Friday, 24 May 2013

MASUKNYA ISLAM di INDONESIA dan METODE PENYEBARAN ISLAM




PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
 Sejak zaman pra sejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara. Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang, dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India. Sementara itu, pala dan cengkeh yang berasal dari Maluku dipasarkan di Jawa dan Sumatera, untuk kemudian dijual kepada para pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan Jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M sering disinggahi para pedagang asing seperti Lamuri (Aceh), Barus, dan Palembang di Sumatra; Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa.
           Bersamaan dengan itu, datang pula para pedagang yang berasal dari Timur Tengah. Mereka tidak hanya membeli dan menjajakan barang dagangan, tetapi ada juga yang berupaya menyebarkan agama Islam. Dengan demikian, agama Islam telah ada di Indonesia ini bersamaan dengan kehadiran para pedagang Arab tersebut. Meskipun belum tersebar secara intensif ke seluruh wilayah Indonesia.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana alur masuknya agama Islam di Nusantara?
2.      Bagaimana sistem pelajaran dalam proses masuknya Islam?
3.      Bagaimana model dakwah Islamiyah, terutama pada abad pertengahan?


  
PEMBAHASAN

A.    Alur masuknya agama Islam di Nusantara
Sejarah membuktikan bahwa Islam telah masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M/1H, tetapi baru meluas pada abad ke-13 M. Perluasan Islam ditandai adanya kerajaan Islam tertua di Indonesia, seperti Perlak pada tahun 1292 dan Samudra Pasai di Aceh pada tahun 1292. Melalui pusat-pusat perdagangan didaerah pantai samudra utara dan urat nadi perdagangan di Malaka, agama Islam kemudian menyebar ke pulau Jawa dan seterusnya ke Indonesia bagian Timur. Walaupun disana terjadi peperangan, masuknya Islam ke Indonesia dan peralihan dari agama Hindhu ke agama Islam, pada umumnya berlangsung secara damai.[1]
Kedatangan agama Islam di Indonesia umumnya dihubungkan dengan masalah perdagangan dan pelayaran. Hubungan perdagangan dan pelayaran antar bangsa-bangsa yang mendiami Asia, baik bagian barat, bagian timur maupun bagian tenggara, sudah ada sejak abad pertengahan Masehi.[2]
Disisi lain konversi massal masyarakat Nusantara kepada Islam pada masa perdagangan terjadi karena beberapa sebab,[3] yaitu:
1.      Portalitas (siap pakai) sistem keimanan Islam.
2.      Asosoasi Islam dengan kekayaan. Ketika penduduk pribumi Nusantara bertemu dan berinteraksi dengan orang muslim pendatang dipelabuhan, mereka adalah pedagang yang kaya raya. Karena kekayaan dan kekuatan ekonomi, mereka bisa memainkan peranan penting dalam bidang politik dan diplomatik.
3.      Kejayaan militer
4.      Memperkenalkan tulisan
5.      Mengajarkan penghapalan Al-Qur’an
6.      Kepandaian dan penyembuhan
7.      Pengajaran tentang moral.
Disisi lain Mahmud Yunus merinci beberapa faktor yang memungknkan agama Islam tersebar dengan cepat di seluruh Indonesia pada masa permulaan,[4] yaitu sebagai berikut:
1.      Agama Islam tidak sempit dan aturan-aturannya pun tidak memberatkan, bahkan mudah dituruti oleh segala golongan umat manusia, bahkan untuk masuk Islam cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat saja.
2.      Tugas dan kewajiban dalam Islam itu sedikit.
3.      Penyiaran Islam itu dilakukan dengan perkataan yang mudah dipahami umum, dapat dimengerti oleh segala golongan, dari golongan bawah sampai golongan atas.
Adapun mengenai cara pembawa agama Islam ke Indonesia pada masa permulaan, para pengamat sejarah bebbeda pendapat. Ahmad Mansyur Suryanegara menguraikan tiga teori tentang masuknya Islam ke Indonesia yaitu:
1.      Teori Gujarat
·         Teori berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar dari teori ini adalah:
 Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia.

·         Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia  Cambay Timur Tengah Eropa.
·         Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297 yang bercorak khas Gujarat. Selanjutnya ditambahkan tentang asal negara yang mempengaruhi masuknya agama Islam ke Nusantara adalah Gujarat. Dengan alasan bahwa agama Islam disebarkan melalui jalan dagang antara Indonesia-Cambay (Gujarat) –Timur Tengah_Eropa.[5]
 Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard H.M. Vlekke. Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya pada saat timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai. Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernah singgah di Perlak (Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah banyak penduduk yang memeluk Islamdan banyak pedagang Islamdari India yang menyebarkan ajaran Islam.
2.  Teori Mekkah

  Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama yaitu teori Gujarat. Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir).
Dasar teori ini adalah:

Ø  Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat perkampungan Islam(Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan berita Cina
Ø  Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruh mazhab Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. Sedangkan Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.
Ø  Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal dari Mesir.
Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahli yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik. Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yang berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.
3. Teori Persia
Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanya berasal dari Persia (Iran). Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesia seperti:
ü  Peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein cucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran. Di Sumatra Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut. Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.
ü  Kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu Al – Hallaj.
ü  Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tandatanda bunyi Harakat.
ü   Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik.
ü  Adanya perkampungan Leren/Leran di Giri daerah Gresik. Leren adalah nama salah satu Pendukung teori ini yaitu Umar Amir Husen dan P.A. Hussein Jayadiningrat.
Ketiga teori tersebut, pada dasarnya masing-masing memiliki kebenaran dan kelemahannya. Maka itu berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke – 7 dan mengalami perkembangannya pada abad 13. Sebagai pemegang peranan dalam penyebaran Islamadalah bangsa Arab, bangsa Persia dan Gujarat (India).[6]
Selain hal diatas ada juga yang membahas tentang masuknya Islam ke Indonesia ditinjau dari sudut pandang waktu atau tahun kapan hal itu terjadi. Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat,[7] antara lain:
1.      Islam masuk ke Indonesia dari abad ke-7 dengan alasan:
a.       Seminar masuknya Islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan perjalanan Al-Mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan telah ada koloni Arab Muslim di pantai Timur Sumatra.
b.      Dari Harry W. Hazard dalam Atlas of Islam  ic History (1954), diterangkan bahwa kaum Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim yang selalu singgah di Sumatera dalam perjalanan ke China.
c.       Dari Gerini Futher India dan Indo-Malay Archipelago, didalamnyamenjelaskan bahwa kaum muslimin sudah ada dikawasan India, Indonesia, dan Malaya antara tahun 606-699
d.      Prof. Sayed Naguib Al Attas dalam Preliminary Statemate on General Theory of Islamization of Malay-Indonesian Archipelago (1969), didalamnya mengungkapkan bahwa kaum muslimin sudah ada di kepulauan Malaya-Indonesia pada 672.
2.      Islam masuk ke Indinesia pada abad ke-11 dengan alasan:
Satu-satunya sumber ini adalah ditemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya. Pada makam itu terdapat prasati huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082)
3.      Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 dengan alasan:
Abad ke 13 msehi lebih menunjuk pada perkembangan islam bersamaan dgn tumbuhnya kerajaan-kerajaan islam di indonesia. Pendapat ini berdasarkan catatan perjalanan Marco Polo yg menerangkan bahwa ia pernah singgah di Perlah pda tahun 1292 dan berjumpa dgn orang2 yg telah menganut agama Islam.
Adapun dari sisi siapa atau bangsa apa yang pertama kali datang untuk kemudian menyebarkan agama Islam juga terdapat beberapa pendapat dengan alasan yang sedikit berbeda dibanding apa yang dikemukakan diatas, antara lain:
1.      Orang Gujarat India
Pedagang Islam dari Gujarat, menyebarkan Islam dengan bukti-bukti antara lain:
a.       Ukiran batu nisan gaya Gujarat
b.      Adat Istiadat dan budaya India Islam
2.      Orang Persia
Para pedagang Persia menyebarkan Islam dengan beberapa bukti antara lain:
a.       Gelar ‘’Syah’’ bagi raja-raja di Indonesia
b.      Pengaruh aliran Wahdatul Wujud (syekh Siti Jenar)
c.       Pengaruh madzhab Syi’ah (tabut Hasan dan Husen)
3.      Orang Arab
Para pedagang Arab menetap di pantai-pantai kepulauan Indonesia, dengan bukti antara lain:
a.       Menurut al Mas’udi pada tahun 916 telah berjumpa Komunitas arab dai Oman, Hidramaut, Basrah, dan Bahrain untuk menyebarkan Islam di lingkungannya, sekitar Sumatera, Jawa, dan Malaka.
b.      Munculnya nama ‘’Kampung Arab’’ dan tradisi Arab di lingkungan masyarakat, yang banyak mengenalkan islam.
4.      Orang China
Para pedagang dan angkatan laut China (Ma Huan, laksamana Cheng Ho/Dampo awan), mengenalkan Islam di pantai dan pedalaman Jawa dan Sumatera, dengan bukti antara lain:
a.       Gedung batu di Semarang (masjid gaya China)
b.      Beberapa makam China Muslim
c.       Beberapa wali yang dimungkinkan keturunan China
B.     Sistem pelajaran dalam proses penyebaran Islam
Pendidikan Islam di Indonesia pada masa awalnya bersifat informal, yakni melalui interaksi inter-personal yang berlangsung dalam berbagai kesempatan seperti aktivitas perdagangan. Da’wah bil hal atau keteladanan. Pada konteks ini mempunyai pengaruh besar dalam menarik perhatian dan minat seseorang untuk mengkaji atau memeluk ajaran Islam. Dan dari masing-masing daerah mempunyai sistem pembelajaran yang berbeda-beda dalam menyebarkan agama Islam. Misalnya saja menurut Ibnu Batutah mengemukakan bahwa sistem pendidikan yang berlaku di zaman Pasai, yaitu:
1.       Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syari’at ialah fiqih madzhab Syafi’i
2.       Sistem pendidikannya secara informal berupa majlis taklim dan halaqah
3.       Tokoh pemerintahan merangkap sebagai tokoh agama
4.       Biaya pendidikan agama bersumber dari negara

 Selanjutnya, berbeda juga dengan sistem pendidikan di kerajaan perlak yaitu terdapat suatu lembaga pendidikan yang b erupa majlis taklim tinggi, yang dihadiri khusus oleh para murid yang alim dan mendalam ilmunya. Pada majlis taklim ini diajarkan kitab-kitab al-Umm karangan Imam Syafi’i.[8] dan  ketika agama ini kian berkembang, system pendidikan pun mulai berkembang :
a.       System pendidikan langgar
Di tiap-tiap desa yang penduduknya telah menjadi muslim umumnya didirikan langgar atau masjid. Fasilitas tersebut bukan hanya sebagai tempat shalat saja, melainkan juga tempat untuk belajar membaca al-Qur’an dan ilmu-ilmu keagamaan yang bersifat elementer lainnya. Pendidikan di langgar di mulai dari mempelajari abjad huruf Arab (hijaiyah) atau kadang-kadang langsung mengikuti guru dengan menirukan apa yang telah dibaca dari kitab suci al-qur;an.pendidikan di langgar di kelolah oleh seorang petugas yang disebut amil, modil, atau lebai (di sumatera) yang mempunyai tugas ganda, disamping memberikan do’a pada waktu upacara keluarga atau desa, juga berfungsi sebagai guru. Pelajaran biasanya diberikan pada tiap pagi atau petang hari, satu sampai dua jam. Pelajaran memakan waktu selama beberapa bulan, tetapi pada umumnya sekitar satu tahun.[9]
 Metode pembelajaran adalah murid duduk bersila dan guru pun duduk bersila dan murid belajar pada guru seorang demi seorang. Satu hal yang masih belum dilaksanakan pada pengajaran al-qur’an di langgar, dan ini merupakan kekurangannya adalah tidak diajarkannya menulis huruf  Al-qur’an (huruf arab), dengan demikian yang ingin dicapai hanya membaca semata. Padahal menurut metode baru dalam pengajaran menulis, seperti halnya yang dikembangkan sekarang dengan metode iqra’, dimana tidak hanya kemampuan membaca yang ditekankan, akan tetapi dituntut juga penguasaan si anak di dalam menulis.
Pengajaran al-qur’an pada pendidikan langgar dibedakan kepada dua macam, yaitu :
1.       Tingkatan rendah merupakan tingkatan pemula, yaitu mulainya mengenal huruf al-qur’an sampai bisa membacanya, diadakan pada tiap-tiap kampung, dan anak-anak hanya belajar pada malam hari dan pagi hari sesudah sholat shubuh
2.       Tingkatan atas, pelajarannya selain tersebut diatas, ditambah lagi pelajaran lagu, qasidah, berzanji, tajwid serta mengaji kitab perukunan.
Mata pelajaran yang diberikan di lembaga-lembaga pendidikan Islam dibagi menjadi dua tingkatan[10]:
·         Tingkatan dasar terdiri atas pelajaran membaca, menulis, bahasa Arab, pengajian Al-Qur’an, ibadah praktis.
·         Tingkat yang lebih tinggi dengan materi-materi ilmu fiqih, tasawuf, ilmu kalam, dan lain sebagainya.
Adapun tujuan pendidikan dan pengajaran di langgar adalah agar anak didik dapat membaca al-qur’an dengan berirama dan baik, tidak dirasakan keperluan untuk memahami isinya. Mereka yang kemudian berkeinginan melanjutkan pendidikannya setelah memperoleh bekal cukup dari langgar/masjid di kampungnya, dapat masuk ke pondok pesantren.
b.System Pendidikan Dayah (Pesantren)
Secara tradisional, sebuah pesantren identik dengan kyai (guru/pengasuh), santri (murid), masjid, pemondokan (asrama) dan kitab kuning (referensi atau diktat ajar). Sistem pembelajaran relatif serupa dengan sistem di langgar/masjid, hanya saja materinya kini kian berbobot dan beragam, seperti bahasa dan sastra Arab, tafsir, hadits, fikih, ilmu kalam, tasawuf, tarikh dan lainnya. Di pesantren, seorang santri memang dididik agar dapat menjadi seorang yang pandai (alim) di bidang agama Islam dan selanjutnya dapat menjadi pendakwah atau guru di tengah-tengah masyarakatnya.[11]
Atau lebih rincinya sistem pengajaran bagi setiap umat Islam, sebagaimana di negara-negara muslim, adalah pengajaran al-Qur’an. Pada tahap awal lapal bacaan bahasa Arab (huruf-huruf Hijaiyah), sesudah itu menghapal surat-surat pendek (Juz ‘Amma) beserta tajwidnya yang yang diperlukan untuk shalat. Pelajaran lebih lanjut berkenaan dengan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan hukum Islam (fikih) dan tasawuf. Yang memberi pelajaran pada tahap awal adalah Alim, sedangkan untuk pelajaran lebih lanjut diberikan oleh seorang ulama besar terutama yang pernah belajar di Makkah.[12]
C.     Model dakwah Islamiyah, terutama pada abad pertengahan
Sudah diterangkan pula bersamaan dengan pedagang, datang pula para ulama, da’i, dan sufi pengembara. Para ulama atau sufi itu ada yang kemudian diangkat menjadi penasehat dan atau pejabat agama di kerajaan. Di Aceh ada Syaikh Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumaterani, Nuruddin ar-Raniri, Abd. Rauf Singkel. Demikian juga kerajaan-kerajaan di Jawa mempunyai penasehat yang bergelar wali, yang terkenal adalah walisongo.
Para sufi menyebarkan Islam melalui dua cara:
a.       Dengan membentuk kader mubaligh, agar mampu mengajarkan serta menyebarkan agama islam di daerah asalnya. Dengan demikian, Abd Rauf mempunyai murid yang kemudian menyebarkan Islam di tempat asalnya, diantaranya Syaikh Burhanuddin Ulakan, kemudian Syaikh Muhyi Pamijahan Jawa Barat; Sunan Giri mempunyai murid Sultan Zaenal Abidin dari Ternate; Dato Ri Bandang menyebarkan Islam ke Sulawesi, Bima dan Buton; Khatib Sulaiman di Minangkabau mengembangkan Islam ke Kalimantan Timur; Sunan Prapen (ayahnya Sunan Giri) menyebarkan Islam ke Nusantara Tenggara Barat.
b.      Melalui karya-karya tulis yang tersebar dan dibaca di berbagai tempat. Di abad ke-17, Aceh pusat perkembangan karya-karya keagamaan yang ditulis para ulama dan para sufi. Hamzah Fanuri menulis antara lain Asrar al Arifin fi Bayan ila al Suluk wa al Tauhid, juga syair perahu yang merupakan syair sufi Nuruddin, ulama zaman Iskandar Tsani, menulis kitab hukum Islam Shirat al-Mustaqim.
Adapun gerakan dakwah Islam di Pulau Jawa selanjutnya dilakukan oleh para Wali Sanga, yaitu : 
a. Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik 
Beliau dkenal juga dengan sebutan Syeikh Magribi. Ia dianggap pelopor penyebaran Islam di Jawa. Beliau juga ahli pertanian, ahli tata negara dan sebagai perintis lembaga pendidikan pesantren. Wafat tahun 1419 M.(882 H) dimakamkan di Gapura Wetan Gresik 
b. Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel)
Dilahirkan di Aceh tahun 1401 M. Ayahnya orang Arab dan ibunya orang Cempa, ia sebagai mufti dalam mengajarkan Islam tak kenal kompromi dengan budaya lokal. Wejangan terkenalnya Mo Limo yang artinya menolak mencuri, mabuk, main wanita, judi dan madat, yang marak dimasa Majapahit. Beliau wafat di desa Ampel tahun 1481 M.
Jasa-jasa Sunan Ampel :
a.       Mendirikan pesantren di Ampel Denta, dekat Surabaya. Dari pesantren ini lahir para mubalig kenamaan seperti : Raden Paku (Sunan Giri), Raden Fatah (Sultan Demak pertama), Raden Makhdum (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan Maulana Ishak yang pernah diutus untuk menyiarkan Islam ke daerah Blambangan
b.      Berperan aktif dalam membangun Masjid Agung Demak yang dibangun pada tahun 1479 M.
c.       Mempelopori berdirinya kerajaan Islam Demak dan ikut menobatkan Raden Patah sebagai Sultan pertama. 
c. Sunan Giri (Raden Aenul Yaqin atau Raden Paku)
Ia putra Syeikh Yakub bin Maulana Ishak. Ia sebagai ahli fiqih dan menguasai ilmu Falak. Dimasa menjelang keruntuhan Majapahit, ia dipercaya sebagai raja peralihan sebelum Raden Patah naik menjadi Sultan Demak. Ketika Sunan Ampel wafat, ia menggantikannya sebagai mufti tanah Jawa.
d. Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)
Putra Sunan Ampel lahir tahun 1465. Sempat menimba ilmu ke Pasai bersama-sama Raden Paku. Beliaulah yang mendidik Raden Patah. Beliau wafat tahun 1515 M.
e. Sunan Kalijaga (Raden Syahid)
Ia tercatat paling banyak menghasilkan karya seni berfalsafah Islam. Ia membuat wayang kulit dan cerita wayang Hindu yang diislamkan. Sunan Giri sempat menentangnya, karena wayang Beber kala itu menggambarkan gambar manusia utuh yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kalijaga mengkreasi wayang kulit yang bentuknya jauh dari manusia utuh. Ini adalah sebuah usaha ijtihad di bidang fiqih yang dilakukannya dalam rangka dakwah Islam. 
f. Sunan Drajat
Nama aslinya adalah Syarifudin (putra Sunan Ampel, adik Sunan Bonang). Dakwah beliau terutama dalam bidang sosial. Beliau juga mengkader para da’i yang berdatangan dari berbagai daerah, antara lain dari Ternate dan Hitu Ambon.
g. Syarif Hidayatullah
Nama lainnya adalah Sunan Gunung Jati yang kerap kali dirancukan dengan Fatahillah, yang menantunya sendiri. Ia memiliki keSultanan sendiri di Cirebon yang wilayahnya sampai ke Banten. Ia juga salah satu pembuat sokoguru masjid Demak selain Sunan Ampel, Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Keberadaan Syarif Hidayatullah dengan kesultanannya membuktikan ada tiga kekuasaan Islam yang hidup bersamaan kala itu, yaitu Demak, Giri dan Cirebon. Hanya saja Demak dijadikan pusat dakwah, pusat studi Islam sekaligus kontrol politik para wali.
h. Sunan Kudus
Nama aslinya adalah Ja’far Sadiq. Lahir pada pertengahan abad ke 15 dan wafat tahun 1550 M. (960 H). Beliau berjasa menyebarkan Islam di daerah kudus dan sekitarnya. Ia membangun masjid menara Kudus yang sangat terkenal dan merupakan salah satu warisan budaya Nusantara.
i. Sunan Muria
Nama aslinya Raden Prawoto atau Raden Umar Said putra Sunan Kalijaga. Beliau menyebarkan Islam dengan menggunakan sarana gamelan, wayang serta kesenian daerah lainnya. Beliau dimakamkan di Gunung Muria, disebelah utara kota Kudus.
Diparuh awal abad 16 M, Jawa dalam genggaman Islam. Penduduk merasa tentram dan damai dalam ayoman keSultanan Demak di bawah kepemimpinan Sultan Syah Alam Akbar Al Fatah atau Raden Patah. Hidup mereka menemukan pedoman dan tujuan sejatinya setelah mengakhiri masa Siwa-Budha serta animisme. Merekapun memiliki kepastian hidup bukan karena wibawa dan perbawa sang Sultan, tetapi karena daulah hukum yang pasti yaitu syari’at Islam
 “Salokantara” dan “Jugul Muda” itulah dua kitab undang-undang Demak yang berlandaskan syari’at Islam. Dihadapan peraturan negeri pengganti Majapahit itu, semua manusia sama derajatnya, sama-sama khalifah Allah di dunia. Sultan-Sultan Demak sadar dan ikhlas dikontrol oleh kekuasaan para Ulama atau Wali. Para Ulama itu berperan sebagai tim kabinet atau merangkap sebagai dewan penasehat Sultan.
Dalam versi lain dewan wali sanga dibentuk sekitar 1474 M. oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel), membawahi Raden Hasan, Maftuh Ibrahim, Qasim (Sunan Drajat) Usman Haji (ayah Sunan Kudus, Raden Ainul Yakin (Sunan Gresik), Syekh Sutan Maharaja Raden Hamzah, dan Raden Mahmud. Beberapa tahun kemudian Syekh Syarif Hidayatullah dari Cirebon bergabung di dalamnya. Sunan Kalijaga dipercaya para wali sebagai muballig keliling. Disamping wali-wali tersebut, masih banyak Ulama yang dakwahnya satu kordinasi dengan Sunan Ampel hanya saja, sembilan tokoh Sunan Wali Sanga yang dikenal selama ini memang memiliki peran dan karya yang menonjol dalam dakwahnya[13]. 

KESIMPULAN
1. Alur masuknya agama Islam di Nusantara
  Ahmad Mansyur Suryanegara menguraikan tiga teori tentang masuknya Islam ke Indonesia yaitu:
·         Teori Gujarat
·         Teori Makkah
·         Teori Persia
Ketiga teori tersebut, pada dasarnya masing-masing memiliki kebenaran dan kelemahannya. Maka itu berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke – 7 dan mengalami perkembangannya pada abad 13. Sebagai pemegang peranan dalam penyebaran Islamadalah bangsa Arab, bangsa Persia dan Gujarat (India).
2.      Sistem pelajaran dalam proses penyebaran Islam
Atau lebih rincinya sistem pengajaran bagi setiap umat Islam, sebagaimana di negara-negara muslim, adalah pengajaran al-Qur’an. Pada tahap awal lapal bacaan bahasa Arab (huruf-huruf Hijaiyah), sesudah itu menghapal surat-surat pendek (Juz ‘Amma) beserta tajwidnya yang yang diperlukan untuk shalat. Pelajaran lebih lanjut berkenaan dengan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan hukum Islam (fikih) dan tasawuf. Yang memberi pelajaran pada tahap awal adalah Alim, sedangkan untuk pelajaran lebih lanjut diberikan oleh seorang ulama besar terutama yang pernah belajar di Makkah.
3.      Model dakwah Islamiyah, terutama pada abad pertengahan
Para sufi menyebarkan Islam melalui dua cara:
a.       Dengan membentuk kader mubaligh, agar mampu mengajarkan serta menyebarkan agama islam di daerah asalnya.
b.      Melalui karya-karya tulis yang tersebar dan dibaca di berbagai tempat.
c.       Adapun gerakan dakwah Islam di Pulau Jawa selanjutnya dilakukan oleh para Wali Sanga

DAFTAR PUSTAKA
Mansyur S Ahmad, Menemukan Sejarah, (Bandung: Mizan)
Musyarifah, Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010 )
Rifa’I, Muhammad. Sejarah Penddikan Nasional. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media). 2011
Rukiati, Enung, Fenti Hikmawati. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. (Bandung: Pustaka Setia). 2006
Wathani, Kharisul. Dinamika Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. (Ponorogo: STAIN Po PRESS, 2011)








[1][1] Kharisul Wathani. Dinamika Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. (Ponorogo: STAIN Po PRESS, 2011), hal. 15-16
[2] Ibid,
[3] Musyarifah, Sunanto. Sejarah Peradaban Islam Indonesia. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010). Hal. 18-20
[4] Enung Rukiati, Fenti Hikmawati. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. (Bandung: Pustaka Setia, 2006). Hal. 22
[5] Ahmad Mansyur S. Menemukan Sejarah. (Bandung:Mizan,) hal. 75
[7] Kharisul Wathani. Dinamika Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Hal. 24-26
[8] Kharisul Wathani. Dinamika Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Hal.30
[9] Muhammad Rifa’i. Sejarah Penddikan Nasional. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2011). Hal. 38
[10] Musyarifah, Sunanto. Sejarah Peradaban Islam Indonesia. Hal. 106
[11] Sumber : http://avina-izza.blogspot.com/2011/05/makalah-sejarah-pendidikan-islam.html

[12] Musyarifah, Sunanto. Sejarah Peradaban Islam Indonesia. Hal.108