Thursday, 23 May 2013

Dinasti Mughal




PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sejarah merupakan realitas masa lalu, keseluruhan fakta, dan peristiwa yang unik dan berlaku. Hanya sekali dan tidak terulang untuk yang kedua kalinya. Oleh karena itu, ada pandangan bahwa masa silam tidak perlu dihiraukan lagi, anggap saja masa silam itu ”kuburan”. Pandangan ini tentu saja sangat subyektif dan cenderung apriori sekaligus tidak memiliki argumentasi yang kuat. Tapi bagaimanapun sebuah perirtiwa pada masa silam bisa dijadikan pandangan untuk kehidupan yang akan datang agar lebih baik
Sejak Islam masuk ke India pada masa Khalifah al-Walid dari Dinasti Bani Umayyah melalui ekspedisi yang dipimpin oleh panglima Muhammad Ibn Qasim.  peradaban Islam mulai tumbuh dan menyebar di anak benua India. Kedudukan Islam di wilayah ini dan berhasil menaklukkan seluruh kekuasaan Hindu dan serta mengislamkan sebagian masyarakatnya India pada tahun 1020 M. Setelah Gaznawi hancur muncullah beberapa dinasti kecil yang menguasai negeri India ini, seperti Dinasti Mamluk, Khalji, Tuglug,  dan yang terakhir Dinasti Lodi yang didirikan  Bahlul Khan Lody.
Hadirnya Kerajaan Mughal membentuk sebuah peradaban baru di daerah tersebut dimana pada saat itu mengalami kemunduran dan keterbelakangan. Kerajaan Mughal yang bercorak Islam mampu membangkitkan semangat ummat Islam di India.
Hal ini menunjukkan bahwa Kerajaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di India. Jika pada dinasti-dinasti sebelumnya Islam belum menemukan kejayaannya, maka kerajaan ini justru bersinar dan berjaya. Keberadaan kerajaan ini dalam periodisasi sejarah Islam dikenal sebagai masa kejayaan kedua setelah sebelumnya mengalami kecemerlangan pada dinasti Abbasiyah.
B.     Rumusan Masalah
1.      Jelaskan asal usul kerajaan Mughal di India!
2.      Siapa Raja-raja Dinasti Mughal?
3.      Jelaskan kemajuan-kemajuan Dinasti Mughal!
4.      Jelaskan penyebab kemunduran Dinasti Mughal!
PEMBAHASAN
A.     Asal Usul Kerajaan Mughal Di India
                                     Peta dinasti mughal[1]
          Kata “Mughal” dalam bahasa Parsi adalah panggilan bagi bangsa Mongol dan turunan Mongolia. [2]Dinasti Mughal (1256-1858 M) merupakan kekuasaan Islam terbesar pada anak benua India, yang didirikan oleh Zahiruddin Babur (1526-1530M), salah satu dari cucu Timur Lenk. Ayahnya bernama Umar Mirza, penguasa Ferghana, sedangkan ibunya adalah keturunan Jengis Khan. Kekuasaannya meliputi daerah India, Pakistan, Bangladesh dan Kashmir sekarang. Babur mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun. Ia berambisi dan bertekad untuk menaklukan Samarkhand yang menjadi kota penting di Asia Tengah pada masa itu.Pada mulanya ia mengalami kekalahan tetapi karena mendapat bantuan dari raja Safawi, Ismail I, akhirnya ia berhasil menaklukan Samarkhand tahun 1492 M, dan pada tahun 1504 M Babur menduduki Kabul, ibukota Afganistan. [3]
Setelah Kabul dapat ditaklukan, Babur meneruskan ekspansinya ke India yang saat itu diperintah Ibrahim Lodi, yang sedang mengalami masa krisis, sehingga stabilitas pemerintahan menjadi kacau. Alam Khan, paman dari Ibrahim Lodi, bersama-sama Daulat Khan, Gubernur Lahore, mengirim utusan ke Kabul, ia meminta bantuan Babur untuk menjatuhkan pemerintahan Ibrahim Lodi di Delhi. Permohonan itu langsung diterimanya. Pada tahun 1525 M, Babur berhasil menguasai Punjab dengan ibu kotanya Lahore. Setelah itu, ia memimpin tentaranya menuju Delhi. Pada tanggal 21 April 1526 M terjadilah pertempuran yang dahsyat di Panipat antara Ibrahim Lodi dan Zahiruddin Babur, yang terkenal dengan pertempuran Panipat I. Ibrahim Lodi terbunuh dan kekuasaannya berpindah ke tangan Babur, Sejak itulah berdiri dinasti Mughal di India, dan Delhi dijadikan ibu kotanya. [4]
B. Raja-raja Mughal
Selama masa pemerintahannya Kerajaan Mughal dipimpin oleh beberapa orang raja. Raja-raja yang sempat memerintah adalah:
1. Zahiruddin Muhammad Babur (1526-1530) adalah : Raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Mughal. Masa kepemimpinannnya digunakan untuk membangun fondasi pemerintahan. Awal kepemimpinannya, Babur masih menghadapi ancaman pihak-pihak musuh, utamanya dari kalangan Hindu yang tidak menyukai berdirinya Kerajaan Mughal. Orang-orang Hindu segera menyusun kekuatan gabungan, namun Babur berhasil mengalahkan mereka dalam suatu pertempuran. Sementara itu dinasti Lodi berusaha bangkit kembali menentang pemerintahan Babur dengan pimpinan Muhammad Lodi. Pada pertempuran di dekat Gogra, Babur dapat menumpas kekuatan Lodi pada tahun 1529[5]. Setahun kemudian yakni pada tahun 1530 Babur meninggal dunia.
2. Humayun (1530-1556), Sepeninggal Babur, tahta Kerajaan Mughal diteruskan oleh anaknya yang bemama Humayun. Humayun memerintah selama lebih dari seperempat abad (1530-1556 M). Pemerintahan Humayun dapat dikatakan sebagai masa konsolidasi kekuatan periode I. Sekalipun Babur berhasil mengamankan Mughal dari serangan musuh, Humayun masih saja menghadapi banyak tantangan. Ia berhasil mengalahkan pemberontakan Bahadur Syah, penguasa Gujarat yang bermaksud melepaskan diri dari Delhi. Pada tahun 1450 Humayun mengalami kekalahan dalam peperangan yang dilancarkan oleh Sher Khan dari Afganistan. Ia melarikan diri ke Persia.[6]
Di pengasingan ia kembali menyusun kekuatan. Pada saat itu Persia dipimpin oleh penguasa Safa¬wiyah yang bernama Tahmasp. Setelah lima belas tahun menyusun kekuatannya dalam pengasingan di Persia, Humayun berhasil menegakkan kembali kekuasaan Mughal di Delhi pada tahun 1555 M. Ia mengalahkan ke¬kuatan Khan Syah. Setahun kemudian, yakni pada tahun 1556 Humayun meninggal. Ia digantikan oleh putranya Akbar
3. Akbar (1556-1605), Pengganti Humayun adalah raja Mughal paling kontroversial. Masa pemerintahannya dikenal sebagai masa kebangkitan dan kejayaan Mughal sebagai sebuah dinasti Islam yang besar di India. Ketika menerima tahta kera¬jaan ini Akbar baru berusia 14 tahun, sehingga seluruh urusan pemerintahan dipercayakan kepada Bairam Khan, seorang penganut Syi’ah. Di awal masa pemerintahannya, Akbar menghadapi pemberontakan sisa-sisa keturunan Sher Khan Shah yang masih ber¬kuasa di Punjab. Pemberontakan yang paling mengancam kekuasaan Akbar adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Himu yang menguasai Gwalior dan Agra. Pasukan pemberontak berusaha memasuki kota Delhi. Bairam Khan menyambut kedatangan pasukan tersebut sehingga terjadilah peperangan dahsyat yang disebut Panipat II pada tahun 1556 M. Himu dapat dikalah¬kan dan ditangkap, kemudian dieksekusi. Dengan demikian, Agra dan Gwalior dapat dikuasai penuh. Setelah Akbar dewasa ia berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh sangat kuat dan terlampau memaksakan kepentingan aliran Syi’ah. Bairam Khan memberontak, tetapi dapat dikalahkan oleh Akbar di Jullandur  tahun 1561 M. Setelah persoalan-persoalan dalam negeri dapat diatasi, Akbar mulai menyusun program ekspansi. Ia berhasil menguasai Chundar, Ghond, Chitor, Ranthabar, Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, Bengal, Kashmir, Orissa, Deccan, Gawilgarh, Narhala, Ahmadnagar, dan Asirgah. Wilayah yang sangat luas itu diperintah dalam suatu pemerintahan militeristik.[7]
Keberhasilan ekspansi militer Akbar menandai berdirinya Mughal sebagai sebuah kerajaan besar. Dua gerbang India yakni kota Kabul sebagai gerbang ke arah Turkistan, dan kota Kandahar sebagai gerbang ke arah Persia, dikuasai oleh pemerintahan Mughal. Menurut Abu Su’ud, dengan keberhasilan ini Akbar bermaksud ingin mendirikan Negara bangsa (nasional). Maka kebijakan yang dijalankannya tidak begitu menonjolkan spirit Islam, tetapi bagaimana mempersatukan berbagai etnis yang membangun dinastinya. Keberhasilan Akbar mengawali masa kemajuan Mughal di India.
4. Jahangir (1605-1627), putera Akbar. Jahangir penganut ahlussunnah wal jamaah. Pemerintahan Jahangir juga diwarnai dengan pemberontakan, seperti pemberontakan di Ambar yang tidak mampu dipadamkan. Pemberontakan juga muncul dari dalam istana yang dipimpin oleh Kurram, puteranya sendiri. Dengan bantuan panglima Muhabbat Khar, Kurram menangkap dan menyekap Jahangir. Tetapi berkat usaha permaisuri, permusuhan ayah dan anak dapat didamaikan. Akhirnya setelah Jahangir meninggal, Kurram naik tahta dan bergelar Muzaffar Shahabuddin Muhammad Shah Jehan Padshah Ghazi. [8]
5. Syah Jihan (1628¬-1658) tampil meggantikan Jihangir. Shah Jehan (1627-1658 M), pemerintahannya diwarnai dengan timbulnya pemberontakan dan perselisihan di kalangan keluarganya sendiri. Seperti dari ibunya, adiknya Syahriar yang mengukuhkan dirinya sebagai kaisar di Lahore. Namun pemberontakan itu dapat diselesaikannya dengan baik. Pada tahun 1657 M, Shah Jehan jatuh sakit dan mulai timbullah perlombaan dikalangan anak-anaknya, karena saling ingin menjadi kaisar. Dalam pertarungan itu, Aurangzeb muncul sebagai pemenang karena telah berhasil mengalahkan saudara-saudaranya Dara, Sujak, Murad. [9]
6. Aurangzeb adalah sultan Mughal besar terakhir yang memerintah mulai tahun 1658-1707 M. Dia bergelar Alamgir Padshah Ghazi. Dia adalah penguasa yang berani dan bijak. Kebesarannya sejajar dengan Akbar, pendahulunya. Di akhir pemerintahannya dia berhasil menguasai Deccan, Bangla dan Aud. Sistem yang dijalankan Aurangzeb banyak berbeda dengan pendahulunya. Kebijakan-kebijakan yang telah dirintis oleh raja-raja sebelumnya banyak diubah, khususnya yang menyangkut hubungan dengan orang Hindu. Aurangzeb adalah penguasa Mughal yang membalik kebijakan konsiliasi dengan Hindu. Diantara kebijakannya adalah melarang minuman keras, perjudian, prostitusi dan penggunaan narkotika ( 1659 M). Tahun 1664 dia juga mengeluarkan dekrit yang isinya tidak boleh memaksa wanita untuk satidaho, yaitu pembakaran diri seorang janda yang ditinggal mati suaminya, tanpa kemauan yang bersangkutan. Akhirnya praktek ini dihapus secara resmi pada masa penjajahan Inggis. Aurangzeb juga melarang pertunjukan musik di istana, membebani non muslim dengan poll-tax, yaitu pajak untuk mendapatkan hak memilih ( 1668 M), menyuruh perusakan kuil-kuil Hindu dan mensponsori pengkodifikasian hukum Islam yang dikenal dengan Fatawa Alamgiri. Tindakan Aurangzeb di atas menyulut kemarahan orang-orang Hindu. Hal inilah yang akhirnya menimbulkan pemberontakan di masanya. Namun karena Aurangzeb sangat kuat, pemberontakan itu pun dapat dipadamkan. Meskipun pemberontakan–pemberontakan tersebut dapat dipadamkan, tetapi tidak sepenuhnya tuntas. Hal ini terbukti ketika Aurangzeb meninggal (1707 M), banyak wilayah-wilayah memisahkan diri dari Mughal dan terjadi pemberontakan oleh golongan Hindu. Setelah Aurangzeb meninggal ( 1707 M), maka dinasti Mughal ini dipimpin oleh sultan-sultan yang lemah yang tidak dapat mempertahankan eksistensi kesultanan Mughal. Adapun penguasa-penguasa Mughal sesudah Aurangzeb antara lain : Bahadur Syah I( 1707-1712 M), Jihandar Syah ( 1712-1713 M), Farruk Siyar (1713-1719 M), Muhammad Syah ( 1719-1748 M), Ahmad Syah (1748-1754 M), Alamgir II (1754-1759 M), Syah Alam (1759-1806 M), Akbar II ( 1806-1837 M), Bahadur Syah II ( 1837-1858 M). [10]
C. Kemajuan Yang Dicapai Pada Masa Dinasti Mughal[11]
1. Bidang Pemerintahan dan Sosial- Politik
Sistem pemerintahan Dinasti Mughal adalah militeristik. Pemerintah pusat dipegang oleh sultan yang bersifat diktator. Pemerintah daerah dipegang oleh sipah salar atau kepala komandan, sedangkan sub distrik dipegang oleh faudjar (komandan). Jabatan-jabatan sipil juga memakai jenjang militer dimana para pejabatnya diwajibkan mengikuti latihan militer.
Sistem yang menonjol adalah politik “Sulakhul” atau toleransi universal. yang diterapkan oleh Akbar. Dengan politik ini semua rakyat India dipandang sama. Mereka tidak dibedakan Karena perbedaan etnis dan agama. Secara umum politik “Sulakhul” ini berhasil menciptakan kerukunan masyarakat India yang sangat beragam suku dan keyakinannya. Lembaga yang merupakan produk dari sistem politik “Sulakhul” adalah terciptanya Din Ilahi, yaitu menjadikan semua agama yang ada di India menjadi satu. Tujuannya adalah kepentingan stabilitas politik. Dengan adanya penyatuan agama ini diharapkan tidak terjadi permusuhan antar pemeluk agama. Untuk merealisasikan ajarannya Akbar mengawini putri Hindu sebanyak dua kali, berkhutbah dengan menggunakan simbol Hindu, melarang menulis dengan huruf Arab, tidak mewajibkan khitan dan melarang menyembelih atau memakan daging sapi. Usaha lain Akbar adalah membentuk mansabdharis, yaitu lembaga public service yang berkewajiban menyiapkan segala urusan kerajaan, seperti menyiapkan sejumlah pasukan tertentu. Lembaga ini merupakan satu kelas penguasa yang terdiri dari berbagai etnis yang ada, yaitu Turki, Afghan, Persia Dan Hindu.
2. Bidang Ekonomi dan Keuangan
Tidak ada suatu kemajuan pun yang bisa dicapai oleh suatu pemerintahan, tanpa ditopang dengan ekonomi serta keuangan yang kuat. Karena itulah, para sultan Mughal sangat memperhatikan hal tersebut. Untuk itu, maka dikenakan pajak atas tanah, bea cukai dan lain-lain.
Selain itu Kontribusi Mughal di bidang ekonomi adalah memajukan pertanian terutama pertanian untuk tanaman padi, kacang, tebu, rempah-rempah, tembakau dan kapas. Pemerintah membentuk lembaga khusus untuk mengatur masalah pertanian. Wilayah terkecil disebut deh, dan beberapa deh tergabung dalam Pargana (Kawedanan). Setiap komunitas petani dipimpin oleh Mukaddam. Melalui Mukaddam inilah pemerintah berhubungan dengan petani.
 Di samping pertanian, pemerintah juga memajukan industri tenun, yang mana kerajinan tenun berkembang menjadi pabrik tekstil pada masa Aurangzeb. Hasil industri ini banyak di ekspor ke luar negeri seperti Eropa, Arab, Asia Tenggara dan lain-lain. Rempah-rempah, opium, gula, bubuk sodium, wool, parfum dan lain-lain juga merupakan barang-barang produksi Mughal yang menjadi komoditi ekspor dan menambah sumber keuangan Mughal. Pada masa Jahangir, banyak investor asing yang diizinkan menanamkan investasinya, seperti mengizinkan Inggris dan Belanda mendirikan pabrik pengolahan hasil pertanian di Surat. 
3. Bidang Intelektual ( Pendidikan dan Pengetahuan)
Dinasti Mughal juga banyak memberikan sumbangan di bidang ilmu pengetahuan. Sejak berdiri dinasti ini banyak ilmuwan yang datang ke India untuk menuntut ilmu pengetahuan, bahkan istana Mughal pun menjadi pusat kegiatan kebudayaan. Hal ini karena adanya dukungan dari penguasa dan bangsawan serta ulama. Aurangeb misalnya, memberikan sejumlah besar uang dan tanah untuk membangun pusat pendidikan di Lucknow, Akbar juga menghibahkan sekolah dan perpustakaan .
          Pada masa Mughal, tiap-tiap masjid memiliki lembaga tingkat dasar yang dikelola oleh seorang guru. Pada masa Shah Jehan didirikan sebuah perguruan tinggi di Delhi. Jumlah ini semakin bertambah ketika pemerintahan dipegang oleh Aurangzeb. Di bidang ilmu agama berhasil dikodifikasikan hukum Islam yang dikenal dengan sebutan fatawa I Alamgiri. 
Selain hal di atas, banyak juga dibangun sekolah-sekolah atau madrasah pada masa ini, disertai dengan corak sekolah yang berbeda, baik dikarenakan perbedaan mazhab maupun disebabkan kekhususan ilmu, Seperti madrasah Rahimiyah di Deobond dengan mata kuliah pokok tafsir, hadis dan fiqih. Selain itu dibangun juga perpustakaan, seperti di Agra yang pada tahun 1641 telah memiliki 24.000 buku. Akibat dari banyaknya sekolah yang dibangun, maka banyak lahir para ahli intelektual, atau pengarang-pengarang seperti dalam bidang politik, filsafat, hadis, qur’an, tasawuf, at-thib ( ilmu kedokteran ), ilmu pasti, ilmu peperangan, ilmu teknik. 
Dokter-dokter pengarang besar abad 17 pada masa Mughal India adalah Dara Shukuh yang mengarang kedokteran Dara Shukuh, yang merupakan ensiklopedi medis besar terakhir dalam Islam. Ia juga dikenal sebagai seorang sufi.
Ilmu medis Islam terus berkembang di India sepanjang abad 12 H/ 18 M, seperti skala kedokteran yang dibuat oleh Muhammad Akbar Syah Arzani dari Shiraz. Dengan kehadirannya ilmu medis India/ Islam yang merupakan ilmu medis yang berbentuk filosofi medis ( memakai pendekatan kepada Allah) hidup bersaing dengan ilmu medis modern Eropa.
Di samping banyak madrasah dan ulama lahir pula Mausu’at dan Majmu’at ( Buku kumpulan berbagai ilmu dan masalah, seperti ensiklopedi).
4.      Bidang Arsitektur, Bahasa dan Sastra
Hasil karya seni dan arsitektur Mughal sangat terkenal dan bisa dinikmati sampai sekarang. Ciri yang menonjol dari arsitektur Mughal adalah pemakaian ukiran dan marmer yang timbul dengan kombinasi warna-warni. Bangunan yang menunjukkan ciri ini antara lain: benteng merah (Lah Qellah), istana-istana, makam kerajaan dan yang paling mengagumkan adalah Taj Mahal di Agra. Istana ini merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang dibangun oleh Shah Jehan khusus untuk istrinya Momtaj Mahal yang cantik jelita. Bangunan lain yang bermotif sama adalah Masjid Raya Delhi yang berlapis marmer, sebuah istana di Lahore, istana Fatpur Sikri di Sikri, masjid Moti “ masjid Mutiara” di Agra, yang seluruhnya terbuat dari marmer dan dipahatkan Al-qur’an didalamnya dengan mempergunakan marmer hitam. 
Bidang sastra juga menonjol. Banyak karya sastra yang digubah dari bahasa Persia ke bahasa India. Pada masa Akbar berkembang bahasa Urdu, yang merupakan perpaduan antara bahasa Persia dan Hindi asli. Bahasa Urdu pernah dijadikan bahasa ilmu pengetahuan diantaranya karangan Ikhwanus Shofa di salin ke dalam bahasa Urdu oleh Ikrom Ali. Bahasa Urdu ini kemudian banyak dipakai di India dan Pakistan sekarang. Sastrawan Mughal yang terkenal adalah Malik Muhammad Jayashi, dengan karya monimentalnya Padmavat, sebuah karya alegoris yang mengandung kebajikan jiwa manusia. Sastrawan lain adalah Abu Fadhl yang juga sejarawan. Karyanya berjudul Akbar Nama dan Ain-I-Akhbari, yang mengupas sejarah Mughal berdasarkan figur pimpinannya. 
D. Kemunduran Dinasti Mughal Di India
Ada bebrapa faktor juga yang menyebabkan kekuasaan dinasti mughal mundur pada satu setengah abad terakhir dan membawa kepada kehancuran pada tahun 1858 M, yaitu : [12]
1. Kemerosotan moral dan hidup mewah dikalangan elit politik , yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara
2. Pendekatan Aurangzeb yang terlampau ”kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan sesudahnya.
3. Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan
4. terjadi stagnasi dalam pembinaan militer sehingga oprasi militer inggris di wilayah-milayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritimMughal.
5.Seringnya terjadi perebiyan kekuasaan di kalangan elite politik.




















KESIMPULAN


1. Awal berdirinya kerajaan Mughal seperempat abad sesudah berdirinya kerajaan Safawi. Jadi, di antara tiga kerajaan besar Islam tersebut, kerajaan inilah yang termuda. Kerajaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di anak benua India.
2. Adapun urutan-urutan penguasa kerajaan Mughal dari awal sampai akhir sebagai berikut:
  1. Zahiruddin Babur (1482-1530 M)
  2. Humayun (1530-1539 M)
  3. Akbar Syah I (1556-1605 M)
  4. Jehangir (1605-1628 M)
  5. Syah Jehan (1628-1658 M)
  6. Aurangzeb (Alamgir I) (1658-1707 M)
  7. Muazzam (Bahadur Syah I) (1707-1712 M)
  8. Azimus Syah (1712 M)
  9. Jihandar Syah (1712 M)
  10. Farukh Siyar (1713-1719 M)
  11. Muhammad Syah (1719-1748 M)
  12. Ahmad Syah (1748-1754 M)
  13. Alamghir II (1754-1759 M)
  14. Syah Alam II (1759-1806 M)
  15. Akbar II (1806-1837 M)
  16. Bahadur Syah II (1837-1858 M)
3.Kemajuan Yang Dicapai Pada Masa Dinasti Mughal
1. Bidang Pemerintahan dan Sosial- Politik
 2. Bidang Ekonomi dan Keuangan
3. Bidang Intelektual ( Pendidikan dan Pengetahuan)
4. Bidang Arsitektur, Bahasa dan Sastra


4. Kemunduran Dinasti Mughal Di India
1. Kemerosotan moral dan hidup mewah dikalangan elit politik , yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang Negara.
2. Pendekatan Aurangzeb yang terlampau ”kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan sesudahnya.
3. Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.
4. terjadi stagnasi dalam pembinaan militer sehingga oprasi militer inggris di wilayah-milayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritimMughal.
5. Seringnya terjadi perebiyan kekuasaan di kalangan elite politik.
























DAFTAR PUSTAKA

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam,(Jakarta:PT Raja Grafindo Persada), 2008
Choirul Rofiq, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta:  STAIN Ponorogo Press), 2009






[1]http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.sscnet.ucla.edu/southasia/History/Mughals/mughals.html
[2] http://gulu-adi.blogspot.com/2011/06/dinasti-mughal.html
[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam,(Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2008), 147
[4] ibid.
[5] Ibid.148
[6] Ibid.
[7] Ibid. 149
[8] Choirul Rofiq, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta:  STAIN Ponorogo Press,2009)243
[9] http://gulu-adi.blogspot.com/2011/06/dinasti-mughal.html
[10] Ibid.
[11] Ibid.
[12] Choirul Rofiq, Sejarah Peradaban Islam,246