Thursday, 23 May 2013

SYEKH HASAN AS-SADZALI DAN AJARANNYA



PENDAHULUAN
Tarekat merupakan jalan yang ditempuh para sufi dan dapat digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syariat. Dalam ilmu tasawuf , istilah tarekat tidak saja ditujukan pada aturan dan cara-cara tertentu yang digunakan oleh seorang syekh tarekat dan bukan pula terhadap kelompok yang menjadi pengikut salah seorang syekh tarekat, tetapi meliputi segala aspek ajaran yang ada di dalam agama islam, yang semua itu merupakan jalan atau cara mendakatkan diri kepada Allah. Usaha mendekatkan diri ini biasanya dilakukan di bawah bimbingan seorang guru (syekh). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan tarekat adalah cara dan jalan yang ditempuh seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Sejarah islam menunjukkan bahwa tarekat-tarekat, sejak bermunculan pada abad ke-12 (abad ke-6 H) mengalami perkembangan pesat. Dapat dikatakan bahwa dunia islam, sejak abad berikutnya (1317 M), pada umumnya dipengaruhi oleh tarekat. Tarekat-tarekat tampak memegang peranan yang cukup besar dalam menjaga eksistensi dan ketahanan umat islam. Tarekat-tarekatlah yang menguasai kehidupan umat islam selama zaman pertengahan sejarah Islam. Pengaruh-pengaruh tarekat mulai mengalami kemunduran. Serangan-serangan terhadap tarekat mulai semakin gencar dan kuat pada masa modern. Tokoh-tokoh pembaharu dalam dua abad terakhir ini pada umumnya memandang bahwa salah satu diantara sebab-sebab mundur dan lemahnya umat Islam adalah pengaruh tarekat yang buruk, antar lain menumbuhkan sikap taklid, fanalitis, orientasi yang berlebihan kepada ibadah dan akhirat, dan tidak mementingkan Ilmu Pengetahuan.
Pada awal kemunculannya, tarekat berkembang dari dua daerah, yaitu Khurasan (Iran) dan Mesopotamia (Irak). Di daerah Mesopotamia, masih banyak tarekat yang muncul pada periode ini dan cukup terkenal,tetapi tidak termasuk rumpun Al-Junaid. Tarekat-tarekat ini di antaranya adalah Tarekat Qadiriyah, Tarekat Syadziliyah, dan Tarekat Rifa’iyah.

PEMBAHASAN

A.      BIOGRAFI ABUL HASAN ASY-SYADZILI
Namanya lengkapnya adalah Abul Hasan Asy-Syadzili al-Hasani. Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili adalah pendiri Tarekat Syadziliyah. Nama kecil Syekh Abul Hasan Asy Syadzili adalah Ali, gelarnya adalah Taqiyuddin, Julukanya adalah Abu Hasan dan nama populernya adalah Asy-Syadzili. Di kalamgam tarekat Syadziliyah silsilah keturunan asy-Syadzili dihubungkan dengan Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Dengan demikian ia juga mempunyai hubungan darah dengan Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah SAW.  Nasab atau garis keturunan Abu Hasan al-Syadzili bersambung sampai dengan Rasulullah SAW. Berikut ini Nasab Abu Hasan al-Syadzili : Abu Hasan bin Abdullah Abdul Jabbar bin Tamim bin Hurmuz bin Hatim bin Qushay bin Yusuf bin Yusya' bin Ward bin Baththal bin Ahmad bin Muhammad bin Isa bin Muhammad bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah binti Rasulullah SAW.[1] Sebagian besar sumber yang berbicara tentang sejarah Asy-Syadzili sepakat bahwa dia lahir di negeri Maghrib pada tahun 593 H (1197 M), di sebuah desa yang bernama Ghumarah, dekat kota Sabtah, negeri Maghrib al Aqsho atau Marokko, Afrika Utara, dan meninggal di Mesir pada tahun 656H/1258M.[2]
Sejak kecil Beliau biasa dipanggil dengan nama: ‘ALI, sudah dikenal sebagai orang yang memiliki akhlaq atau budi pekerti yang amat mulia. Tutur katanya sangat fasih, halus, indah dan santun, serta mengandung makna pengertian yang dalam. Di samping memiliki cita-cita yang tinggi dan luhur, Beliau juga tergolong orang yang memiliki kegemaran menuntut ilmu. Di desa tempat kelahirannya ini, Beliau mendapat tempaan pendidikan akhlaq serta cabang ilmu-ilmu agama lainnya langsung di bawah bimbingan ayah-bunda beliau. Beliau tinggal di desa tempat kelahirannya ini sampai usia 6 tahun, yang kemudian pada akhirnya hijrah ke kota Tunis (sekarang ibu kota negara Tunisia, Afrika Utara) yang semata-mata hanya untuk tujuan tholabul ‘ilmi di samping untuk menggapai cita-cita luhur Beliau menjadi orang yang memiliki kedekatan dan derajat kemuliaan di sisi Allah SWT. Beliau sampai di kota Tunis, sebuah kota pelabuhan yang terletak di tepi pantai Laut Tengah, pada tahun 599 H / 1202 M. Dia tinggal di sebuah desa yang bernama Syadzilah. Di suatu hari Jumat, Beliau pernah ditemui oleh Nabiyyullah Khidlir ‘alaihissalam, yang mengatakan bahwa kedatangannya pada saat itu adalah diutus untuk menyampaikan keputusan Allah SWT atas diri Beliau yang pada hari itu telah dinyatakan dipilih menjadi kekasih Robbul ‘Alamin dan sekaligus diangkat sebagai Wali Agung dikarenakan Beliau memiliki budi luhur dan akhlaq mulia.
Dari Syekh Abi Said, Beliau banyak belajar ilmu-ilmu tentang Al-Qur’an, hadits, fiqih, akhlaq, tauhid, beserta ilmu-ilmu alat. Selain itu, karena kedekatan Beliau dengan sang guru, Beliau juga berkesempatan mendampingi Syekh Abi Said menunaikan ibadah haji ke Mekkah al-Mukarromah sampai beberapa kali. Kemudian, Beliau memberanikan diri untuk berpamitan sekaligus memohon doa restu kepada sang guru, syekh Abi Said al Baji, untuk pergi merantau demi mencari seseorang yang berkedudukan sebagai Quthub.
Seterusnya, ia mengembara ke negeri-negeri muslim di Timur, termasuk mengunjungi kota suci Mekah untuk melakukan ibadah haji beberapa kali. Dalam pengembaraan tersebut ia berguru kepada dua sufi lainnya, yaitu Abu Abdillah bin Harazim dan Abdussalam bin Masyisy. Dari kedua gurunya ini Syadzili memperoleh khirqah, sebagai tanda bahwa ia sudah mencapai taraf pengetahuan kesufian yang memadai. Khirqah biasanya berbentuk sepotong kain atau pakaian dari guru yang dianggap mengandung kesucian dan menjadi kenang-kenangan bagi si murid sendiri.
Perawakannya yang menarik serta kehidupan yang menunjukkan kesederhanaan membuat Syadzili mudah mendapat simpati dari masyarakat luas. Menurut riwayat yang hidup dikalangan tarekat Syadziliyah, beliau dipandang sebagai wali keramat. Kekeramatan itu diprrolehnya sebagai hasil dari pernyataan Nabi Muhammad SAW sendiri. Hal itu terjadi setelah ia bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Dalam mimpi itu Nabi SAW berkata kepada Syadzili: “Hai Ali, pergilah engkau masuk ke negeri Mesir. Di sana engkau akan mendidik empat puluh orang siddiqin (jujur).”
Para penganut aliran sufi Syadziliyah menyebutkan sejumlah karomah Abu Al-Hasan Asy-Syadzili. Diantarnya bahwa dalam perjalanannya ke Al-Iskandariyah, ia menetap di Tunis beberapa waktu. Di sana, namanya melambung tinggi dan banyak sekali orang yang berkerumun disekitarnya. Hal tersebut membuat iri ulama Tunis dan salah satu dari qadhinya bernam Ibnu Al-Barra’. Kemudian Ibnu Al-Barra’ mengadukan Syadzili kepada penguasa ketika itu, menyiapkan jebakan untuknya di sisi penguasa tersebut, dan mempermasalahkan nasabnya namun penguasa Tunis ketika itu tidak menjatuhkan sanksi apa-apa kepada Syadzili, bahkan menghormatinya, namun ia melarangnya kuluar dari Tunis. Ia melarang Syadzili keluar dari Tunis karena budak wanitanya yang sangat ia cintai meninggal ketika itu.
Abu Al-Hasan Asy-Syadzili menafsirkan beberapa ayat Al-Qur’an dengan penafsiran bathiniah yang merupakan manhaj orang-orang kebatinan dan para pentakwil. Contoh penafsiran terhadap sebagian ayat-ayat Al-Qur’an telah saya sebutkan di buku At-Thasawuf, Al-Mansya’u wa Al-Mashadiru, jadi silahkan merujuk kepadanya.

B.       AJARAN-AJARAN ABUL HASAN ASY-SYADZILI
Beberapa saat setelah mendapat penjelasan dari Syekh Abul Fatah al Wasithi, Beliau segera mohon diri sekaligus minta doa restu agar Beliau bisa segera berhasil menemukan sang Quthub yang sedang dicarinya. Sesampainya di Maroko, Beliau langsung menuju ke desa Ghamarah, tempat di mana Beliau dilahirkan. Tidak berapa lama kemudian, Beliau segera bertanya-tanya kepada penduduk setempat maupun setiap pendatang di manakah tinggalnya sang Quthub. Hampir setiap orang yang Beliau temui selalu ditanyai tentang keberadaan sang Quthub. Akhirnya setelah cukup lama mencari didapatlah keterangan bahwa orang yang dimaksud oleh Syekh Abul Fatah tiada lain adalah Sayyidisy Syekh ash Sholih al Quthub al Ghouts asy Syarif Abu Muhammad Abdus Salam bin Masyisy al Hasani, yang pada saat itu sedang berada di tempat pertapaannya, di suatu gua yang letaknya di puncak sebuah gunung di padang Barbathoh. Demi mendengar keterangan itu, sama seperti yang dijelaskan oleh Syekh Abul Fatah al Wasithi al Iraqi, segera saja Beliau menuju ke tempat yang ditunjukkan itu.
Di suatu waktu guru beliau, rodhiyallahu ‘anh, itu mengatakan, “Semulia-mulia amal adalah empat disusul empat : KECINTAAN demi untuk Allah, RIDHO atas ketentuan Allah, ZUHUD terhadap dunia, dan TAWAKKAL atas Allah.[3]
Kemudian disusul pula dengan empat lagi, yakni MENEGAKKAN fardhu-fardbu Allah, MENJAUHI larangan-laranganAllah, BERSABAR terhadap apa-apa yang tidak berarti, dan WARO’ menjauhi dosa-dosa kecil berupa segala sesuatu yang melalaikan”.[4]
Hal yang terpenting dan paling bersejarah dalam kehidupan Beliau di kemudian hari ialah diterimanya ijazah dan bai’at sebuah thoriqot dari asy Syekh Abdus Salam yang rantai silsilah thoriqot tersebut sambung-menyambung tiada putus sampai akhirnya berujung kepada Allah SWT. Setelah menerima ajaran dan baiat thoriqot ini, dari hari ke hari Beliau merasakan semakin terbukanya mata hati beliau. Beliau banyak menemukan rahasia-rahasia Ilahiyah yang selama ini belum pernah dialaminya. Sejak saat itu pula Beliau semakin merasakan dirinya kian dalam menyelam ke dasar samudera hakekat dan ma’rifatulloh. Hal ini, selain berkat dari keagungan ajaran thoriqot itu sendiri, juga tentunya karena kemuliaan barokah yang terpancar dari ketaqwaan sang guru, asy Syekh Abdus Salam bin Masyisy, rodhiyAllahu ‘anh.
Beliau pun kemudian dianggap sebagai pendiri thoriqot ini yang pada akhirnya menisbatkan nama thoriqot ini dengan nama besar beliau, dengan sebutan “THARIQAT SYADZILIYAH”. Banyak para ulama dan pembesar-pembesar agama di seluruh dunia, dari saat itu sampai sekarang, yang mengambil berkah dari mengamalkan thoriqot ini.
Asy Syekh menjalankan dakwah dan mensyiarkan thoriqotnya di negeri Mesir itu sampai pada bulan Syawal 656 H/1258 M. Pada awal bulan Dzul Qa’dah tahun itu juga, terbetik di hati asy Syekh untuk kembali menjalankan ibadah haji ke Baitullah. Keinginan itu begitu kuat mendorong hati beliau. Maka, kemudian diserukanlah kepada seluruh keluarga Beliau dan sebagian murid asy Syekh untuk turut menyertai beliau. Ketika itu asy Syekh juga memerintahkan agar rombongan membawa pula seperangkat alat untuk menggali. Memang suatu perintah yang dirasa agak aneh bagi para pengikut beliau. Pada saat ada seseorang yang menanyakan tentang hal itu, asy Syekh pun menj awab, “Ya, siapa tahu di antara kita ada yang meninggal di tengah perjalanan nanti.”
Wejangan Dasar
1.      Tauhid dengan sebenar-benarnya tauhid yang tidak musrik kepada Alloh ta'ala
2.      Ketaqwaan terhadap Allah swt lahir dan batin, yang diwujudkan dengan jalan bersikap wara' dan Istiqamah dalam menjalankan perintah Allah swt.
3.      Konsisten mengikuti Sunnah Rasul, baik dalam ucapan maupun perbuatan, yang direalisasikan dengan selalau bersikap waspada dan bertingkah laku yang luhur.
4.      Berpaling (hatinya) dari makhluk, baik dalam penerimaan maupun penolakan, dengan berlaku sadar dan berserah diri kepada Allah swt (Tawakkal).
5.      Ridho kepada Allah, baik dalam kecukupan maupun kekurangan, yang diwujudkan dengan menerima apa adanya (qana'ah/ tidak rakus) dan menyerah.
6.      Kembali kepada Allah, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah, yang diwujudkan dengan jalan bersyukur dalam keadaan senang dan berlindung kepada-Nya dalam keadaan susah.[5]
Intisari tarekat
Menurut ajaran Tarekat Syadziliyah sendiri, Syadziliyah adalah tarekat yang termudah dalam perkara ilmu dan amal. Ajarannya serta latihan-latihan pencucian dirinya tidak rumit dan tidak berbelit-belit. Terekat ini memberi tuntutan yang mudah dan sederhana dalam ihwal (keadaan mental} dan  maqam serta dalam ilham (anugrah, petunjuk langsung) dan maqal (ucapan, perkataan), sehingga para pengikut tarekat dengan mudah dapat dibawa untuk mendapatkan maqam (tangga pencapaian sufi dalam membersihkan hati), asrar (rahasia-rahasia Ketuhanan), karamah (kemuliaan yang dilimpahkan Allah SWT kepada seorang pengikut tarekat dalam bentuk kemampuan memunculkan peristiwa luar biasa), dan mujahadat {bersungguh-sungguh dalam mengerjakan segala ibadah dan segala wirid seakan-akan yang mengerjakan lupa akan dirinya).
Tarekat Syadziliyah dibentuk pada tahun 670 H/1273 M dan muncul pertama kali di Tunisia. Tarekat ini kemudian berkembang ke Maroko, Mesir, dan nageri-negeri muslim belahan dunia Timur lainnya. Upaya penyebaran tersebut adalah atas jasa pengganti Syadzili sendiri, yakni Abul Abbas al-Mursi dan Ali bin Umar al-Kurasyi. Di abad ke-19 Tarekat Syadziliyah dikembangkan oleh Muhammad bin Muhammad bin Ahmad yang menjadi tokoh sentral Tarekat Syadziliyah di Aljazair yang menduduki jabatan khalifah tarekat.
Secara pribadi Abul Hasan asy-Syadzili tidak meninggalkan karya tasawuf, begitu juga muridnya, Abul Abbas al-Mursi, kecuali hanya sebagai ajaran lisan tasawuf, doa, dan hizib. Ibn Atha'illah as- Sukandari adalah orang yang prtama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga kasanah tareqat Syadziliyah tetap terpelihara. Ibn Atha'illah juga orang yang pertama kali menyusun karya paripurna tentang aturan-aturan tareqat tersebut, pokok-pokoknya, prinsip-prinsipnya, bagi angkatan-angkatan setelahnya.
Melalui sirkulasi karya-karya Ibn Atha'illah, tareqat Syadziliyah mulai tersebar sampai ke Maghrib, sebuah negara yang pernah menolak sang guru.
Sebagai ajaran Tareqat ini dipengaruhi oleh al-Ghazali dan al-Makki. Salah satu perkataan as-Syadzili kepada murid-muridnya: "Seandainya kalian mengajukan suatu permohonanan kepada Allah, maka sampaikanlah lewat Abu Hamid al-Ghazali". Perkataan yang lainnya: "Kitab Ihya' Ulum ad-Din, karya al-Ghozali, mewarisi anda ilmu. Sementara Qut al-Qulub, karya al-Makki, mewarisi anda cahaya." Selain kedua kitab tersebut, as-Muhasibi, Khatam al-Auliya, karya Hakim at-Tarmidzi, Al-Mawaqif wa al-Mukhatabah karya An-Niffari, Asy-Syifa karya Qadhi 'Iyad, Ar-Risalah karya al-Qusyairi, Al-Muharrar al-Wajiz karya Ibn Atah'illah.











KESIMPULAN
1.    Namanya lengkapnya adalah Abul Hasan Asy-Syadzili al-Hasani.
2.    Nama kecil Syeh Abul Hasan Asy Syadzili adalah Ali, gelarnya adalah Taqiyuddin, Julukanya adalah Abu Hasan dan nama populernya adalah Asy-Syadzili.
3.    Syekh Hasan Asy-Syadzili lahir di negeri Maghrib pada tahun 593 H (1197 M), di sebuah desa yang bernama Ghumarah, dekat kota Sabtah, negeri Maghrib al Aqsho atau Marokko, Afrika Utara, dan meninggal di Mesir pada tahun 656H/1258M.
4.    Beliau tinggal di desa tempat kelahirannya ini sampai usia 6 tahun, yang kemudian pada akhirnya hijrah ke kota Tunis (sekarang ibu kota negara Tunisia, Afrika Utara) yang semata-mata hanya untuk tujuan tholabul ‘ilmi.
5.    Beliau sampai di kota Tunis, sebuah kota pelabuhan yang terletak di tepi pantai Laut Tengah, pada tahun 599 H / 1202 M.
6.    Beliau banyak belajar ilmu-ilmu tentang Al-Qur’an, hadits, fiqih, akhlaq, tauhid, beserta ilmu-ilmu alat dari Syekh Abi Said.
7.    Para penganut aliran sufi Syadziliyah menyebutkan sejumlah karomah Abu Al-Hasan Asy-Syadzili. Diantarnya bahwa dalam perjalanannya ke Al-Iskandariyah, ia menetap di Tunis beberapa waktu. Di sana, namanya melambung tinggi dan banyak sekali orang yang berkerumun disekitarnya.
8.    Empat amalan mulia yaitu: KECINTAAN demi untuk Allah, RIDHO atas ketentuan Allah, ZUHUD terhadap dunia, dan TAWAKKAL atas Allah, kemudian disusul tiga lagi yaitu: MENEGAKKAN fardhu-fardbu Allah, MENJAUHI larangan-laranganAllah, BERSABAR terhadap apa-apa yang tidak berarti, dan WARO’ menjauhi dosa-dosa kecil berupa segala sesuatu yang melalaikan.
9.    Asy Syekh menjalankan dakwah dan mensyiarkan thoriqotnya di negeri Mesir itu sampai pada bulan Syawal 656 H/1258 M.


10.    Wejangan dasar, yaitu:
  1. Tauhid dengan sebenar-benarnya tauhid yang tidak musrik kepada Alloh ta'ala
  2. Ketaqwaan terhadap Allah swt lahir dan batin, yang diwujudkan dengan jalan bersikap wara' dan Istiqamah dalam menjalankan perintah Allah swt.
  3. Konsisten mengikuti Sunnah Rasul, baik dalam ucapan maupun perbuatan, yang direalisasikan dengan selalau bersikap waspada dan bertingkah laku yang luhur.
  4. Berpaling (hatinya) dari makhluk, baik dalam penerimaan maupun penolakan, dengan berlaku sadar dan berserah diri kepada Allah swt (Tawakkal).
  5. Ridho kepada Allah, baik dalam kecukupan maupun kekurangan, yang diwujudkan dengan menerima apa adanya (qana'ah/ tidak rakus) dan menyerah.
  6. Kembali kepada Allah, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah, yang diwujudkan dengan jalan bersyukur dalam keadaan senang dan berlindung kepada-Nya dalam keadaan susah.

11.         Terekat ini memberi tuntutan yang mudah dan sederhana dalam ihwal (keadaan mental} dan  maqam serta dalam ilham (anugrah, petunjuk langsung) dan maqal (ucapan, perkataan), sehingga para pengikut tarekat dengan mudah dapat dibawa untuk mendapatkan maqam (tangga pencapaian sufi dalam membersihkan hati), asrar (rahasia-rahasia Ketuhanan), karamah (kemuliaan yang dilimpahkan Allah SWT kepada seorang pengikut tarekat dalam bentuk kemampuan memunculkan peristiwa luar biasa), dan mujahadat {bersungguh-sungguh dalam mengerjakan segala ibadah dan segala wirid seakan-akan yang mengerjakan lupa akan dirinya).



DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Rosihon. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia. 2009
Bahri, Fadhli. Terj. Dhahir, Ilahi, Ihsan (Dirasat fi At-Tasawuf). Darah Hitam Tasawuf: Studi Krisis Kesesatan Kaum Sufi. Jakarta: Darul Fatah. 2008
http://syadziliyah.web.id/sejarah


[2] Fadhli Bahri, Terj. Ihsan Ilahi Dhahir,  Darah Hitam Tasawuf: Studi Krisis Kesesatan Kaum Sufi. (Jakarta: Darul Fatah, 2008), 270

[3] http://syadziliyah.web.id/sejarah, diakses tanggal 10 Maret 2012
[4] Ibid