Tuesday, 28 May 2013

KONSEP EVALUASI dalam KONTEK PROSES PENDIDIKAN ISLAM


PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Dalam pendidikan terjadi proses belajar mengajar yang sistematis, yang terdiri dari banyak komponen. Masing-masing komponen pengajaran tidak bersifat terpisah atau berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus berjalan secara teratur, saling bergantung dan berkesinambungan.
Proses belajar mengajar pada dasarnya adalah interaksi yang terjadi antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Guru sebagai pengarah dan pembimbing, sedang siswa sebagai orang yang mengalami dan terlibat aktif untuk memperoleh perubahan yang terjadi pada diri siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar, maka guru bertugas melakukan suatu kegiatan yaitu penilaian atau evaluasi atas ketercapaian siswa dalam belajar.
Selain memiliki kemampuan untuk menyusun bahan pelajaran dan keterampilan menyajikan bahan untuk mengkondisikan keaktifan belajar siswa, guru diharuskan memiliki kemampuan mengevaluasi ketercapaian belajar siswa, karena evaluasi merupakan salah satu komponen penting dari kegiatan belajar mengajar.

2.       Rumusan Masalah
1.        Pengertian Evaluasi dalam Pendidikan Islam
2.      Sistem Evaluasi yang Diterapkan Allah
3.      Fungsi Evaluasi Pendidikan Islam
4.      Cara pelaksanaan Evaluasi Pendidikan Islam
5.      Jenis-jenis Evaluasi Pendidikan Islam











PEMBAHASAN
1.      Pengertian Evaluasi dalam Pendidikan Islam
Secara etimologi evaluasi berasal dari bahasa Inggris : Evaluation akar katanyaValue yang berarti menilai atau harga. Nilai dalam bahasa Arab disebut al-Qimahatau al-Taqdir. Dengan demikian secara harfiah , evaluasi pendidikan al-Tagdir al-tarbawiy dapat diartikan sebagai penilaian dalam (bidang) pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan.[1]
Evaluasi dalam pendidikan Islam merupakan cara atau teknik penilaian terhadap tingkah laku anak didik berdasarkan standar perhitungan yang bersifat komperehensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan mental-psikologis dan spiritual-religius, karena manusia bukan saja sosok pribadi yang tidak hanya bersikap religius, melainkan juga berilmu dan berketerampilan yang sanggup beramal dan berbakti kepada Tuhan dan masyarakatnya.[2]
Sasaran evaluasi pendidikan Islam secara garis besar meliputi empat kemampuan dasar anak didik, yaitu:
1.      Sikap dan pengamalan pribadinya, hubungan dengan Tuhan.
2.      Sikap dan pengamalan dirinya, hubungannya dengan masyarakat
3.      Sikap dan pengamalan hidupnya, hubungan dengan alam sekitar
4.      Sikap dan pandangannya terhadap dirinya sendiri selaku hamba Allah dan selaku anggota masyarakatnya, serta selaku khalifah dimuka bumi.
2.      Sistem Evaluasi yang Diterapkan Allah
Al-Qur’an menginspirasikan bahwa pekerjaan evaluasi terhadap manusia didik adalah merupakan suatu tugas penting dalam rangkaian proses pendidikan yang telah dilaksanakan oleh pendidik. Ada tiga tujuan pedagogis dari sistem evaluasi Tuhan terhadap perbuatan Manusia,[3] yaitu sebagai berikut:
1.      Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dialaminya.
2.      Untuk mengetahui sampai dimana atau sejauh mana hasil pendidikan wahyu yang telah diterapkan Rasulullah saw terhadap umatnya.
3.      Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat-tingkat hidup keislaman atau keimanan manusia, sehingga diketahui manusia yang paling mulia disisi Allah yaitu paling bertakwa kepadaNya, manusia yang sedang dalam iman dan ketakwaannya, manusia yang ingkar kepada ajaran Islam.
4.      Evaluasi untuk mengoreksi balasan amal perbuatan manusia sebagaimana yang tersirat dalam ayat yang artinya:[4]
‘’barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar atompun, niscaya akan melihat (balasan) nya, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar atompun niscaya akan melihat (balasan) nya. (QS. Al-Zalzalah:7-8)
a.       Untuk mengetahui daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problem kehidupan yang dialami. Sebagai contoh sistem evaluasi Tuhan terhadap manusia yang menghadapi berbagai kesulitan hidup, adalah firman-Nya dalam surah Al-Baqarah ayat 155 yang artinya:
‘’Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar’’. (QS. Al-Baqarah:155)
Sasaran evaluasi dengan teknik testing tersebut adalah ketahanan mental beriman dan bertakwa kepada Allah. Jika mereka ternyata tahan terhadap uji coba (tes) Tuhan, mereka akan mendapatkan kegembiraan dalam segala bentuk, terutama kegembiraan yang bersifat mental-rohaniah. Seperti kelapangan dada, ketegaran hati, terhindar dari putus asa, kesehatan jiwa, dan kegembiraan yang paling tinggi nilainya ialah mendapatkan tiket masuk surga.
b.      Sistem evaluasi untuk mengetahui apakah bersyukur ataupun kufur terhadap Tuhan, sebagaimana firmanNya:
‘’....ia pun berkata (orang yang berilmu dari al-Kitab): ia termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengungkari (akan nikmatNya). Dan barang siapa bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia’’. (QS An-Naml:40)
c.       Untuk mengetahui sejauh mana atau smapai dimana hasil pendidikan wahyu yang telah diaplikasikan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya. Contohnya Nabi Sulaiman pernah mengevaluasi kejujuran burung hud-hud yang memberitahukan tentang adanya kerajaan yang diperintah oleh seorang wanita cantik, yang dikisahkan dalam al-Qur’an sebagai berikut:
‘’ Berkata Sulaiman: ‘’Akan kami lihat (evaluasi) apakah kamu benar ataukah kamu termsuk orang-orang berdusta.’’ (QS an-Naml:27)
d.      Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat hidup keislaman atau keimanan seseorang. Sebagai contoh ujian (tes) yang berat kepada Nabi Ibrahim, Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anaknya Ismail yang amat dicintai. Tujuannya untuk mengetahui kadar keimanan dan ketakwaan serta ketaatannya kepada Allah.
‘’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya)...sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata; Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sesembelihan yang besar’’. (QS Ash-Shaffat: 103, 106 dan 107)
e.       Untuk mengukur daya kognisi, hafalan manusia dari pelajaran yang telah diberikan padanya, seperti pengevaluasian terhadap Nabi Adam tentang asma-asma yang diajarkan Allah kepadanya dihadapan para Malaikat (QS al-Baqarah:31)
Tuhan memberikan contoh sistem evaluasi seperti difirmankan dalam kitab suciNya, yang kitab sasarannya adalah untuk mengetahui dan menilai sejauh mana kadar iman, takwa, dan ketahanan mental dan keteguhan hati serta kesediaan menerima ajakan Tuhan untuk menaati perintah dan menjauhi laranganNya. Kemudian setelah dinilai Tuhan menetapkan kriteria-kriteria derajat kemuliaan hambaNya. Bagi yang berderajat mulia di sisiNya, Dia akan memberi ‘’hadiah’’ atau pahala sesuai kehendakNya yang berpuncak pada pahala tertinggi, yaitu surga. Dan yang berderajat rendah karena ingkar terhadap ajakan-Nya maka Dia akan memberi balasan siksa, dan siksa tertinggi ialah api neraka.
Dengan demikian, pekerjaan evaluasi Tuhan pada hakikatnya bersifat mendidik agar sadar terhadap fungsinya selaku hamba-Nya, yaitu menghambakan diri hanya kepadaNya.[5]
3.      Fungsi Evaluasi Pendidikan Islam
Sebagai salah satu komponen penting dalam pelaksanaan pendidikan Islam, evaluasi berfungsi sebagai berikut:
1)      Untuk mengetahui sejauh mana efektifitas cara belajar dan mengajar yang telah dilakukan benar-benar tepat atau tidak, baik yang berkenaan dengan sikap pendidik/ guru maupun anak didik/murid.
2)      Untuk mengetahui hasil prestasi belajar siswa guna menetapkan keputusan apakah bahan pelajaran perlu diulang atau dapat dilanjutkan.
3)      Untuk mengetahui atau mengumpulkan informasi tentang taraf perkembangan dan kemajuan yang diperoleh murid dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum pendidikan Islam.
4)      Sebagai bahan laporan bagi orang tua murid tentang hasil belajar siswa. Laporan ini dapat berbentuk buku raport, piagam, sertifikat, ijazah dll.
5)      Untuk membandingkan hasil pembelajaran yang diperoleh sebelumnya dengan pembelajaran yang dilakukan sesudah itu, guna meningkatkan pendidikan.[6]

4.      Cara pelaksanaan Evaluasi Pendidikan Islam
                        Evaluasi pendidikan Islam dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu evaluasi terhadap diri sendiri (self-evaluation) dan terhadap kegiatan orang lain (peserta didik).[7]
1.      Evaluasi terhadap diri sendiri
Seorang muslim, termasuk peserta didik, yang sadar dan baik adalah mereka yang sering melakukan evaluasi diri dengan cara Muhasabah dengan menghitung baik buruknya dan inventarisasi diri (self-inventory), baik mengenai kelebihan yang harus dipertahankan maupun kekurangan dan kelemahan yang perlu dibenahi. Evaluasi terhadap diri sendiri yang sesungguhnya akan mampu menggambarkan keadaan yang sesungguhnya, karena yang mengetahui perilaku individu adalah individu itu sendiri.

2.      Evaluasi Kegiatan Orang Lain
Evaluasi terhadap perilakuy orang lain harus disertai dengan amar ma’ruf nahi munkar (mengajar yang baik atau mencegah yang munkar). Tujuannya adalah memperbaiki tindakan orang lain, bukan untuk mencari aib atau kelemahan seseorang. Dengan niatan ini maka evaluasi pendidikan Islam dapat terlaksana.
5.      Jenis-jenis Evaluasi Pendidikan Islam
Macam-macam jenis evaluasi hasil belajar dalam proses belajar mengajar pendidikan agama di sekolah dapat dibedakan ke dalam:[8]
a)      Evaluasi Formatif
Evaluasi Formatif yaitu evaluasi yang dilakukan sesudah diselesaikan satu pokok bahasan. Dengan demikian evaluasi hasil belajar jangkan pendek. Dalam pelaksanaannya di sekolah evaluasi formatif ini merupakan ulangan harian.
b)      Evaluasi Sumative
Evaluasi Sumative yaiyu evaluasi yang dilakukan sesudah diselesaikan bebrapa pokok bahsan. Dengan demikian evaluasi sumative adlah evaluasi hasil belajar jangka panjang. Dalam pelaksanaannya di sekolah, kalau evaluasi formative dapat disamakan dengan ulangan harian, maka evaluasi sumative dapat disamakan dengan ulangan umum yang biasanya dilaksanakan pada tiap akhir catur wulan atau akhir semester.
c)      Evaluasi Placement
Jika cukup banyak calon siswa yang diterima di suatu sekolah sehingga diperlukan lebih dari satu kelas, maka untuk pembagian diperlukan pertimbangan khusus. Apakah anak yang baik akan disatukan di satu kelas ataukah semua kelas akan diisi dengan campuran anak baik, sedanmg dan kurang, maka deperlukan adanya informasi. Informasi yang demikian dapat diperoleh dengan cara evaluasi placement. Tes ini dilaksanakan pada awal tahun pelajaran untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa berkaitan dengan materi yang telah disampaikan.[9]
d)     Evaluasi Diagnostic
Evaluasi Diagnostic ialah suatu evaluasi yang berfungsi untuk mengenal latar belakang kehidupan (psikologi, phisik dan milliau) murid yang mengalami kesulitan belajar yang hasilnya dapat digunakann sebagai dasar dalam memecahkan kesulitan-kesulitan tersebut.








KESIMPULAN
1.      Evaluasi dalam pendidikan Islam merupakan cara atau teknik penilaian terhadap tingkah laku anak didik berdasarkan standar perhitungan yang bersifat komperehensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan mental-psikologis dan spiritual-religius, karena manusia bukan saja sosok pribadi yang tidak hanya bersikap religius, melainkan juga berilmu dan berketerampilan yang sanggup beramal dan berbakti kepada Tuhan dan masyarakatnya.
2.      Tujuan sistem pendidikan Islam:
a.       Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dialaminya.
b.      Untuk mengetahui sampai dimana atau sejauh mana hasil pendidikan wahyu yang telah diterapkan Rasulullah saw terhadap umatnya.
c.       Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat-tingkat hidup keislaman atau keimanan manusia, sehingga diketahui manusia yang paling mulia disisi Allah yaitu paling bertakwa kepadaNya, manusia yang sedang dalam iman dan ketakwaannya,manusia yang ingkar kepada ajaran Islam.
d.      Evaluasi untuk mengoreksi balasan amal perbuatan manusia
3.      Fungsi evaluasi pendidikan Islam adalah: Sebagai salah satu komponen penting dalam pelaksanaan pendidikan Islam, evaluasi berfungsi sebagai berikut: Untuk mengetahui sejauh mana efektifitas cara belajar dan mengajar yang telah dilakukan benar-benar tepat atau tidak, baik yang berkenaan dengan sikap pendidik/ guru maupun anak didik/murid.
4.      Evaluasi pendidikan Islam dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu evaluasi terhadap diri sendiri (self-evaluation) dan terhadap kegiatan orang lain (peserta didik).
5.      Macam-macam jenis evaluasi hasil belajar dalam proses belajar mengajar pendidikan agama di sekolah dapat dibedakan ke dalam: evaluasi formatif, sumatif, placemen, diagnotic.








DAFTAR PUSTAKA

Armei, Arief,Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers), 2002
Arifin, H.M.  Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara),  2008
Basyri, Hasan dan Beni, Ahmad Saebani, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010
Mujib, Abdul,  Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group), 2008
Zuhairini dkk,” Metodologi Penelitian Agama”, (Solo: Ramadhani),  1993







[2] H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008), hal. 162
[3] Ibid, hal. 163
[4] Arief, Armei, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 54-55
[5] H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, hal. 165
[6] Arief, Armai, Pengantar, hal. 58.
[7] Abdul, Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), hal. 215-216
[8] Zuhairini dkk,” Metodologi Penelitian Agama”, (Solo: Ramadhani, 1993), hal. 151
[9] Hasan, Basyri dan Beni, Ahmad Saebani, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010), hal. 210