Tuesday, 28 May 2013

KONSEP MPAI DALAM KONTEKS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


Pendahuluan

Latar Belakang
Sebagai suatu umat yang dianugerahkan tuhan suatu kitab suci Al-Qur’an, yang lengkap dengan segala petunjuk yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan bersifat universal, sudah barang tentu dasar pendidikan mereka adalah bersumber kepada filsafat hidup yang berdasarkan kepada Al-Qur’an.
Nabi Muhammad SAW sebagai pendidik pertama, pada masa awal pertumbuhan islam telah menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar pendidikan islam dismping sunnah beliau sendiri.
Kedudukan Al-Qur’an sebagai sumber pokok pendidikan islam dapat di pahami dari ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri.


Rumusan Masalah
                 
1.      Apa itu Al-Tarbiyah bi al-Hiwar al-Qur’ani wa al-Nabawi
2.      Apa itu Al-Tarbiyah bi al-Qashas al-Qur’ani wa al-Nabawi



















Pembahasan

1.     Al-Tarbiyah bi al-Hiwar al-Qur’ani wa al-Nabawi
Hiwar (dialog) merupakan percakapan silih berganti antara dua belah pihak atau lebih melalui Tanya jawab mengenai suatu Tanya jawab mengenai suatu topic mengarah kepada suatu tujuan. Hiwar mempunyai dampak yang sangat dalam terhadap jiwa pendengar atau pembaca yang mengikuti topic percakapan secara seksama dan penuh perhatian. Hal ini di sebabkan oleh beberapa hal:
v  Permasalahanya disajikan secara dinamis, karena kedua belah pihak langsung terlibat dalam pembicaraanya secara timbal balik, sehingga tidak membosankan.
v  Pendengar tetarik untuk terus mengikuti jalanya percakapan itu dengan maksud dapat mengetahui kesimpulanya.
v  dapat membangkitkan perasaan dan menimbulkan kesan dalam jiwa, yang membantu mengarahkan seseorang menemukan sendiri kesimpulanya.
v  Bila hiwar dilakukan dengan baik, memenuhi akhlak tuntunan islam, maka cara berdialog, sikap orang yang terlibat, itu akan mempengaruhi peserta sehingga pengaruh berupa pendidikan akhlak, sikap dalam berbicara, menghargai pendapat orang lain dst.
menurut Al-Nahlawi, dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW, terdapat berbagai jenis hiwar, separti:
1.   hiwar khitabi atau ta’abbudi
2.   hiwar hashfi
3.   hiwar qiashashi
4.   hiwar jadali, dan
5.   hiwar nabawi.[1]




Dalam metode ini salah satunya adalah Tanya jawab
1.      Pengertian Tanya Jawab
Metode Tanya Jawab ialah penyampaian pelajaran dengan cara guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawab atau sebaliknya peserta didik di beri kempatan bertanya dan pendidik menjawab pertanyaan.[2] Atau suatu metode dalam pendidikan dimana guru bertanya dan murid menjawab tentang materi yang ingin diperolehnya.
Pengertian lain dari metode Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari gurukepada murid atau dapat juga dari murid kepada guru.
Firman Allah yang berkaitan dengan metode ceramah adalah :
!$tBur $uZù=yör& ÆÏB y7Î=ö6s% žwÎ) Zw%y`Í ûÓÇrqœR öNÍköŽs9Î) 4 (#þqè=t«ó¡sù Ÿ@÷dr& ̍ø.Ïe%!$# bÎ) óOçGYä. Ÿw tbqçHs>÷ès? ÇÍÌÈ  
“ Bertanyalah kalian kepada ahlinya jika kalian tidak mengetahui ”.[3]
Dalam ajaran Islam, orang yang berilmu apabila ditanya tentang ilmu pengetahuan ia wajib menjawab sebatas kemampuannya, bila tidak maka Allah mengancamnya dengan siksa  yang amat pedih. Sebagaimana sabda Nabi. Saw
“ Barang siapa yang ditanya tenyang ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka Allah akan mengekangnya dengan kekangan dari api neraka “.
Metode Tanya jawab berbeda dengan evaluasi. Metode Tanya jawab merupakan salah  satu teknik penyampaian materi, sedangkan evaluasi adalah alat ukur untuk mengukur hasil belajar siswa


2.      Kelebihan dan Kekurangan Metode Tanya Jawab
Metode Tanya Jawab memiliki kelebihan dan kekurangan antara lain :
a.       Kelebihan
1.      Situasi kelas akan hidup karena anak-anak aktif berfikir dan menyampaikan buah fikirannya dengan berbicara atau menjawab pertanyaan.
2.      Melatih anak agar berani mengungkapkan pendapatnya dengan lisan secara teratur.
3.      Timbulnya perbedaan pendapat di antara anak didik akan menghangatkan proses diskusi di kelas.
4.      Mendorong murid lebih aktif dan besungguh-sungguh, dalam arti murid biasanya segan mencurahkan perhatian maka maka dengan diskusi ia akan lebih berhati-hati dan aktif megikuti pelajaran.
5.      Walau agak lambat, guru dapat mengontrol pemahaman atau pengrtian murid pada masalah yang dibicarakan.
6.      Pertanyaan dapat memusatkan perhatian siswa sekalipun ketika itu siswa sedang ribut, dll. Jadi metode Tanya jawab bisa digunakan dalam berbagai kondisi khususnya dalam situasi dimana konsentrasi murid melemah.
7.      Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan daya fikir, termasuk daya ingatan.
8.      Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapatnya.[4]
b.      Kekurangan
1.      Apabila tejadi perbedaan pendapat dalam diskusi, bisa memakan waktu yang lama untuk menyelesaikannya.
2.      Kemungkinan akan terjadi penyimpangan perhatian anak didik, terurama apabila mendapat jawaban yang menarik perhatiannya.
3.      Tidak dapat secara tepat merangkum bahan-bahan pelajaran.
4.      Siswa merasa takut apabila guru kurang mampu mendorong siswanya untuk berani menciptakan suasana yang santai dan bersahabat.
5.      Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berfikir siswa.
6.      Waktu sering terbuang, terutama apabila siswa tidak dapat menjawab pertanyaan sampai dua atau tiga orang
7.      Dalam jumlah siswa yang banyak tidak mungkin melontarkan pertanyaan kepada setiap siswa.[5]
3.      Syarat-syarat Penggunaan Metode Tanya Jawab
a.       Pertanyaan hendaknya dapat membangkitkan minat dan mendorong inisiatif anak didik sehingga mereka dapat terangsang untuk bekerja sama.
b.      Perumusan pertanyaan harus jelas dan terbatas serta harus ada jawaban.
c.       Pemakaian metode Tanya jawab adalah untuk materi yang sudah disampaikan.
d.      Pertanyaan hendaknya diajukan kepada seluruh siswa di kelas.
4.      Langkah-langkah Penggunaan Metode Tanya Jawab
a.       Menentukan tujuan yang akan dicapai.
b.      Merumuskan pertanyaan yang akan diajukan.
c.       Pertanyaan diajukan kepada siswa secara keseluruhan. Sebelum menunjuk salah satu siswa untuk menjawab.
d.      Membuat ringkasan hasil Tanya jawab, sehingga diperoleh pengetahuan secara sistematis.[6]

2.     Al-Tarbiyah bi al-Qashas al-Qur’ani wa al-Nabawi
Dalam pendidkan islam, kisah mempunyai fungsi edukatif yang tidak dapat diganti dengan bentuk penyampaian lain selain bahasa.  Hal ini disebabkan kisah qurani dan nabawi memiliki beberapa keistimewaan yang membuatnya mempunyai dampak psikologis dan edukatif yang sempurna, rapih dan jauh jangkauanya seiring dengan perjalanan zaman. Disamping  itu kisah edukatif itu melahirkan kehangatan perasaan dan vitalitas serta aktivitas di dalam jiwa, yang selanjutnya memotivasi manusia untuk mengubah perilakunya dan memperbarui tekadnya sesuai dengan tuntutan, pengarahan dan akhir kisah itu, serta pengambilan pelajaran darinya.

Berbagai keistimewaan qisah Qurani dan Nabawi adalah sebagai berikut :
Kisah yang memikat dan menarik perhatian pembaca, tanpa memakan waktu lama. Kisah seperti ini mengundang si pembaca untuk mengikuti peristiwanya, merenungkan maknanya, serta terkesan oleh watak pribadi  pelaku kisah itu.
Kisah quranai mendidik perasaan keimanan dengan cara ;
a.       Membangkitkan berbagai perasaan seperti khauf, rida dan cinta.
b.      Mengarahkan seluruh perasaan sehingga bertumpuk pada suatu puncak, yaitu kesimpulan kisah.
c.       Melibatkan pembaca atau pendengar ke dalam kisah itu sehingga ia terlibat secara emosional.

Tujuan kisah qurani adalah sebagai berikut :
Ø  Mengungkapkan kemantapan wahyu dan risalah. Mewujudkan rasa mantap dalam menerima Qur’an dan keutusan rasul-Nya. Kisah itu menjadi bukti kebenaran wahyu dan kebenaran rasul SAW.
Ø  Menjelaskan bahwa secara keseluruhan, Al-Din itu datangnya dari Allah.
Ø  Menjelaskan bahwa Allah menolong dan mencintai Rasul-Nya, menjelaskan bahwa kaum mukmin adalah umat yang satu dan Allah adalah Rabb mereka.
Ø  Kisah-kisah itu bertujuan menguatkan keimanan kaum muslimin, menghibur mereka dari kesedihan atas musibah yang menimpa.
Ø  Mengingatkan bahwa musuh orange mukmin adalah syetan, menunjukkan permusuhan abadi itu lewat kisah akan tampak lebih hidup dan jelas. [7]

Sebuah ayat yang mengandung nilai paedagogis dalam sejarah digambarkan tuhan sebagai berikut :
ß`øtwU Èà)tR y7øn=tã z`|¡ômr& ÄÈ|Ás)ø9$# !$yJÎ/ !$uZøym÷rr& y7øs9Î) #x»yd tb#uäöà)ø9$# bÎ)ur |MYà2 `ÏB ¾Ï&Î#ö7s% z`ÏJs9 šúüÎ=Ïÿ»tóø9$# ÇÌÈ 
“Kami meceritakan kepadamu kisah yang aling baik degan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu. Dan sesungguhnya kamu sebelum ( aku mewahyukan ) adalah termasuk orang-orang yang lalai.“[8]
 Ayat diatas diperkuat oleh ayat lain yang berbunyi :
ôs)s9 šc%x. Îû öNÎhÅÁ|Ás% ×ouŽö9Ïã Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$# 3 $tB tb%x. $ZVƒÏtn 2uŽtIøÿム`Å6»s9ur t,ƒÏóÁs? Ï%©!$# tû÷üt/ Ïm÷ƒytƒ Ÿ@ÅÁøÿs?ur Èe@à2 &äóÓx« Yèdur ZpuH÷quur 5Qöqs)Ïj9 tbqãZÏB÷sムÇÊÊÊÈ  
“Sesungguhnya di dalam kisah – kisah mereka terdapat ibarat bagi orang – orang yang berakal.“[9]
Misalnya pada permulaan kisah Yusuf as, kepada pembaca disjikan mimpi Yusuf aas disertai dengan janji Allah SWT, melalui lisan bapaknya, Ya’qub as, akan masa depanya yang cerah dan nikmat – nikmat Allah yang akan disempurnaka-Nya kepada keluaraga yang miskin namun tetap mengajak ke jalan Allah SWT.
Berbagai musibah dan kesusahan betubi-tubi menimpa tokoh ini , Yusuf as, maka pembaca terpikat dan mencurahkan perhatiaanya untuk menanti terwujudnya janji Allah SWT dan berakhirnya segala musibah dan penderitaan ini dengan penuh aimo.
Pada bagian kisah selanjutnya ditampilkan saudara-saudara Yusuf as sebagai gambaran orang – orang yang didorong oleh bisikan-bisikan kecmburuan,hasud, dengki, bersekongkol untuk berbuat jahat, didorong hasrat untuk mengikuti jejak-jejak dosa, karena mereka lemah tak berdaya dan tidak mampu mengatasi gejolak rasa cemburu tersebut.
Kemudian tampil pula Ya’qub as sebagai figure orang tua yang mencintai putranya, dirundung kesedihan karena kehilangan putranya yang sebenarnya adalah seorang nabi yang sabar dan tabah.[10]
Kisah lain seperti bagaimana kaum Tsamud mengalami kehancuran akibat dari perbuatan durhaka terhadap khalifahnya dan bagaimana kaum Nabi Nuh yang membangkang terhadap ajakan untuk beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, termasuk terhadap anaknya sendiri, dikarenakan siksaan oleh Allah, dan lain-lain dan itu adalah suatu metoda pengungkapan sejarah hidup orang/umat dikemudian hari untuk di contoh atau ditiru.[11]
Dari contoh diatas dapat dipahami, bahwa metode kisah di dunia pendidikan dikenal ada dua macam : yaitu kisah qur’ani dan kisah nabawi. Namun walupun secara subtansial keabsahan keduanya tidak diragukan. Akan tetapai bukan berarti ia lepas dari kelemahan, karena yang menyampaikan ajaran tersebut dengan metode kisah adalah manusianbiasa yang tidak bisa luput dari sala, oleh karena itu kita bisa melihatnya dari dua sudut; yaitu kelbihan dan kekurangannya.[12]











Penutup
Kesimpulan
a.       Hiwar (dialog) merupakan percakapan silih berganti antara dua belah pihak atau lebih melalui Tanya jawab mengenai suatu Tanya jawab mengenai suatu topic mengarah kepada suatu tujuan.
b.      dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW, terdapat berbagai jenis hiwar, separti:
1.   hiwar khitabi atau ta’abbudi
2.   hiwar hashfi
3.   hiwar qiashashi
4.   hiwar jadali, dan
5.   hiwar nabawi.
c.       Metode Tanya Jawab ialah penyampaian pelajaran dengan cara guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawab atau sebaliknya peserta didik di beri kempatan bertanya dan pendidik menjawab pertanyaan
d.      Dalam pendidkan islam, kisah mempunyai fungsi edukatif yang tidak dapat diganti dengan bentuk penyampaian lain selain bahasa. 
e.       Kisah yang memikat dan menarik perhatian pembaca, tanpa memakan waktu lama. Kisah seperti ini mengundang si pembaca untuk mengikuti peristiwanya, merenungkan maknanya, serta terkesan oleh watak pribadi  pelaku kisah itu.











Daftar Pustaka

Arief Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Ciputat Pers, Jakarta, 2002
Hj.Uhbiyati Nur, Ilmu Pendidikan Islam, Pustaka Mulia, Bandung, 1997
Ramayulis Prof Dr, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2005
Usman M. Basyiruddin, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Ciputat Press, Jakarta, 2005


[1] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, ( Jakarta:Kalam Mulia.2005 ),hal.281-283
[2] M. Basyiruddin Usman , Metodologi Pembelajaran Agama Islam, ( Jakarta:Ciputat Press.2005 ),hal 43
[3] Q.S Al-Nahl Ayat 43
[4] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta : Ciputat Pers.2002 ) hal 142-143
[5] M. Basyiruddin Usman , Metodologi Pembelajaran Agama Islam, ( Jakarta:Ciputat Press.2005 ),hal 44
[6] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta : Ciputat Pers.2002 ) hal 143-144
[7] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, ( Jakarta:Kalam Mulia.2005 ),hal 288-290
[8] Q.S Yusuf Ayat : 3
[9] Q.S Yusuf Ayat : 111
[10] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, ( Jakarta:Kalam Mulia.2005 ),hal 289
[11] Hj.Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, ( Bandung : Pustaka Mulia 1997 ) hal.114
[12] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta : Ciputat Press.2002 ) hal 162