Thursday, 23 May 2013

QASHSHASHIL QUR’AN



PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Setiap umat beragama mempunyai kitab pegangan masing-masing. Sama halnya dengan kita sebagai umat Islam yang mempunyai pegangan yaitu Al-Qur’an. Al-Qur’an yang dijadikan sebagai pedoman, petunjuk bagi manusia agar mereka terbimbing dengan petunjuk-Nya ke jalan yang benar.
Semua peristiwa yang terjadi di dunia ini semuanya terdapat dalam Al-Qur’an. Dengan diungkapkan berbagai kisah yang dilalui oleh umat-umat di zaman lampau serta akibat yang timbul dari perbuatan atau keingkaran mereka. Maka kita yang hidup kemudian dapat mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa tersebut. Dan dapat mendidik umat tentang bagaimana cara hidup sebagai khalifah yang diserahi amanah memakmurkan dan membangun kehidupan yang layak bagi umat manusia di muka bumi ini sehingga dapat menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela dan melaksanakan hal-hal yang terpuji agar apa yang dialami oleh umat yang lalu itu tidak terulang lagi di masa kini. Dengan demikian eksistensi kisah dalam Al-Qur’an mempunyai kaitan yang sangat erat dengan hajat hidup umat manusia di muka bumi ini.
Berangkat dari permasalahan itulah makalah ini mencoba memberi sedikit penerangan tentang qochochil Al-Qur’an atau kisah-kisah dalam Al-Qur’an.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari qashashil Al-Qur’an?
2.      Sebutkan macam-macam kisah dalam Al-Qur’an!
3.      Apa tujuan dari qashashil Al-Qur’an?
4.      Apa hubungan kisah dengan hajat hidup manusia?
5.      Apa kandungan dari qashahsil Qur’an?
6.      Apa faedah qashashil Qur’an?
7.      Apa hikmah pengulangan kisah?

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Qashshashil Qur’an
Secara bahasa artinya mengikuti jejak.[1] Al-qashu: mengikuti jejak. Dikatakan: kisah jejaknya, maksudnya mengikutinya (jejaknya). Kata qashash termasuk isim masdar. Allah berfirman (lalu keduanya mengikuti kembali jejak mereka sendiri) maksudnya: keduanya kembali mengikuti jejak yang datang dengannya, dan dikatakan dari lisannya ibunya Musa (dan berkatalah ibu Musa kepada saudari Musa: “ikutilah dia”) maksudnya: aku mengikuti jejaknya sehingga aku melihat siapa yang mengambilnya. Dan kisah-kisah seperti itu: berita mengikuti. Allah berfirman (sesungguhnya ini adalah cerita yang benar).[2]

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa qashshashil Qur’an ialah kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang menceritakan ihwal umat-umat dahulu dan nabi-nabi mereka serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang.[3] Jadi dapat dikatakan bahwa kisah-kisah yang dimuat dalam Al-Qur’an semuanya cerita yang benar-benar terjadi, tidak ada cerita fiksi, hayal, apalagi dongeng.[4]

B.     Macam-macam Qashshashul Qur’an[5]
1.      Ditinjau dari Segi Waktu
a.       Kisah hal-hal ghaib pada masa lalu (al-qashashul ghuyubi al-madhiyah)
Yaitu kisah yang menceritakan kejadian-kejadian ghaib yang sudah tidak bisa ditangkap panca indera yang terjadinya di masa lampau.
Contohnya seperti kisah-kisah Nabi Nuh, Nabi Musa dan kisah Maryam.
b.      Kisah hal-hal ghaib pada masa kini (al-qishashul ghuyub al-hadhirah)
Yaitu kisah yang menerangkan hal-hal ghaib pada masa sekarang (meski sudah ada sejak dulu dan masih akan tetap ada sampai masa yang akan datang) dan menyingkap rahasia orang-orang munafik.
Contohnya seperti kisah yang menerangkan tentang Allah SWT dengan segala sifat-sifat-Nya, para malaikat, jin, setan dan siksaan neraka, kenikmatan surga dan sebagainya.
c.       Kisah halhal ghaib pada masa yang akan datang (al-qashashul ghuyub al-mustaqbilah)
Yaitu kisah-kisah yang menceritakan peristiwa-peristiwa yang akan datang yang belum terjadi pada waktu turunnya Al-Qur’an, kemudian peristiwa tersebut betul-betul terjadi. Karena itu, pada masa sekarang ini berarti peristiwa yang dikisahkan itu telah terjadi.
Contohnya seperti kemenangan bangsa Romawi atas Persia, yang diterangkan ayat 1-4 surat Ar-Rum.
2.      Ditinjau dari Segi Materi
a.       Kisah tentang nabi dan Rasul dan yang berhubungan dengan orang-orang mukmin dan kafir.
b.      Kisah orang-orang atau kelompok-kelompok yang berhubungan dengan pelajaran dari Allah. Contohnya seperti kisah Luqmanul Hakim, Qorun, Thalut, dll.
c.       Kisah peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian di zaman Rosulullah SAW. Contohnya seperti kisah perang Badar, perang uhud, Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. [6]

C.    Tujuan Qashashul Qur’an
Dalam garis besarnya tujuan pengungkapan kisah dalam Al-Qur’an ada dua macam yaitu tujuan pokok (عَرْضٌ اَسَاسِىٌ) dan tujuan sekunder (عَرْضٌ فِرْعِيٌّ).
Menurut Al-Buthi, yang dimaksud dengan tujuan manusia yakni “merealisir tujuan umum yang dibawa oleh Al-Qur’an kepada manusia”, yakni menyeru, menunjuki mereka ke jalan yang benar agar mereka mendapat keselamatan di dunia dan akhirat, sedangkan yang dimaksud dengan tujuan sekunder ialah:
1.      Untuk menetapkan bahwa Nabi Muhammad benar-benar menerima wahyu dari Allah bukan berasal dari orang-orang ahli kitab seperti Yahudi dan Nasrani.
2.      Untuk pelajaran bagi umat manusia. Hal ini tampak dalam dua aspek, pertama menjelaskan besarnya kekuasaan Allah dan kekuatannya, serta memperlihatkan bermacam azab dan siksaan yang pernah ditimpakan kepada umat-umat yang telah lalu akibat kesombongan, keangkuhan dan pembangkangan mereka terhadap yang kebenaran.
Aspek kedua ialah menggambarkan kepada kita bahwa misi agama yang dibawa oleh para nabi sejak dulu sampai sekarang ialah sama, yakni mentauhidkan Allah, dan didaerah manapun merejka bangkit, namun kaidah yang disampaikannya tidak berbeda satu sama lain dan tidak pula berubah sedikitpun.
3.      Membuat jiwa Rosul Allah tentram dan tegar dalam berdakwah
4.      Mengkritik para ahli kitab terhadap keterangan-keterangan yang mereka sembunyikan tentang kebenaran Nabi Muhammad dengan mengubah isi kitab mereka
Meskipun hanya disebutkan empat poin tentang tujuan diungkapkannya kisah dalam Al-Qur’an, namun cukup menjadi bukti bagi kita bahwa semua kisah dalam Al-Qur’an bertujuan untuk mendukung tujuan agama secara umum, memberikan bimbingan dan pendidikan kepada umat agar mereka tidak tersesat dalam menjalani hidup dan kehidupan di muka bumi ini. [7]

D.    Hubungan Kisah dengan Hajat Hidup Manusia
Kisah dalam Al-Qur’an mempunyai multifungsi, selain berisi pelajaran yang amat berharga, juga berfungsi mengokohkan akidah tauhid, dan sekaligus menentramkan jiwa, bahkan dapat pula kisah itu berfungsi sebagai penghibur jiwa dan pelipur lara, terutama bila berhadapan dengan tantangan yang keras dari umat dan penolakan mereka. Peristiwa yang sangat mengecewakan serupa itu tak usah menjadikan kita bersedih hati apalagi berputus asa sebab nabi-nabi di masa silam juga menghadapi hal serupa, bahkan lebih sadis dan lebih brutal. Jadi dengan adanya kisah para Nabi itu maka kita terasa terhibur, karena bila dibandingkan dengan apa yang dihadapi para nabi di masa silam itu, maka yang kita hadapi masih jauh lebih ringan. Dengan demikian jelaslah bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur’an betul-betul bertalian dengan kebutuhan hidup umat manusia di dunia ini. Selain itu jika kisah yang dikarang oleh manusia lebih banyak menunjukkan segi hiburan daripada pelajaran, maka akisah-kisah dalam Al-Qur’an sebaliknya, yakni lebih mengutamakan pelajaran, pendidikan dan dakwah daripada tujuan-tujuan lain.[8]

E.     Kandungan Qashashil Qur’an
Kisah-kisah dalam Al-Qur’an diungkapkan dalam rangka mendidik umat tentang bagaimana cara hidup sebagai khalifah yang diserahi amanah memakmurkan dan membangun kehidupan yang layak bagi umat manusia di muka bumi ini. Dari itu kisah-kisah tersebut berisi materi antara lain: tauhid, akhlak dan mua’amalah. Ketiga unsur ini sangat penting dalam kehidupan umat.
Contohnya tertera dalam ayat 85 dari surat Al-A’raf :
4n<Î)ur šútïôtB öNèd%s{r& $Y7øŠyèä© 3 tA$s% ÉQöqs)»tƒ (#rßç7ôã$# ©!$# $tB Nà6s9 ô`ÏiB >m»s9Î) ¼çnçŽöxî ( ôs% Nà6ø?uä!$y_ ×poYÉit/ `ÏiB öNà6În/§ ( (#qèù÷rr'sù Ÿ@øx6ø9$# šc#uÏJø9$#ur Ÿwur (#qÝ¡yö7s? }¨$¨Y9$# öNèduä!$uô©r& Ÿwur (#rßÅ¡øÿè? Îû ÇÚöF{$# y÷èt/ $ygÅs»n=ô¹Î) 4 öNà6Ï9ºsŒ ׎öyz öNä3©9 bÎ) OçFZà2 šúüÏZÏB÷sB ÇÑÎÈ (الأعراف : 85)
Dan (Kami Telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu'aib. ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman".

Jelas terlihat dalam kisah itu ketiga unsur tadi (akidah, ibadah, muamalah). Selain itu juga terlihat unsur dakwahnya. Para nabi senantiasa menyeru umat mereka ke jalan yang benar tanpa bosan dan tanpa gentar sedikitpun terhadap berbagai ancaman atau sikaan yang menimpa mereka.[9]

F.      Faedah Qashashil Qur’an
  1. Menjelaskan prinsip dakwah kepada agama Allah dan keterangan pokok-pokok syariat yang dibawa oleh masing-masing Nabi/Rosul.

  1. Memantabkan hati Rosulullah dan umatnya serta memperkuat keyakinan kaum mukmin terhadap kemenangan yang benar dan kehancuran yang fatal.

  1. Memperlihatkan para Nabi dahulu dan kitab-kitab sucinya, serta mengabadikan nama baik dan jasa-jasanya.

  1. Untuk memperlihatkan kebenaran Rosulullah SAW dari dalam dakwah dan pemberitaannya mengenai umat-umat terdahulu ataupun keterangan beliau yang lain-lain.
  2. Mengoreksi pendapat para ahli kitab yang suka menyembunyikan keterangan and petunjuk-petunjuk kitab sucinya dan membantahnya dengan argumentasi-argumentasi yang terdapat pada kitab-kitab sucinya sebelum diubah dan diganti oleh mereka sendiri.

  1. Kisah-kisah itu merupakan salah satu dari bentuk peradaban lebih meresapkan pendengaran dan memantabkan keyakinan dalam jiwa para pendengarnya.[10]

  1. Menanamkan pendidikan akhlakul karimah dan mempraktikkannya, karena keterangan kisah-kisah yang baik itu dapat meresap dalam hati nurani dengan mudah dan baik, serta mendidik untuk meneladani yang baik dan menghindari yang jelek.[11]

G.    Hikmah Pengulangan Kisah
Hikmah diulangnya sebagian kisah Al-Qur’an itu sebagai berikut:
1.      Menjelaskan ketinggian mutu sastra balaghah Al-Qur’an
2.      Membuktikan ketinggian mukjizat Al-Qur’an
3.      Untuk lebih memperhatikan kepada pentingnya kisah-kisah Al-Qur’an sehingga perlu disebutkan berulang-ulang sampai beberapa kali agar dapat lebih meresap dalam jiwa
4.      Menunjukkan perbedaan tujuan dari tiap-tiap kali pengulangan penyebutan kisah Al-Qur’an itu sehingga menunjukkan banyaknya tujuan penyebutan kisah sebanyak pengulangannya[12]

KESIMPULAN

1.      Qashshashil secara bahasa adalah mengikuti jejak, sedangkan secara istilah yaitu kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang menceritakan ihwal umat-umat dahulu dan nabi-nabi mereka serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang
2.      Macam-macam qashshasil Qur’an ditinjau dari segi waktu yatu kisah hal-hal ghaib pada masa lalu (al-qashshashul ghuyubal madiyah), kisah hal-hal gaib pada masa kini (al-qashshsashul ghuyub al-hadirah), dan kisah hal-hal gaib masa yang akan datang (al-qashshashul ghuyub al-mustaqbilah) sedangkan ditinjau dari segi materi yaitu kisah para nabi, mukjizat, pengikut serta penentang mereka, kisah orang-orang yang belum tentu nabi dan kelompok manusia-manusia tertentu, kisah peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian di jaman Rosulullah.
3.      Tujuan qashshashil Qur’an, yaitu :
a.       Untuk menetapkan bahwa Muhammad benar-benar menerima wahyu dari Allah bukan berasal dari orang-orang Yahudi atau Nasrani
b.      Untuk pelajaran bagi umat manusia
c.       Membuat jiwa Rosulullah tentram dan tenang dalam berdakwah
d.      Mengkritik ahli-ahli kitab terhadap keterangan-keterangan yang mereka sembunyikan tentang kebenaran Nabi Muhammad dengan mengubah isi kitab mereka
4.      Hubungan kisah dalam hajat hidup manusia yaitu membuat kita terhibur, kisah berisi pelajaran yang amat berharga, mengokohkan akidah tauhid menentramkan jiwa maupun dapat dijadikan sebagai penghibur lara
5.      Kandungan qashshashil Qur’an yaitu berisi tauhid, akhlak dan muamalah
6.      Faedah qashashil Qur’an: menjelaskan prinsip dakwah agama Allah, memantapkan hati Rosulullah dan umatnya, memperlihatkan para nabi dahulu dan kitab-kitab sucinya, untuk memperlihatkan kebenaran Rosulullah, mengoreksi pendapat para ahli kitab, meresapkan pendengaran dan memantapkan keyakinan dalam jiwa pendengarnya, menanamkan pendidikan ahlakul karimah.
7.      Hikmah pengulangan kisah: menjelaskan ketinggian mutu sastra balaghah Al-Qur’an, membuktikan ketinggian mu’jizat Al-Qur’an, lebih memperlihatkan pentingnya kisah-kisah Al-Qur’an, menunjukkan perbedaan tujuan dari tiap-tiap kali pengulangan penyebutan kisah Al-Qur’an.

DAFTAR PUSTAKA

Baidan, Nasruddin. Wawasan Baru Ilmu Tafsir. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2005.

Djalal Abdul. Ulumul Qur’an. Surabaya: Dunia Ilmu. 1990.

Manaul Qatar. Fi ‘Ulumi Qur’an. Huququl Bat’i Mahfudhoh.

Muhammad Sholeh. Ushul Fi Tafsir. Ashraf Ala Tahqihi.




[1] Mahmud Sholeh. Ushul fi tafsir. 50
[2] Manna al Qatthan.Mabahits fi Ulumul Qur’an. 307
[3] Abdul djalal. Ulumul Qur’an.( Surabaya:Dunia Ilmu,1990) 294
[4] Nasruddin Baidan,Wawasan Baru Ilmu Tafsir, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005) 224
[5] Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, 296
[6] Mahmud Sholeh. Ushul fi tafsir.50
[7] Nasruddin Baidan, Wawasan Ilmu Tafsir. 230
[8] Ibid, 238
[9] Nasruddin Baidan, Wawasan Ilmu Tafsir.240
[10] Manna Al Qattan. Mabahits fi Ulumul Qur’an. 307
[11] Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, 303
[12] Ibid, 303