filsafat Bahasa dan Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), 106.
[14] Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), 139.
[15] Abd. Aziz, Orientasi Sistem Pendidikan Agama di Sekolah (Yogyakarta: Teras, 2010), 18.
[16] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), 170.
[17] Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam (Ciputat: PT Ciputat Press, 2005), 42.
[18] Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2009), 69.
[19] Ibid., 79.
[20] Fatah Yasin, Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam (Malang: UIN Malang Press, 2008), 71.
[21] Basuki dan Miftahul Ulum, Pengantar Filsafat Pendidikan (Ponorogo: STAIN Po Press, 2010), 29.
[22] Ibid., 48.